<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408</id><updated>2011-10-17T10:21:47.535+07:00</updated><category term='Bahaya Bisphenol A'/><category term='Tips Organik'/><category term='daftar taman nasional'/><category term='Kisah-kisah Hijau'/><category term='alat-alat bisphenol A'/><category term='Tips Hemat Listrik'/><category term='Tips Hemat Energi'/><category term='Wana Patria'/><category term='Cermin'/><category term='taman nasional di Indonesia'/><category term='blonceng'/><title type='text'>Halaman Hijau</title><subtitle type='html'>Berita Lingkungan Hidup | Tips Lingkungan Hidup | Refleksi Lingkungan Hidup</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>61</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-8704087833191800668</id><published>2011-10-11T11:33:00.001+07:00</published><updated>2011-10-11T13:46:36.783+07:00</updated><title type='text'>Bahaya di Balik Buah Impor</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://v-images2.antarafoto.com/gec/1301303729/ekonomi%20dan%20bisnis-buah-impor-29.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://v-images2.antarafoto.com/gec/1301303729/ekonomi%20dan%20bisnis-buah-impor-29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;foto: antara&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Buah impor semakin membanjiri pasaran negeri kita. Durian Bangkok, Apel Fuji dan Australia, Jeruk Lokam, wah, pokoknya banyak benar. Tidak saja supermarket atau hipermarket saja yang menjualnya, namun juga pasar-pasar tradisional, pedagang buah pinggir jalan, sampai pedagang asongan. Tentu saja ini sesuai hukum permintaan dan penawaran. Kalau ada permintaan, pasti ada penawaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat negeri ini, seringkali lebih suka yang visual daripada yang esensial. Buah impor jelas saja secara visual lebih baik daripada buah lokal. Secara rasa pun, durian Bangkok, misalnya, lebih ampuh ketimbang durian lokal. Tapi dari segi kesehatan dan kemanfaatannya bagi tubuh, benarkah buah impor lebih baik? Benarkah tidak berbahaya dikonsumsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan peneliti dan tidak aksesibel terhadap data-data Badan Penelitian Obat dan Makanan negeri ini, tapi kita harusnya bertanya-tanya, kenapa jeruk impor yang sudah berbulan-bulan usianya masih tetap segar? Kenapa tampilannya halus dan sungguh menarik secara visual? Sedangkan buah-buahan lokal negeri ini kelihatan ndeso dan tidak menarik kalau dipajang di dekat buah-buahan impor itu. Tapi coba lihat, buah-buahan itu busuk secara alami. Tidak sampai berbulan-bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kabar yang menyebutkan, buah-buahan impor bisa mengkilap karena ditambahi zat lilin. Buah-buahan impor juga memiliki kandungan-kandungan zat kimia berbahaya. Dan buah-buahan impor yang secara visual bagus dan secara rasa lebih sip itu adalah tanaman transgenik. Tanaman transgenik diduga berbahaya bagi tubuh. Silakan browsing sendiri di internet soal ini.&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/node/143621"&gt;Di antaranya di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Anda yang menyukai buah-buahan impor, ini saya sempat browsing di internet tentang kandungan berbahayanya. &lt;a href="http://www.bsn.go.id/files/@LItbang/PPIS%202008/PPIS%20Jakarta/17%20-%20PERLUNYA%20STANDAR%20MUTU%20BUAH%20IMPOR.pdf"&gt;Penelitian ini&lt;/a&gt; cukuplah untuk membuktikan bahwa buah-buahan yang masuk di Indonesia sangat berisiko bagi kesehatan. (Herannya, kok bisa masuk ya ke Indonesia?). Untuk kawan-kawan yang memiliki penelitian seperti ini, yuk kita sharingkan.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah baca hasil-hasil penelitian seperti ini, harusnya kita sama sekali tidak berminat membeli atau mengonsumsi buah impor. Dan kita pun harusnya mencoba mempersuasi lingkungan sekitar kita untuk tidak mengonsumsi buah impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo kita dukung gerakan makan buah lokal yang alami dan menyehatkan tubuh. Dan sekali lagi, jangan terjebak yang visual. Kembalilah pada yang esensial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-8704087833191800668?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/8704087833191800668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=8704087833191800668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8704087833191800668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8704087833191800668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2011/10/bahaya-di-balik-buah-impor.html' title='Bahaya di Balik Buah Impor'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6503603076988077468</id><published>2011-10-10T15:16:00.001+07:00</published><updated>2011-10-10T15:17:32.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blonceng'/><title type='text'>Blonceng Liar di Kantor Milik Banyak Orang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vmgtcNg1-sM/TpKpK45_8DI/AAAAAAAAALc/EbVheWNf3ko/s1600/IMG00396-20111010-1331.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-vmgtcNg1-sM/TpKpK45_8DI/AAAAAAAAALc/EbVheWNf3ko/s320/IMG00396-20111010-1331.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tahu nama Latinnya Blonceng alias bligo alias labu air alias buah kundur? Saya biasa searching di google untuk masalah-masalah yang tidak saya ketahui. Namun untuk yang satu ini, saya belum menemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah Anda tahu apa itu blonceng atau tidak? Blonceng  itu labu, kulitnya berwarna hijau keras, dan berbentuk lonjong. Di pasar dekat rumah saya di Sidoarjo, sayur (atau buah?) ini mudah ditemukan. Harganya murah. Seperti harga pepaya. Saya biasa menambahkannya di rawon bikinan saya. Menurut saya, rawon yang ditambahi blonceng, jadi semakin sedap. Di samping tentu saja lebih sehat. Atau, saya juga biasa menumisnya, ditambahi daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blonceng yang saya sukai ini ternyata tumbuh di dekat ruangan tempat kerja saya di kantor. Sebelumnya saya belum pernah tahu, seperti apa rupa tumbuhan blonceng, meskipun suka mengonsumsinya. Tumbuhan ini menjalar subur di pagar kawat, di dekat bak penampungan air. Semula saya mengira, tumbuhan ini hanyalah semak-semak liar, jadi saya tak memperhatikannya lebih jauh. Namun, pada suatu pagi mata saya melihat melihat buah-buahnya menjadi besar, serupa dengan sayur (buah) yang biasa saya beli di pasar. Saya segera mengamati dan langsunng tanya salah satu staf lapangan di kantor saya, Pak Suroso, apakah tumbuhan itu blonceng? Pak Suroso langsung mengiyakan dan menceritakan segala hal yang berkaitan dengan tanaman yang saya sebut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pak Suroso, tanaman itu tumbuh dengan sendirinya sehingga kepemilikannya jadi kolektif. Buah blonceng itu ditunggu-tunggu kematangannya oleh beberapa kawan dan mereka bergantian memanen. "Meskipun harga di pasar murah, tapi kalau memanen sendiri kepuasannya lebih besar," ujar Pak Suroso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blonceng&amp;nbsp; liar yang buahnya lumayan lebat itu, kini oleh teman-teman juga dikembangbiakkan di tempat-tempat lain di sekitar kantor.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pak Suroso yang asal Malang Selatan dan suka bercocok tanam ini, Surabaya potensial untuk ditanami Blonceng karna tumbuhan menjalar ini bisa tumbuh di udara kering maupun basah. Tapi toh orang-orang kota yang punya halaman (taman) luas sekalipun, jarang mau memanfaatkan tanahnya untuk menanam sayuran di rumah, apalagi blonceng. "Mana ada orang kota mau menanam sayuran di halaman rumah? Lombok pun jarang ada yang menanam. Mungkin orang-orang kota merasa bisa membeli sehingga kalau bisa beli, kenapa susah-susah nanam?" kata Pak Suroso. &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar kata-kata Pak Suroso yang bersahaja ini. Jarang ada orang kota yang mau memanfaatkan lahannya untuk bertanam sayuran. Apa pun itu, apalagi blonceng. Orang baru ramai-ramai nanam cabe saat harga cabe naik. Dan saat harga cabe turun lagi, tanaman ini hilang dari halaman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal menanam sayuran di halaman rumah banyak manfaatnya. Dari segi kesehatan, jelas kita ingin mengonsumsi makanan sehat. Karena kita tahu bahaya zat kimia sintetes berbahaya, jelas sayuran yang kita tanam bebas dari bahan-bahan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayuran di pasar tradisional, apalagi di supermarket ataupun hypermarket, tak ada jaminan&amp;nbsp; bebas dari bahan kimia berbahaya itu, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ayo mulai kita tanam sayur di rumah sendiri. Bisa di dalam pot kok, nanamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6503603076988077468?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6503603076988077468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6503603076988077468' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6503603076988077468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6503603076988077468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2011/10/blonceng-liar-di-kantor-milik-banyak.html' title='Blonceng Liar di Kantor Milik Banyak Orang'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vmgtcNg1-sM/TpKpK45_8DI/AAAAAAAAALc/EbVheWNf3ko/s72-c/IMG00396-20111010-1331.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-5846398767468632854</id><published>2011-08-15T13:40:00.004+07:00</published><updated>2011-08-15T15:21:40.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Bahaya Rhodamin B di Sekitar Kita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-M4GqBdiG0OU/TkjVeXn-sVI/AAAAAAAAALY/Bsx2Dxy2mxk/s1600/DSC00679.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-M4GqBdiG0OU/TkjVeXn-sVI/AAAAAAAAALY/Bsx2Dxy2mxk/s200/DSC00679.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ini zaman sepertinya terus bergerak menuju zaman instan. Orang lebih  suka hasil daripada proses. Orang suka dengan kemudahan meski kemudahan  itu tidak mendatangkan maslahat pada akhirnya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya ingin cerita tentang penjual es campur di dekat rumah saya. Penjual itu selalu mewarnai nanasnya dengan warna kuning mencolok. Rumput laut yang  sebetulnya berwarna putih kusam, dia warnai jadi hijau. Sedangkan  kolang-kaling yang berwarna putih jadi merah. Sirup untuk es campur pun  berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa diwarnai? "Kalau &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; dikasih warna seperti ini &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt;  laku, Mbak," katanya.&lt;br /&gt;"Lo, memangnya pernah nyoba, menjajakan es campur &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; dikasih warna?" tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak pernah &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt;, Mbak. Tapi siapa &lt;i&gt;to&lt;/i&gt; yang mau beli dagangan saya kalau warnanya nggak cerah," kilahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat-zat pewarna itu dia dapatkan dengan mudah di toko. "Dosis pakainya terserah, yang penting nyolok," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual tersebut tidak mau susah-susah mencari daun suji untuk efek  warna hijau ataupun secang untuk warna merah, misalnya.Padahal Tuhan menganugerahkan bermacam-macam tanaman seperti daun suji dan secang yang bisa dipakai  sebagai pewarna alami makanan dan minuman. Namun dia  lebih mempercayai bahan makanan kimia sintetis pabrikan daripada yang  alami. Padahal, sudah jelas yang sintetis berbahaya bagi kesehatan.  Apalagi kalau menumpuk dalam tubuh dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah kita berpikir, berapa banyak bahan-bahan pewarna  sintetis yang masuk ke tubuh kita kalau kita sering membeli es campur  yang seperti ini. Belum lagi kalau pewarna sintetis tersebut merupakan  rhodamin B.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhodamin B, menurut &lt;a href="http://easy4test.blogspot.com/2010/08/zat-kimia-rhodamin-b-dalam-makanan.html"&gt;situs ini&lt;/a&gt; merupakan pewarna  sintetis yang berasal dari metanlinilat dan dipanel alanin yang  berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan  dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang  pada konsentrasi rendah. Rhodamin B sering diselahgunakan untuk pewarna  pangan (kerupuk,makanan ringan,es-es dan minuman yang sering dijual di  sekolahan) serta kosmetik dengan tujuan menarik perhatian konsumen. Rhodamin  B dan Methanyl Yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang  dilarang penggunaannya dalam makanan (Peraturan Menkes No.1168/Menkes/  PER/ X/ 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji coba pada tikus yang diberi  Rhodamin B selama satu minggu menunjukkan adanya pembesaran organ berupa  peningkatan berat hati, ginjal, dan limpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat mengenali  ciri makanan yang menggunakan Rhodamin B, yaitu biasanya makanan yang  diberi zat pewarna ini lebih terang atau mencolok warnanya dan memiliki  rasa agak pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski penyadaran demi penyadaran tentang efek negatif rhodamin B terus didengungkan, namun toh masih banyak konsumen yang abai tentang hal ini. Sekolah-sekolah tetap memperbolehkan anak didiknya untuk mengonsumsi minuman berwarna mencolok yang dijual di muka pintu gerbang sekolah. Ibu-ibu lebih menyukai terasi yang warnanya merah mencolok ketimbang yang alami. Anak-anak kita makan sosis yang berwarna mencolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penjual pun tenang-tenang saja dan tidak merasa berdosa meracuni konsumen-konsumennya dengan produk-produk yang mengandung rhodamin B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawasan untuk ini? Entahlah kenapa para pengawas masih bisa tidur nyenyak di saat banyak makanan dan minuman mengandung rhodamin B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, kalau ini boleh disebut kekhilafan, berarti ini kekhilafan berjamaah. Astaga! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; ingin ikut jamaahnya, kita nggak usah mengonsumsi makanan-makanan yang nggak sehat. Juga, kita bisa ikut dalam gerakan penyadaran untuk hal ini, sekecil apa pun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-5846398767468632854?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/5846398767468632854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=5846398767468632854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5846398767468632854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5846398767468632854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2011/08/bahaya-rhodamin-b-di-sekitar-kita.html' title='Bahaya Rhodamin B di Sekitar Kita'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-M4GqBdiG0OU/TkjVeXn-sVI/AAAAAAAAALY/Bsx2Dxy2mxk/s72-c/DSC00679.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6223987412175620116</id><published>2011-08-10T14:07:00.001+07:00</published><updated>2011-08-10T14:24:39.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahaya Bisphenol A'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='alat-alat bisphenol A'/><title type='text'>Bisphenol A, Bahaya atau Tidak?</title><content type='html'>&lt;b&gt;Bisphenol A (BPA) naik daun beberapa waktu lalu saat beberapa negara melarang pemakaian bahan ini untuk botol susu. Dr.Ir.Yadi Haryadi,Msc., dari Departemen Teknologi dan Ilmu Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Bayi-Kita/message/38143"&gt;banyak menjelaskan tentang hal ini&lt;/a&gt;:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BPA merupakan bahan kimia dengan rumus kimia C15H16O2 yang banyak digunakan, antara lain untuk pembuatan plastik poli karbonat, resin epoksi pelapis bagian dalam kaleng, dan bagian dalam tutup botol logam, pembuatan plastik vinil klorida (PVC), komponen penambal dan pelapis gigi, bahan anti api, dan karton atau kertas daur ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus botol susu bayi, plastik poli karbonat (bahan olahan BPA) inilah yang kemudian diolah menjadi&lt;br /&gt;botol susu bayi. Kita lihat, botol warna bening dari plastik poli karbonat itu terkenal tahan pecah, tahan panas, dan bisa dibentuk bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain botol susu bayi plastik poli karbonat itu dijadikan bahan untuk membuat cakram padat (compact disc) dan alat-alat kesehatan. Bila dicampur dengan bahan lain, plastik poli karbonat dapat digunakan pula untuk membuat bagian-bagian telepon selular, alat-alat rumah tangga, dan beberapa bagian komponen mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang-barang yang mengandung BPA biasanya ditandai dengan angka 7 didalam logo tiga tanda panah melingkar. Bahan yang mengadung BPA tetapi dikategorikan aman untuk alat konsumsi (food grade), biasanya diberi tanda tambahan yaitu gambar gelas dan garpu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, konsumen akhir selalu dibuat bingung oleh rekomendasi-rekomendasi hasil penelitian. Ada yang bilang BPA aman, ada yang bilang tidak aman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BPA dianggap sebagai bahan kimia yang menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan manusia, antara lain mengganggu fungsi hormon yang berkaitan dengan sistem reproduksi, menyebabkan kanker, dan gangguan pertumbuhan janin dan bayi. Kontak manusia dengan BPA dapat terjadi melalui beberapa jalan, antara lain melalui makanan, udara, debu dan air. Namun&amp;nbsp; BPA bisa diuraikan dengan cepat dan efsien menjadi&lt;br /&gt;metabolit yang dibuang keluar tubuh. Artinya BPA tidak akan berakumulasi didalam tubuh. Ambang batas BPA yang dapat ditoleransi tubuh adalag 50 mikrogram/kg berat badan/hari. Artinya, ambang batas toleransi BPA itu sangat tinggi. Menurut European Food Safety Authority (EFSA) dan Environmental Protection Agency (EPA), seseorang baru akan sakit jika mengosumsi sekitar 250 gr bahan pangan yang terkontaminasi BPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi bahwa BPA berbahaya dilakukan oleh Dr.Patricia Hunt, ahli bioscience dari Amerika Serikat. Studi yang dipublikasikan di Current Biology ini mengatakan BPA menyebabkan perubahan kromosom di telur tikus percobaan. Dr.Hunt mengatakan studi itu hanyalah riset permulaan dan belum ada bukti bahwa penelitian terhadap tikus itu ada relevansinya dengan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Department of Chemistry, Faculty of Science, National University of Singapore, BPA adalah bahan kimia yang bekerja sebagai endokrin pengganggu. Dosis yang kecil sekalipun, menurut penelitian itu akan menyebabkan kelainan. Pada laki-laki, bahaya yang mungkin&lt;br /&gt;terjadi adalah menurunnya produksi sperma, penambahan berat prostas dan kanker testis. Sedangkan pada perempuan, endokrin pengganggu itu dapat menyebabkan infertilitas dan kanker payudara. Janin dan bayi baru lahir juga paling rentan kena bahaya. Bahaya yang mungkin terjadi adalah kacaunya keseimbangan hormon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli yang penasaran dengan penelitian Dr.Hunt itu kemudian melakukan studi lanjutan. Menurut Dr.Yadi, studi terbaru itu menghasilkan data yang bertentangan dengan penelitian itu. Demikian hasilnya:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;BPA tidak menimbulkan perubahan perilaku anak tikus sampai konsumsi 640mg/kg bobot badan/hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BPA tidak mengganggu fertilitas tikus betina sampai konsumsi 600 mg/kg bobot badan/hari. - BPA tidak menimbulkan gangguan prostas sampai konsumsi 470 mg/bobot badan/hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BPA tidak menimbulkan kanker prostat sampai konsumsi 600 mg/kg bobot badan/hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BPA sama sekali tidak mengganggu masa pubertas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Penelitian terkini juga membuktikan bahwa BPA tidak akan menimbulkan kanker, tidak mengganggu sistem reproduksi dan sistem kelenjar. Namun, sampai sejauh ini peneliti masih melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh BPA terhadap perkembangan otak, perilaku, dan kelenjar prostat pada jkanin, bayi, dan&lt;br /&gt;anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penelitian belum final, perdebatan tentang keamanan BPA terus berlangsung. Jadi wajar saja bila masyrakat kebingungan harus mepercayai yang mana. Untuk mengakhiri perdebatan itu, pemerintah di berbagai negara mengambil keputusan tegas. Di Kanada, pemerintah melarang semua produk kemasan yang mengandung BPA, di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang memperbolehkan produk itu tetap dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan tentu ada di kita konsumen, apakah mau memanfaatkan bahan yang mengandung bisphenol atau tidak. Kalau saya mending tidak memakai botol bayi yang mengandung BPA. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6223987412175620116?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6223987412175620116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6223987412175620116' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6223987412175620116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6223987412175620116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2011/08/bisphenol-bahaya-atau-tidak.html' title='Bisphenol A, Bahaya atau Tidak?'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7378823178540797843</id><published>2011-08-10T13:13:00.000+07:00</published><updated>2011-08-10T13:13:44.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daftar taman nasional'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taman nasional di Indonesia'/><title type='text'>Daftar Taman Nasional di Indonesia</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; 						&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt; 		&lt;a href="http://acil.menlh.go.id/index.php/iptek3?format=pdf" rel="nofollow" title="PDF"&gt;&lt;img alt="PDF" src="http://acil.menlh.go.id/templates/magazine_plazza/images/pdf_button.png" /&gt;&lt;/a&gt;		&lt;/td&gt; 		 				&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt; 		&lt;a href="http://acil.menlh.go.id/index.php/iptek3?tmpl=component&amp;amp;print=1&amp;amp;page=" rel="nofollow" title="Cetak"&gt;&lt;img alt="Cetak" src="http://acil.menlh.go.id/templates/magazine_plazza/images/printButton.png" /&gt;&lt;/a&gt;		&lt;/td&gt; 		 				&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt; 		&lt;a href="http://acil.menlh.go.id/index.php/component/mailto/?tmpl=component&amp;amp;link=aHR0cDovL2FjaWwubWVubGguZ28uaWQvaW5kZXgucGhwL2lwdGVrMw%3D%3D" title="Surel"&gt;&lt;img alt="Surel" src="http://acil.menlh.go.id/templates/magazine_plazza/images/emailButton.png" /&gt;&lt;/a&gt;		&lt;/td&gt; 					&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 	&lt;td valign="top"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="createdate" valign="top"&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;T&lt;span style="font-family: inherit; font-size: small;"&gt;AMAN NASIONAL &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;adalah  kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan  sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu  pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi  (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990). Berikut ini daftar taman nasional di Indonesia yang bersumber dari &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;www.dephut.go.id&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="color: #330066; font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;TAMAN NASIONAL DI PULAU SUMATERA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Leuser&lt;br /&gt;Siberut&lt;br /&gt;Kerinci Seblat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bukit Tigapuluh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bukit Duabelas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Berbak&lt;br /&gt;Sembilang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bukit Barisan Selatan&lt;br /&gt;Way Kambas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Batang Gadis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Tesso Nilo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #330066; font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;TAMAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #330066; font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; NASIONAL DI PULAU JAWA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Ujung Kulon&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Kepulauan Seribu&lt;br /&gt;Gunung Halimun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Gede Pangrango&lt;br /&gt;Karimunjawa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bromo Tengger Semeru&lt;br /&gt;Meru Betiri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Baluran&lt;br /&gt;Alas Purwo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merapi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merbabu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Ciremai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="color: #330066; font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;TAMAN NASIONAL DI BALI DAN NUSA TENGGARA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bali Barat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Rinjani&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Komodo&lt;br /&gt;Manupeu Tanah Daru&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Laiwangi Wanggameti&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Kelimutu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="color: #330066; font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;TAMAN NASIONAL DI PULAU KALIMANTAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Palung&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Danau Sentarum&lt;br /&gt;Betung Kerihun&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bukit Baka-Bukit Raya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Tanjung Puting&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Kutai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Kayan Mentarang&lt;br /&gt;Sebangau&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="color: #330066; font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;TAMAN NASIONAL DI PULAU SULAWESI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bunaken&lt;br /&gt;Bogani Nani Wartabone&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Lore Lindu&lt;br /&gt;Taka Bonerate&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Rawa Aopa Watumohai&lt;br /&gt;Wakatobi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Kepulauan Togean&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Bantimurung – Bulusaraung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="color: #330066; font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;TAMAN NASIONAL DI MALUKU DAN PAPUA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Manusela&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Aketajawe - Lolobata&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Teluk Cendrawasih&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Lorentz&lt;br /&gt;Wasur&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 8pt; line-height: 150%;"&gt;Sumber: http://www.dephut.go.id/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7378823178540797843?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7378823178540797843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7378823178540797843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7378823178540797843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7378823178540797843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2011/08/daftar-taman-nasional-di-indonesia.html' title='Daftar Taman Nasional di Indonesia'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-4227758401001652680</id><published>2011-07-28T11:29:00.001+07:00</published><updated>2011-07-28T11:31:16.001+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips Hemat Listrik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips Hemat Energi'/><title type='text'>Hemat Energi di Kantor</title><content type='html'>Kendati wacana hemat energi seringkali didengang-dengungkan di seantero negeri ini, tapi tetap saja di tingkat praktik keseharian, banyak yang mengabaikannya. Entah di rumah ataupun di perkantoran. Kali ini saya ingin bercerita tentang hemat energi di perkantoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; punya data, berapa persen dari perkantoran di negeri ini yang karyawannya berbudaya ramah lingkungan di kantor. Namun kalau boleh saya katakan, dari pengalaman saya berkunjung ke berbagai kantor, umumnya kesadaran hemat energi belum sampai mendarah daging. &lt;br /&gt;Siang-siang banyak kantor yang menyalakan lampunya. Belum lagi pemakaian AC, komputer yang tidak dimatikan meski tidak dipakai, konsumsi kertas yang berlebihan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah institusi besar di Jawa Timur, saya dapati para karyawan tidak merasa menghambur-hamburkan energi. Tak cuma level staf biasa yang sering menyalakan dan meninggalkan laptop di mejanya dalam kondisi hidup berjam-jam. Pemimpinnya, baik pemimpin puncak maupun para manajer dan supervisornya pun berlaku sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya yakin, mereka tahu bahwa minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang dikatakan  sebagai bahan bakar fosil diperkirakan akan habis 30 tahun lagi, bahan  bakar gas habis dalam kurun waktu 70-80 tahun, dan bahan bakar padat 120  tahun lagi. Bahan bakar fosil adalah sumber daya tak terbarukan karena perlu jutaan tahun untuk terbentuk.Sumber yang ada saat ini lebih cepat habis ketimbang terbentuk yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mereka juga tahu, ada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2008, revisi  dari Inpres Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi, yang  menginstruksikan kepada pimpinan lembaga pemerintahan baik pusat maupun  daerah untuk melakukan langkah-langkah dan inovasi penghematan energi  dan air di instansi masing-masing. Upaya itu di antaranya terkait  penghematan lampu penerangan, pendingin udara, dan peralatan yang  menggunakan energi listrik, bahan bakar minyak, atau gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, apa institusi-institusi memiliki semacam panduan (SOP) untuk melakukan penghematan energi. Dan kalaupun memiliki SOP, apakah SOP itu diterapkan sungguh-sungguh? Bagaimana dengan kantor Anda? Apakah Anda termasuk staf yang mendukung gerakan hemat energi untuk kantor Anda, atau Anda apatis dengan hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ada tips-tips hemat listrik di kantor yang saya transfer dari &lt;span class="fullpost"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Booklet Hemat Listrik Di Kantor&lt;/span&gt;" oleh &lt;a href="http://www.energyservices.co.id/"&gt;PT. Energy Management Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Lampu dalam ruangan&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Matikan lampu bila ruangan tidak digunakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pergunakan lampu hemat energi (LHE), kurangi penggunaan lampu bohiam/pija r.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Instalasikan penerangan dengan Iebih banyak sakiar sehinggamudah untuk mengatur pemakaianlampu sesuai kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buka gorden atau tirai di siang han hingga penerangan alami bisa digunakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersihkan lampu yang berdebu, karena debu bisa mengurangi tingkat pen era ng an.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pergunakan warna muda/cerah untuk dinding dan langit-langit.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atur perabotan dengan baik agar tidak menghalangi cahaya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;B.Lampu luar ruangan&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Nyalakan lampu taman, apabila han benar-benar mulai gelap. Ada baiknya untuk menggunakan sensor cahaya otomatis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prioritaskan lampu-lampu pada area luar ruangan yang perlu dinyalakan dan segera matikan kembali bila han menjelang pagi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Instalasikan listrik dengan Iebih banyak sakiar sehingga mudah untuk mengatur pemakaian lampu sesuai kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&amp;nbsp;Tips menghemat listrik pada penggunaan kulkas&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pintu kulkas harus ditutup rapat, buka jika perlu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atur suhu kulkas sesuai kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan memasukkan makanan dan minuman yang masih panas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tempatkan kulkas jauh dan sumber panas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Tips menghemat listrik pada penggunaan AC&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Matikan AC bila ruangan tidak dipergunakan dalam waktu Iama&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nyalakan AC 1 jam sesudah jam kerja dimulai dan matikan AC 1 jam sebelum jam kerja berakhir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tutup pintu dan jendela jika AC sedang menyala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atur suhu AC sesuai kebutuhan, sekitar 23-25°C, semakin dingin suhu semakin besar konsumsi listriknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pergunakan kaca film pada jendela ruangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakan timer untuk mengatur pemakaian agar sesuai kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersihkan AC secara berkala.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Tips menghemat listrik pada penggunaan mesin fotocopy&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pergunakan fungsi “energy saver” pada mesin fotocopy jika mesin tidak dig u n a ka n.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Langsung matikan mesin (tombol power off atau cabut stop kontak) jika tidak digunakan dalam waktu yang sangat lama, misalkan pada jam istirahat atau jam pulang kantor.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&amp;nbsp;Tips menghemat listrik pada penggunaan peralatan audio video&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Atur volume sesuai kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebaiknya matikan alatjika tidak digunakan, hindari penggunaan “standby mode”.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika tersedia, pergunakan fungsi timer sebaik-baiknya untuk mengatur pemakaian peralatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bila perlu, gunakan stop kontak dengan sakiar on/off, agar lebih mudah mematikan peralatan listrik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&amp;nbsp;Tips menghemat listrik pada penggunaan komputer dan printer&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Matikan layar monitor apabila istirahat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hindari penggunaan screensaver, karena akan merubah setting layar monitor untuk selalu aktif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pergunakan resolusi display dan brightness yang rendah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pergunakan wallpaper dengan warna hitam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atur “Power Setting” agar monitor dapat menset power “off’ secara otomatis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Matikan komputer (CPU) dan monitor bila tidak digunakan dalam waktu lama.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Tips menghemat listrik pada penggunaan pompa air&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Gunakan pompa air untuk mengisi penampungan (tandon), bukan untuk mengalirkan air ke dalam kamar mandi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakan pelampung air otomatis sehingga aliran listrik akan terputus dan pompa berhenti bekerja bila bak sudah penuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Matikan pompa air bila tidak digunakan, terutama di luar jam kerja atau han libur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batasi penggunaan pompa air untuk utilitas seperti air mancur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada baiknya untuk memeriksa instalasi saluran air, terutama untuk menghindari kebocoran air.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-4227758401001652680?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/4227758401001652680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=4227758401001652680' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4227758401001652680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4227758401001652680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2011/07/hemat-energi-di-kantor.html' title='Hemat Energi di Kantor'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-324542008230424973</id><published>2010-12-03T11:10:00.007+07:00</published><updated>2010-12-03T12:31:34.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Sejarah Kota Gresik Abad Kolonial dalam Arsip Keluarga Kemasan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="background-color: white; float: left; font-family: inherit; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TPhs2kiFyeI/AAAAAAAAAKc/m9bnPxjUkMA/s1600/oemar+zainuddin+di+Blog+Alpha+Savitri.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TPhs2kiFyeI/AAAAAAAAAKc/m9bnPxjUkMA/s200/oemar+zainuddin+di+Blog+Alpha+Savitri.jpg" width="173" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Oemar Zainuddin&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Beberapa waktu lalu, saat singgah di Kampung Kemasan Gresik, 3 km dari alun-alun Gresik, aku mengenal seorang tokoh kampung tersebut yang juga peminat masalah budaya, yakni Oemar Zainuddin. Pak Oemar, begitu aku memanggilnya, seorang lelaki paruh baya yang juga berprofesi sebagai pendidik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Ia cerita tentang visi dan idealismenya yang antara lain ingin merevitalisasi kejayaan Kampung Kemasan Gresik, kampung yang dicintainya. Kampung Kemasan Gresik memang pernah berjaya pada sekitar abad ke 19-an. Kini sisa-sisa kejayaannya masih tampak lewat bangunan-bangunan megah di kampung ini, yang merupakan campuran antara citarasa kolonial Belanda dan Cina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;"Banyak wisatawan yang ke Gresik datang ke kampung ini, melihat bangunan-bangunan di sini. Baik sejarah maupun bukti-bukti peninggalan Kampung Kemasan ini merupakan aset bagi Gresik, ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sebagai orang yang cinta kampung halaman yang membesarkannya, kini ia terus berupaya mengumpulkan bukti-bukti kesejarahan kampung tersebut. Ia mengumpulkan satu demi satu arsip-arsip kuno keluarganya.Ya, bukankah arsip pun bisa bicara. Bisa cerita tentang sebuah masa. Ternyata arsip tersebut sungguh berharga, tidak hanya untuk Kampung Kemasan Gresik, namun juga&amp;nbsp; secara luas juga untuk Kota Gresik.&amp;nbsp; Dari arsip itulah, kita tahu bagaimana perkembangan Kota Gresik di masa kolonial Belanda. Kita juga tahu, ternyata pribumi Gresik sangat tangguh saat itu, dan bisa dijadikan teladan untuk generasi muda kota Gresik saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="color: black; float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TPhymQHwpoI/AAAAAAAAAKg/KzYrDv_6d2I/s1600/oemar+zainuddin3.blog+alpha+savitri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TPhymQHwpoI/AAAAAAAAAKg/KzYrDv_6d2I/s320/oemar+zainuddin3.blog+alpha+savitri.jpg" width="215" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;sejarah gresik, buku oemar zainuddin&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Kini arsip-arsip tersebut dibukukan oleh Oemar Zainuddin lewat buku: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial, Budaya, dan Ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Buku tersebut diterbitkan penerbit Ruas, Depok, tahun 2010. Oemar Zainuddin menuangkan pokok-pokok pikirannya dalam buku tentang Gresik pergantian abad ke-20 tersebut, bertolak dari arsip-arsip kuno, sepanjang tahun 1896-1916. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Arsip-arsip yang ditampilkan dalam buku tersebut banyak berbicara tentang sebuah keluarga di Gresik, yang sampai kini lazim disebut “Keluarga Kemasan”, dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi, sosial dan budaya Kota Gresik masa itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Arsip tersebut berupa surat-surat niaga, laporan keuangan, foto-foto, dan formulir pajak. Tidak hanya ditulis dalam huruf latin berbahasa Indonesia, namun juga beberapa ditulis dalam bahasa Arab Pegon. Ada pula formulir berhuruf Jawa. Sebagai pelengkap, wawancara dengan sumber terkait juga dilakukan penulis. Tak lupa data-data sekunder dari berbagai buku dan penelitian tentang Gresik juga disertakan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Oemar Zainuddin merupakan Generasi keempat dari H. Oemar Akhmad, saudagar yang memiliki usaha sarang burung wallet dan &amp;nbsp;toko kulit &amp;nbsp;yang kemudian jadi cikal bakal industri kulit di Gresik. H. Oemar Akhmad memiliki lima putra yang kemudian mewarisi bisnisnya di bidang perkulitan, yakni Asnar, H. Djaelan, H. Achmad Djaenoeddin, H. Moeksin, dan H. Abdul Gaffar. Penulis buku ini yakni Oemar Zainuddin merupakan cucu H. Achmad Djaenoeddin, putra ketiga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Ketenaran keluarga ini sampai ke luar Gresik bahkan sampai ke Batavia, antara lain bisa dibuktikan dari arsip-arsip surat pos yang datang dari berbagai kota di Indonesia yang rata-rata hanya mencantumkan nama salah satu dari lima bersaudara tersebut tanpa alamat, kecuali pencantuman Kota Grissee, namun selalu sampai. Kejayaan keluarga ini juga masih bisa dilihat kini dari rumah-rumah megah campuran gaya Kolonial dan Cina di Kampung Kemasan Gresik, yang usianya lebih dari satu abad. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan tukang pilihan yang berasal dari, imigran dari Cina yang sangat ahli membuat bangunan. Meski bangunan di Kampung Kemasan Gresik tidak sedikit yang juga megah, namun dominasipilar-pilar &amp;nbsp;Eropa, warna merah, dan ornamen Cina merupakan ciri khas bangunan milik keluarga ini. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Semula, H. Oemar Akhmad, ayah lima bersaudara tersebut, sekalipun sukses berdagang kulit, namun ia belum punya pabrik kulit. Karena usia, ia mengundurkan diri dari dunia bisnis tahun 1896. Sebuah pabrik penyamakan kulit, yakni Pabrik Kulit Kemasan dibangun lima bersaudara anak H. Oemar Akhmad selang dua tahunan berkiprah meneruskan usaha sang ayah. Modalnya, selain dari keuntungan toko kulit, juga dari hasil usaha wallet yang juga dirintis H. Oemar Akhmad.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Ditangangi serius, Pabrik Kulit Kamasan sangat maju. Kliennya dari berbagai kota. Tidak hanya kota-kota di Jawa Timur, namun juga berbagai wilayah di berbagai penjuru Indonesia. Ada pula perusahaan asal Jepang yang menjadi klien Pabrik Penyamakan Kulit Kemasan. Yang menarik, Raja Solo juga menjadi klien fanatik perusahaan kulit ini, dalam salah satu arsip foto yang disertakan dalam buku, mengunjungi rumah Haji Djaelan dan berfoto bersama Keluarga Kemasan. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Kesuksesan lima bersaudara ini di samping menjadi kebanggaan bagi warga Kota Gresik, juga berpengaruh luas pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya Kota Gresik pada umumnya. Di bidang ekonomi, berdirinya pabrik penyamakan kulit yang besar mampu mendorong kewirausahaan masyarakat lokal. Perajin-perajin kulit bermunculan di sekitar Gresik karena pasokan kulit yang telah disamak melimpah. Kerajinan kulit dari Gresik sangat terkenal, di samping karena desainnya memikat, juga karena bahan kulit dari Gresik memiliki kualitas baik. Tidak hanya itu, keluarga ini juga berkontribusi memberikan semacam kredit bagi pengusaha-pengusaha yang menjadi klien-kliennya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TPhsbm9zQVI/AAAAAAAAAKY/5FbJ5jrniX8/s1600/oemar+zainuddin+2+di+blog+alpha+savitri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="147" src="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TPhsbm9zQVI/AAAAAAAAAKY/5FbJ5jrniX8/s200/oemar+zainuddin+2+di+blog+alpha+savitri.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Tidak hanya di bidang ekonomi keluarga ini berkontribusi bagi Gresik. Dalam bidang kebudayaan, keluarga ini berkiprah menggali dan melestarikan seni tradisional dengan mendukung even-even budaya masa itu. Dalam bidang pendidikan keluarga ini mendirikan kursus setingkat sekolah rakyat untuk anak-anak boemiputra secara gratis. Waktu itu, memang, sekolah Belanda (HIS) hanya menerima murid anak-anak orang Belanda, Cina, dan Bangsawan Kaya. Pelajaran yang ditekankan dalam sekolah gratis ini adalah membaca, menulis, berhitung dan membuat jajanan. Setelah menamatkan sekolahnya, diharapkan lulusan bisa mandiri mempraktikkan apa yang diajarkan di sekolah. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;Buku ini, menurutku sangat berharga bagi siapa pun yang menaruh minat pada sejarah Gresik, terutama sejarah kewirausahaan dan dunia usaha di Gresik. Sampai sekarang, Gresik antara lain terkenal pula memiliki banyak pengusaha kecil dan menengah yang tangguh dengan etos wirausaha yang kokoh. &amp;nbsp;Buku ini juga meruntuhkan anggapan bahwa perdagangan masa itu pastilah dikuasai etnis Cina dan Arab. Di Gresik, Pribumi pun sangat tangguh. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; color: black; font-size: 12pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-324542008230424973?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/324542008230424973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=324542008230424973' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/324542008230424973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/324542008230424973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2010/12/sejarah-gresik-dalam-arsip-arsip.html' title='Sejarah Kota Gresik Abad Kolonial dalam Arsip Keluarga Kemasan'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TPhs2kiFyeI/AAAAAAAAAKc/m9bnPxjUkMA/s72-c/oemar+zainuddin+di+Blog+Alpha+Savitri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7956828711435155140</id><published>2010-10-21T11:54:00.004+07:00</published><updated>2010-10-21T12:52:47.131+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Berandai-andai Gresik Jadi Kota Pariwisata, Penuh Turis</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TL_U0Z94xOI/AAAAAAAAAKE/njMxEv3A62I/s1600/100_4580edit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TL_U0Z94xOI/AAAAAAAAAKE/njMxEv3A62I/s320/100_4580edit.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TL_Meq3M1iI/AAAAAAAAAKA/pD0YaVoL86s/s320/_1119oke.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="212" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pariwisata memang seringkali mendongkrak kinerja ekonomi suatu wilayah, namun apakah juga berbanding lurus dengan pertumbuhan moral dan spiritual warga di wilayah tersebut? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Lumrah memang, di negara mana pun, khususnya negara miskin, pariwisata dianggap primadona. Sebuah wilayah yang banyak dikunjungi wisatawan, terutama wisatawan asing, akan banyak memperoleh keuntungan finansial bagi warganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Bahkan di negara ini, kini banyak wilayah bersolek sebersolek-bersoleknya agar tamu betah tinggal. Banyak buku-buku, majalah dan web wisata berlomba menampilkan keunikan suatu objek dan kawasan. Seringkali aku merasa, banyak yang kebablasan dalam promosi. Saat aku tertarik dan berkunjung, ternyata apa yang senyatanya tidak sesuai dengan promosinya. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Ini, aku pengen berkisah tentang sebuah wilayah yang menurutku masih “asli” dan tampil apa adanya, tidak dibuat-buat. Warganya ramah, bersahaja, dan terbuka. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kami bertiga, aku, Isabel Gonzalez Rojo, dan Made Wirya dipertemukan dalam minat yang sama. Sama-sama menyukai lingkungan hidup, sejarah dan budaya. Isabel yang Warga Negara Spanyol ini pernah melanglang buana di berbagai negara sebelum akhirnya jatuh cinta pada Surabaya yang katanya memberi keramahan batin padanya. Made Wirya, waktu senggang ia pakai untuk berburu barang antik dan membuat film. Aku sendiri suka mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk tulisan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Pernah kami bertiga melewatkan waktu seharian, khusus untuk merasakan “aura” Kota yang berbatasan dengan Surabaya bagian Utara, yakni Gresik, April lalu. Aku dan Isabel bukan warga Gresik. Made yang warga Gresik lebih banyak bertindak sebagai “pemandu” kami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Selama beberapa jam kami putar-putar: ngobrol bareng warga, mengunjungi Kota Lama Gresik yang penuh bangunan bersejarah. Kami juga mengunjungi kompleks makam yang mulia Sunan Giri. Lantas melihat-lihat industri kecil, juga ngopi di sebuah warung kecil yang kopinya terkenal enak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Oh ya, kami kunjungi juga Kampung nelayan Lumpur yang tampak sangat berjiwa. Sangat hidup. Semua tubuh lelakinya liat. Perempuannya pun pekerja keras. Hingga seolah tak satu menit pun mereka lewati dengan berpangku tangan. Di Lumpur pula kami juga mengunjungi kediaman Nur Hasyim, pembaca macapat pesisiran, yang bersahaja dan membuat kami nyaman di rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Hanya berkeliling sehari saja, namun kami punya pendapat sama. Gresik – yang sebelum ini juga &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; masuk dalam referensi minatku untuk berkunjung – ternyata menyimpan pesona luar biasa. Inilah yang kami cari. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;“I’ll be back here,” janji Isabel sore itu saat meninggalkan kota santri tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sejak kunjungan itu, kami bertiga tenggelam dalam kesibukan rutin. Isabel terbang ke Kamboja. Made dengan pekerjaannya. Namun sesekali Made dan warga Gresik yang kukenal saat kunjungan singkat April itu senantiasa menghubungiku bila ada even-even budaya di Gresik. Aku sempat mendatangi Kaul Sindujoyo, Macapatan, kembali sharing dengan Nur Hasyim dan keluarga, juga ngobrol dengan Oemar Zainuddin, penulis buku &lt;i&gt;Kota Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial Budaya dan Ekonomi&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Ya, kunjungan April itu memang titik tolak kami – khususnya aku dan Isabel –dalam memandang Gresik. Bahwa kota pelabuhan ini tidak lagi kami anggap sebagai &lt;i&gt;nothing&lt;/i&gt;, namun &lt;i&gt;something unique&lt;/i&gt;. Sebuah kota kecil yang menginspirasi. Panas terik wilayah ini tak berarti dibandingkan dengan kejernihannya yang bagai air zamzam, pelepas dahaga hati. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Diskusi Bareng Komunitas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Isabel kembali mengunjungi Surabaya Oktober ini. Ia memenuhi janjinya untuk kembali ke Gresik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Aku, Isabel, dan Made Wirya kembali bertemu dalam even diskusi informal di rumah Oemar Zainuddin di Kampung Kemasan. Gresik Lovers yang hadir tak hanya dari Gresik. Mereka terdiri dari wakil komunitas, guru, budayawan, pemerintah, wakil dari kawasan Malik Ibrahim, dll. Ada juga partisipan dari kalangan perguruan tinggi di Surabaya, ITS dan Untag. Kami semua &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt; perkembangan Gresik. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sharing yang cukup mengemuka dalam diskusi informal sepanjang 3 jam itu antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Mungkinkah Gresik ditetapkan Unesco menjadi Warisan Budaya Dunia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Bagaimana meningkatkan kecintaan masyarakat Gresik terhadap budayanya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Action apa yang harus dilakukan untuk memprkenalkan Gresik? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Isabel menjadi semacam &lt;i&gt;guest star&lt;/i&gt;. Maklum saja, dia nggak hanya cantik, namun &lt;i&gt;smart&lt;/i&gt;. Lebih-lebih lagi, ia pernah menjadi staf Unesco Kamboja. Sangat klop bila menjadi narasumber tepercaya malam itu. Kawan baikku ini cukup jernih mengungkapkan buah-buah pikirannya dalam sharing tersebut. Ia merinci syarat apa saja yang harus dipenuhi demi gelar “Warisan Sejarah Dunia”. Ada istilah &lt;i&gt;man heritage, underwater heritage, tangible heritage, dan intangible heritage&lt;/i&gt;. Di mata Isabel, Gresik berkemungkinan besar memenuhi kriteria untuk menjadi warisan sejarah dunia. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Namun, Isabel mengajak para partisipan diskusi untuk merenung. Apakah gelar Warisan Sejarah Dunia benar-benar diinginkan? Sudah siapkah masyarakat Gresik? “Masalahnya, saya banyak melihat, wilayah-wilayah Warisan Sejarah Dunia mengalami banyak perubahan, baik sosial, kultur, maupun spiritual,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;“Misalnya di Macau, Cina, sejak ditetapkan menjadi Warisan Sejarah Dunia, saya melihat di mana-mana turis. Perubahan begitu drastis di sana,” kata master humanitarian dari universitas terkemuka di Australia. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Namun Isabel menyatakan, bila memang menginginkan Gresik didaftarkan sebagai warisan sejarah dunia, biarlah administrasi untuk hal tersebut tetap dipenuhi. Tapi tanpa gelar itu pun semua yang hadir dalam diskusi memiliki tanggung jawab untuk mempertinggi kesadaran warga Gresik agar lebih mencintai kultur baik yang dibangun di Gresik selama berabad-abad. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sesungguhnya April lalu, kami bertiga di sebuah warung kopi di Gresik sudah mendiskusikan masalah ini. Isabel secara pribadi, lebih suka sebuah wilayah tetap asli. Tanpa disulap-sulap, apalagi demi pariwisata. “Saya nggak tahu, apakah Vitri masih senang ke Gresik bila kota ini dipenuhi turis?” tanyanya padaku sambil menyeruput kopinya di warung di pusat kota Gresik siang itu. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;*alpha savitri&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7956828711435155140?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7956828711435155140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7956828711435155140' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7956828711435155140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7956828711435155140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2010/10/berandai-andai-gresik-jadi-kota.html' title='Berandai-andai Gresik Jadi Kota Pariwisata, Penuh Turis'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TL_U0Z94xOI/AAAAAAAAAKE/njMxEv3A62I/s72-c/100_4580edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-434596055303659302</id><published>2010-10-15T16:05:00.003+07:00</published><updated>2010-10-15T16:07:47.650+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips Organik'/><title type='text'>Apa Itu: Reduce, Reuse, Recycle</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TLgYfYz9LuI/AAAAAAAAAJk/aCw882aw0PI/s200/DSCN5516.JPG" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="200" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto: Dok. Pusdakota Ubaya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Banyak cara dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan. Di antaranya Reduce, Reuse, dan Recycle. Mungkin kita sudah kenal istilah ini. Namun apakah dalam praktik keseharian kita menjalankannya? Karena, sayang bila kita hanya mengenalnya di tataran pikiran, namun tidak sampai pada perbuatan. Ini sama halnya dengan pegiat lingkungan yang melakukan demo akan kerusakan lingkungan, namun membuang sampah plastik di tempat demo, seolah semua tempat di dunia ini keranjang sampah.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sini saya menampilkan foto dokumentasi Pusdakota Ubaya. Bagaimana surat kabar yang sudah tidak dibaca masih bermanfaat untuk kostum pada sebuah pertunjukan tari. Pusdakota Ubaya yang juga memiliki sanggar tari berupaya mempraktikkan perilaku hijau, bahkan sampai pada kostum tarinya. Simpel dan nggak mahal, bukan? &amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sesungguhnya, apa arti Reduce, Reuse, dan Recycle? Ini uraiannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Reduce (Mengurangi)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sebagai manusia kita pasti memiliki sampah, apa pun bentuknya. Kita memiliki kertas, baju, tas, dan berbagai barang yang potensial memperbanyak sampah di bumi. Belilah barang yang penting-penting saja. Jangan mengoleksi secara berlebihan bila barang-barang tersebut nantinya harus berakhir di tempat sampah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Reuse (Memakai Kembali)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Toko dan department store banyak menawarkan barang-barang baru yang cantik dan menggiurkan hati. Kalau kita semua terbuai dengan bujuk rayu iklan di televisi ataupun surat kabar, bumi ini dalam kurun dekat akan dipenuhi sampah. Bila kita peduli pada nasib anak cucu, mulailah dengan “gaya hidup hijau”. Perpanjang masa pakai barang-barang kita. Jangan segan memakai barang-barang lama yang masih berfungsi. Jangan cemas bila kita dibilang ketinggalan zaman karena suka memperpanjang masa pakai suatu barang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Recycle (Mendaur Ulang)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Tidak semua barang bisa didaur ulang. Namun bila barang di rumah yang sudah tidak terpakai bisa didaur ulang menjadi barang lain yang bermanfaat, akan sangat berguna bagi alam ini. Contoh: plastik kemasan minyak goreng yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan sebagai pot untuk membibit tanaman. Sachet-sachet bungkus mie instan dijahit untuk tas belanja, dsb. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-434596055303659302?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/434596055303659302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=434596055303659302' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/434596055303659302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/434596055303659302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2010/10/apa-itu-reduce-reuse-recycle.html' title='Apa Itu: Reduce, Reuse, Recycle'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/TLgYfYz9LuI/AAAAAAAAAJk/aCw882aw0PI/s72-c/DSCN5516.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-5215927596742456857</id><published>2010-04-04T12:09:00.000+07:00</published><updated>2010-04-04T12:09:11.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Multicultural Green Camp, Ranu Klakah dan Laskar Hijau, Sebuah Refleksi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7ge1TNGMTI/AAAAAAAAAJU/tH71PFCJY1k/s1600/100_3122.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7ge1TNGMTI/AAAAAAAAAJU/tH71PFCJY1k/s200/100_3122.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7geF8nD62I/AAAAAAAAAJM/v6APwCeoMsI/s1600/100_3106.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7geF8nD62I/AAAAAAAAAJM/v6APwCeoMsI/s200/100_3106.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pergi dan temui masyarakatmu. Hidup dan tinggallah bersama mereka. Cintai dan berkaryalah bersama. Mulailah dari apa yang mereka miliki dan dari apa yang ada. Buat rencana lalu bangunlah rencana itu dari apa yang mereka ketahui. Sampai akhirnya, ketika pekerjaan usai, mereka akan berkata: “KAMILAH YANG TELAH MENGERJAKANNYA” (lao Tze)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari masih bersembunyi di balik Gunung Lemongan, Lumajang. Tapi sinar kuningnya telah muncul sebersit. Di Danau (Ranu) Klakah yang ada di bawah gunung itu, air nyaris tanpa gejolak. Rakit-rakit beserta pelayarnya yang menjala tampak seperti noktah di tengah danau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepian danau, seorang bapak mengumpulkan udang-udang yang terperangkap di plastik-plastik bekas botol air mineral dalam kemasan yang dibelah dan dijajar sedemikian rupa. Anak-anak yang mandi di tepian danau menjerit-jerit riang. Tak lama kemudian matahari muncul. Beberapa bagian danau yang terkena sinarnya berwarna keperakan. Burung-burung aneka rupa terbang di atasku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beruntung bisa hadir dalam Multicultural Green Camp 2010 yang dimotori kawan-kawan dari Forum NGO di Jawa Timur, Pusham Universitas Airlangga, bekerjasama dengan Laskar Hijau, 20-21 Maret 2010. Kemasan acara dan sambutan hangat tuan rumah demikian inspiratif. Namun di atas semua itu, sesungguhnya kami, partisipan juga mendapat pengalaman berharga. Yakni sebuah ironi. Kendati musim hujan tiba, air adalah barang mewah di sekitar danau yang indah dan seakan memiliki danau kecukupan sumberdaya air ini. Bahkan tuan rumah harus bersusah payah mendatangkan air dari lokasi lain untuk acara Multicultural Green Camp 2010 ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat buku-buku petunjuk wisata, majalah dan brosur wisata yang selalu dipenuhi foto-fotonya menawan dan eksotik. Aku juga ingat lebih dari satu kali melihat foto-foto dan membaca artikel tentang Ranu Klakah di sebuah situs di internet. Foto dan artikel dikemas seolah dengan tidak ada cacat dan cela. Bagai seseorang yang didandani dengan make-up untuk menonjolkan kecantikannya dan menyembunyikan kekurangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak papa sih, namanya saja jualan tempat, pastinya yang ditonjolkan adalah yang bermutu. Tapi kadang aku merasa, ada buku-buku atau informasi wisata, nggombalnya sering kebablasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku selalu skeptis, benarkah info-info yang kuterima mencerminkan hal sesungguhnya? Dan sepanjang pengalamanku, meskipun sebuah tempat sudah diulas banyak oleh media massa dan brosur, aku sering dihadapkan pada area gelap yang harus kutelusuri lebih jauh untuk mendapatkan keutuhan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Ranu Klakah dan Gunung Lemongan ini. Tak hanya memiliki sisi baik, yakni pemandangan, sejarah, dan, modal sosial, namun juga itu tadi, yang menurutku mendasar, yakni kelangkaan air yang harus dirunut sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi negeri ini tahun 1990-an, di samping membawa berkah juga menyisakan masalah. Salah satunya adalah penebangan liar besar-besaran yang diskenariokan penguasa lama negeri ini yang tak ingin kekuasaannya diambil alih pemimpin baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huru-hara bikinan terjadi di mana-mana. Semua hutan di negeri ini digunduli termasuk hutan Gunung Lemongan seluas 6000 hektar yang habis dalam kurun tahun 1998 – 2002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, 30 danau berhasil dihidupi Gunung Lemongan. Kini tinggal sembilan danau yang berair. Dulu, ada 32 mata air di sekitar Ranu Klakah, kini tinggal empat. yang tersisa. Padahal 47 persen warga Ranu Klakah berprofesi sebagai petani. Sawah-sawah yang harus diairi sebanyak 500 ha. Petani mana yang mampu bertahan dalam situasi kelangkaan air? Bayangkan kalau semua petani kita mengalami hal yang sama. Akan seperti apa dunia pertanian di negeri ini. Pastilah semakin terpuruk. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, tangganya dari baja pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat sebuah tempat ****o*i*o, kira-kira 30 km jauhnya dari Ranu Klakah. Kegiatan yang paling kusukai bila aku ke tempat ini adalah mandi dan berenang-renang di sumber-sumber air di tempat yang letaknya tersembunyi di dekat kebun-kebun salak penduduk. Di tempat yang tinggi ini sumberdaya air demikian melimpah. Sumber-sumber air dialirkan ke rumah-rumah warga lewat pipa paralon. Saban bulan warga bekerja bakti melihat kebocoran-kebocoran. Saban bulan warga membayar iuran. Air dikelola oleh warga dengan damai. Mudah-mudahan lokasi yang kaya sumber air ini tak diambil pemodal air minum dalam kemasan, sebagaimana di lokasi-lokasi yang kaya sumber air. (makanya dalam tulisan ini, wilayah ini kupassword. He he). Sungguh tidak menyenangkan bila suatu saat aku mendengar warga harus membeli air di wilayahnya sendiri yang kaya air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****o*i*o dan Ranu Klakah. Dua lokasi di kabupaten yang sama, yakni Lumajang namun memiliki ketimpangan sumberdaya air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, warga Ranu Klakah bisa berdamai dengan kondisi kelangkaan air. Beberapa pemancing, warga lokal yang kutanya di danau menganggap kelangkaan air sebagai situasi yang memang harus diterima sedangkan beberapa menganggap ini harus dipecahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari di Ranu Klakah sangat menginspirasi karena aku melihat aksi-aksi nyata warga setempat yang dilakukan bersama pegiat lingkungan Laskar Hijau untuk mengembalikan kejayaan Gunung Lemongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar hijau bukanlah organisasi yang datang untuk menawarkan program-program dengan cara pandang Laskar Hijau yang berusaha disuntikkan ke warga. Namun Laskar hijau kulihat hidup dan tinggal bersama masyarakat setempat, berkarya bersama mereka, membikin rencana bersama dari apa yang diketahui warga. &lt;br /&gt;Organisasi kerelawanan untuk konservasi ini dibentuk tahun 2008. Keanggotaan bersifat sukarela. Organisasi yang tidak berbadan hukum ini lebih menekankan partisipasi bersama, juga dalam hal pendanaan konservasi. Sudah setahun ini, masyarakat setempat bersama Laskar Hijau telah menghijaukan 300 ha bukit Gunung Lemongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini berarti, untuk mengembalikan ekosistem Gunung Lemongan yang 6000 ha, kami perlu waktu 20 tahun. Kami akan terus fokus untuk membantu penghijauan Gunung Lemongan selama 20 tahun,” kata A’ak Abdullah Al Kudus, relawan Laskar Hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Lemongan disentuh dengan tetap memperhatikan kearifan lokal melalui konsep hutan setaman. Bibit pohon yang dikembangkan adalah buah-buahan lokal, tanaman konservasi, tanaman langka, dan aneka jenis bambu, khususnya bambu petung (Dendrocalamus Asper), Jajang Hitam (Gigantochloa Atroviolacea Wijaya), dan Bambu Andong Besar (Gidantochloa Pseudoarundinacae). Siswa-siswi SD setempat pun diajak bekerjasama untuk membibit untuk membuka kesadaran pentingnya pemeliharaan alam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dipilih buah-buahan untuk ditanam di hutan-hutan Gunung Lemongan yang gundul? ”Ini semua untuk masyarakat, agar mereka tak lagi menebangi kayu untuk memenuhi kebutuhan. Mereka cukup memetik buah yang ada di hutan Gunung Lemongan,” kata A’ak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimana bibit tanaman buah berasal? Ternyata dari biji-bijian yang diupayakan warga dan dari biji-bijian yang diambil dari pasar. Warga mengumpulkan biji buah-buahan untuk disumbangkan dalam gerakan penghijauan Biji-biji juga dikumpulkan lewat pengobatan akupuntur gratis. Pasien hanya diminta membayar dengan biji-bijian di sekitar mereka. Jumlahnya terserah. Biji-bijian tersebut dibibit untuk setiap minggu ditanam relawan di bukit-bukit gundul Gunung Lemongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setahun melakukan upaya penanaman kawasan lereng Gunung Lamongan, di samping beberapa tanaman sudah berbuah, aneka satwa yang sempat menghilang, terutama burung kini perlahan-lahan kembali. Agar tetap lestari, warga bersama laskar Hijau berharap agar Gunung Lemongan dikukuhkan sebagai kawasan hutan lindung atau taman nasional sesuai undang-undang yang berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan konservasi dilakukan lewat berbagai cara oleh masyarakat. Antara lain lewat kegiatan rutin Maulid Hijau (Maulid Nabi dan Penghijauan) yang diselenggarakan sejak tahun 2006. Beragam kegiatan lingkungan hidup dan seni budaya maupun bersih desa yang telah turun-temurun, diselenggarakan dalam bulan dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. Tahun 2010, Maulid Hijau rencananya diselenggarakan 14-16 Mei 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar hijau dan sedikit organisasi kerelawanan lain yang rela memilih jalan sunyi, apalagi yang tegas memilih untuk tidak memiliki badan hukum dan funding (yang seringkali sarat kepentingan) harusnya kita dukung dengan segenap potensi yang kita miliki, karena sungguh berjuang demi hal-hal yang prinsip demi semesta. Bukan demi kepentingan-kepentingan lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuharap mereka tetap konsisten dengan visi dan misi yang mereka pilih, tetap utuh dengan masyarakatnya bagai sapu lidi, dan semakin matang berefleksi atas roh kekaryaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menebar karya, kawan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-5215927596742456857?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/5215927596742456857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=5215927596742456857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5215927596742456857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5215927596742456857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2010/04/multicultural-green-camp-ranu-klakah.html' title='Multicultural Green Camp, Ranu Klakah dan Laskar Hijau, Sebuah Refleksi'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7ge1TNGMTI/AAAAAAAAAJU/tH71PFCJY1k/s72-c/100_3122.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-4793993134080499126</id><published>2010-04-04T11:56:00.001+07:00</published><updated>2010-04-04T11:57:43.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Nyadran Nelayan dan Makam Dewi Sekardadu, Ibunda Sunan Giri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7gbeEQXCPI/AAAAAAAAAJE/eY5xk1IrS-U/s1600/100_3011.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7gbeEQXCPI/AAAAAAAAAJE/eY5xk1IrS-U/s200/100_3011.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makam Ibunda Sunan Giri, Dewi Sekardadu, jauh dari keramaian. Di sekelilingnya cuma ada laut dan empang. Mungkin sang dewi ingin mengabarkan pada kita bahwa sahabatnya yang abadi adalah ikan, pasir, bakau dan angin laut.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Kepetingan alias Ketingan, Sidoarjo, Jawa Timur, pada hari-hari biasa begitu sunyi. Cuma ada sedikit rumah dengan sedikit orang. Hampir semua wilayah dihuni tambak, pohon dan satwa pantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak hujan, jajaran bakau yang hadir di tepi pantai tampak sangat indah. Burung-burung langka pun, pagi itu sekali-sekali melintas-lintas sambil berkicau. Serangga tak kalah banyak jenisnya, hinggap dan terbang di antara tanaman-tanaman. Angin lumayan kencang, membawa air laut sampai ke wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, yang mengganggu setiap kunjunganku adalah tumbuhan enceng gondok yang mulai jenak berdiam dan berkelompok-kelompok di berbagai sudut tepian pantai. Aku ingat, satu kawanku yang pecinta lingkungan pernah bilang kalau hadirnya enceng gondok bisa merupakan ciri telah hadirnya limbah yang mengganggu kesehatan. Oh, tak lama lagi, bila tak ditangani, kelompok-kelompok enceng gondok tersebut akan bersatu. Tidak itu saja, sebenarnya. Aku juga melihat banyak sampah plastik dari bungkus snack dan air mineral tersangkut di antara sulur-sulur enceng gondok. Siapa pun yang membuang sampah tersebut mungkin menyangka semua tempat di bumi ini adalah tong sampah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, untuk mencapai wilayah ini relatif rumit. Aku dan kawan nunut perahu nelayan. Satu setengah jam dari kampung nelayan di Bluru Kidul, Sidoarjo. Nggak bisa lewat jalur darat. Jalan-jalan setapak di kanan kiri berliku dan licin, lebih-lebih bila musim hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa inilah Ibunda Sunan Giri Dewi Sekardadu konon beristirahat sejak abad ke-14. Makamnya cukup megah karena beberapa tahun lalu dipugar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Ada joglo untuk peristirahatan pengunjung segala. Namun tetap saja, di tengah deru angin kencang yang sesekali membawa air laut, kesan kesunyian dan keterpencilan makam ini kurasakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penduduk bercerita padaku bahwa kunjungan ke makam ini relatif jarang. “Yang datang biasanya adalah peminat ziarah wali. Atau kalau tidak ya peneliti, atau peminat masalah supranatural,” ujar Haji Waras, pemuka masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka kunjungan meningkat menjelang upacara nyadran alias petik laut yang diselenggarakan setahun dua kali. Menjelang Ramadan dan Bulan Maulud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata beberapa penduduk desa ini yang ngobrol siang itu denganku hapal sejarah makam Dewi Sekardadu, dengan pakem seragam. Bahwa perempuan ini bernasib malang. Dia mencari-cari bayinya di tengah laut namun tidak menemukan. Yang terjadi, dia tewas, lantas digotong ikan-ikan keting (entah apa nama ilmiahnya), untuk didamparkan di tempat ini, yang kini dinamai Desa Ketingan atau Kepetingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Putri Blambangan yang Malang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar mengingatkan, Dewi Sekardadu sesungguhnya adalah putri dari Prabu Menak Sembuyu, Penguasa Kerajaan Blambangan, Banyuwangi pada abad ke-14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samadi, juru kunci makam menjelaskan, Blambangan suatu ketika didera wabah penyakit. Dewi Sekardadu sendiri pun sakit. Tabib-tabib terkenal didatangkan namun tak satu pun yang bisa menyembuhkan penyakit, baik Dewi Sekardadu maupun warga desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raja pun membuat sayembara, barangsiapa bisa menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu, ia berhak menjadi suami sang dewi jelita itu. Namun lagi-lagi tidak ada yang &lt;br /&gt;bisa menyembuhkan. Hingga akhirnya, Prabu Menak Sembuyu bermimpi bahwa yang bisa menyembuhkan putrinya adalah ulama Muslim bernama Syeh Maulana Iskak yang berdiam di sekitar Gresik, Jawa Timur, “beber Samadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka diutuslah patih kerajaan untuk menemui Syeh Maulana Iskak. Syeh Maulana Iskak pun berangkat ke Tanah Blambangan. “Singkat cerita, Dewi Sekardadu berhasil disembuhkan. Maka, dinikahkanlah Syeh Maulana Iskak dengan Dewi Sekardadu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah mereka tinggal di Blambangan. Syeh Maulana Iskak sangat disayangi penduduk Blambangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kepercayaan raja mengail di air keruh. Mereka juga tidak rela rakyat demikian menyayangi Syeh Maulana Iskak. Intrik demi intrik dilakukan, hingga raja semakin membenci Syeh Maulana Iskak. Bahkan Dewi Sekardadu pun tidak lagi akur dengan suaminya. Syeh Maulana Iskak akhirnya meninggalkan istana untuk berdakwah di tempat lain. Saat itu Dewi Sekardadu hamil tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang dikandung Dewi Sekardadu lahir tahun 1365 M. Namun bayi tersebut tidak diinginkan para petinggi kerajaan yang haus kekuasaan. Bayi tersebut diculik, ditempatkan di sebuah peti yang kemudian dipaku dan dibuang ke laut. Itu sebabnya bayi tersebut juga dinamai Raden Paku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui anaknya dibuang ke laut, Dewi Sekardadu menceburkan diri, mengejar-ngejar anaknya di laut. Dewi Sekardadu tak bisa mengejar peti yang terapung-apung di laut, lantas meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Balongdowo Sidoarjo, pada tahun 1365 tersebut, para nelayan sedang mencari ikan dan kerang di laut. Mereka dikejutkan dengan serombongan ikan keting yang ramai-ramai menggotong jasad seorang wanita cantik, yang diyakini Dewi Sekardadu. Jasad yang akhirnya didamparkan ikan-ikan keting di pantai, lantas dikubur secara terhormat oleh warga. Tempat itu akhirnya dinamakan KETINGAN alias KEPETINGAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan bayi Dewi Sekardadu yang terapung-apung itu? Selamatkah dia? Ternyata bayi tersebut selamat. Seorang penguasaha kapal ikan perempuan mengambil bayi yang kemudian dinamai Raden Paku dan dikenal dengan sebutan Sunan Giri tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kisah Dewi Sekardadu ini punya banyak versi. Beberapa tempat seperti Gresik dan Lamongan, konon juga diakui sebagai makam Dewi Sekardadu. Entah versi mana yang benar, namun nelayan-nelayan di sini sangat yakin, makam Dewi Sekardadu yang asli ya yang di kampung mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Upacara Nyadran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Makam Ibunda Sunan Giri tersebut, sangat dimuliakan masyarakat nelayan Sidoarjo. Setiap tahun, saat bulan Maulud dan menjelang Ramadhan, upacara terbesar nelayan pesisir Sidoarjo Nyadran atau petik laut dipusatkan di makam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu aku mengikuti Nyadran nelayan Bluru Kidul Sidoarjo, yang terjadi di awal Maret 2010. Sejak pagi para penduduk kampung Bluru Kidul yang sebagian besar kaum nelayan, telah berkumpul di tempat yang biasa mereka pakai sebagai dermaga. Sebagaimana hari raya Idul Fitri, kali ini penduduk pun kulihat berpakaian serba baru. Mereka satu per satu, juga anak-anak naik perahu. Jumlah perahu sekitar 30-an dan beberapa di antaranya berhiaskan hasil bumi seperti sayur dan buah-buahan. Di dalam perahu-perahu itu telah ada tumpeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam Dewi Sekardadu dipenuhi penduduk yang bergantian untuk nyekar. Puluhan tumpeng dan sesajen dibawa ke dalam masjid. Ayat-ayat Al Quran juga dikumandangkan. Setelah itu, tumpeng pun dibagikan untuk siapa saja yang memerlukan. Beberapa tumpeng memang disediakan untuk dilarung ke laut, dan ini tentu saja dibawa kembali ke dermaga. Penduduk pun kembali naik perahu, beriring-iring menuju tengah laut, tempat melarung tumpeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersamaan benar-benar tampak di sini. Even ini ternyata sanggup mempererat tali persaudaraan antarmereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu aku senang menjadi saksi upacara-upacara adat, entah itu bersih desa ataupun nyadran. Kegiatan semacam ini memang ada di mana pun di Nusantara kita. Hanya versinya yang beda karena selalu kontekstual dengan kebutuhan masyarakat setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan semacam ini, sepanjang filosofinya diketahui dan pesan-pesan moral terbaiknya diamalkan, bukankah akan membuat dunia kita yang carut marut ini jadi lebih baik? Bukankah Nyadran yang erat kaitannya dengan bersih-bersih ini merupakan kegiatan untuk semakin mendekatkan kita kepada jagat kecil, yakni diri kita, dan jagat besar, yakni semesta ini? Semestinya, kegiatan yang sarat pesan moral dan pastinya ramah lingkungan tersebut tak ada alasan buat ditampik, dicurigai, atau dihujat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku juga berharap, makam ini beserta ritual-ritual yang digelar tidak dikomersialisasikan atas nama apa pun, bila itu berpotensi merusak modal sosial, modal spiritual dan budaya masyarakat setempat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-4793993134080499126?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/4793993134080499126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=4793993134080499126' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4793993134080499126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4793993134080499126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2010/04/nyadran-nelayan-dan-makam-dewi.html' title='Nyadran Nelayan dan Makam Dewi Sekardadu, Ibunda Sunan Giri'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/S7gbeEQXCPI/AAAAAAAAAJE/eY5xk1IrS-U/s72-c/100_3011.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7889375974996927784</id><published>2010-01-19T22:31:00.004+07:00</published><updated>2010-01-19T22:39:18.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Monsanto's GMO Corn Linked To Organ Failure, Study Reveals</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.huffingtonpost.com/gen/132433/thumbs/s-GERMANY-GM-CORN-large.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 260px; height: 190px;" src="http://images.huffingtonpost.com/gen/132433/thumbs/s-GERMANY-GM-CORN-large.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;In a study released by the International Journal of Biological Sciences, analyzing the effects of genetically modified foods on mammalian health, researchers found that agricultural giant Monsanto's GM corn is linked to organ damage in rats.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to the study, which was summarized by Rady Ananda at Food Freedom, "Three varieties of Monsanto's GM corn - Mon 863, insecticide-producing Mon 810, and Roundup® herbicide-absorbing NK 603 - were approved for consumption by US, European and several other national food safety authorities."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monsanto gathered its own crude statistical data after conducting a 90-day study, even though chronic problems can rarely be found after 90 days, and concluded that the corn was safe for consumption. The stamp of approval may have been premature, however.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the conclusion of the IJBS study, researchers wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Effects were mostly concentrated in kidney and liver function, the two major diet detoxification organs, but in detail differed with each GM type. In addition, some effects on heart, adrenal, spleen and blood cells were also frequently noted. As there normally exists sex differences in liver and kidney metabolism, the highly statistically significant disturbances in the function of these organs, seen between male and female rats, cannot be dismissed as biologically insignificant as has been proposed by others. We therefore conclude that our data strongly suggests that these GM maize varieties induce a state of hepatorenal toxicity....These substances have never before been an integral part of the human or animal diet and therefore their health consequences for those who consume them, especially over long time periods are currently unknown."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monsanto has immediately responded to the study, stating that the research is "based on faulty analytical methods and reasoning and do not call into question the safety findings for these products."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The IJBS study's author Gilles-Eric Séralini responded to the Monsanto statement on the blog, Food Freedom, "Our study contradicts Monsanto conclusions because Monsanto systematically neglects significant health effects in mammals that are different in males and females eating GMOs, or not proportional to the dose. This is a very serious mistake, dramatic for public health. This is the major conclusion revealed by our work, the only careful reanalysis of Monsanto crude statistical data."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7889375974996927784?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.huffingtonpost.com/2010/01/12/monsantos-gmo-corn-linked_n_420365.html' title='Monsanto&apos;s GMO Corn Linked To Organ Failure, Study Reveals'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7889375974996927784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7889375974996927784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7889375974996927784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7889375974996927784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2010/01/click-here-to-find-out-more-your.html' title='Monsanto&apos;s GMO Corn Linked To Organ Failure, Study Reveals'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6511478041974126482</id><published>2009-07-27T12:02:00.001+07:00</published><updated>2009-07-27T12:04:37.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Rayap di Pohonku Ada Pemangsanya</title><content type='html'>Meski rumahku belum kemasukan rayap, namun tiga pohon di halaman rumahku mulai jadi tempat persembunyian rayap. Aku tahu karena di beberapa batang pohon mangga, jambu, dan kelor ditempeli tanah. Di situlah rayap mulai bermukim dan beranak pinak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membersihkan rayap-rayap yang menempel di pepohonan, biasanya kami cuma menyapunya, lantas menyiram batang pohon tersebut dengan air sehingga tanah-tanah beserta rayap tersebut longsor ke tanah. Saat longsor ke tanah itulah, sepasang ayam yang kami pelihara, memakan mereka dengan lahap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, dulu sewaktu di sekolah dasar, dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, ada pelajaran tentang keseimbangan ekologis. Alam memiliki sekumpulan hubungan antarmanusia yang unik, berkelanjutan, yang menjaga keseimbangan keberadaan tanaman dan semua makhluk hidup. Mereka saling tergantung satu sama lain. Bila semuanya seimbang, lingkungan hidup menjadi tempat yang aman dan sehat. Proses rantai makanan menjaga keseimbangan hubungan mangsa – predator yang mempertahankan spesies dominan dan agresif tidak bertambah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, alam dalam kondisi seimbang. Namun, sekarang, seringkali kita dengar petani gagal panen karena padinya tertubi-tubi diserang serangga dan tikus. Resistensi serangga bertambah dengan adanya pertanian non organik. Tidak ada lagi keseimbangan di alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat perkotaan seperti kami pun harus waspada karena kini, misalnya, serangan rayap sungguh lebih bertubi-tubi dalam dekade-dekade terakhir ini. Rayap membuat keropos, tidak saja buku-buku, namun juga kayu-kayu rumah, bahkan yang sudah dilapisi. Seakan rayap pada decade ini sangat resisten dan susah dibasmi. Maka, kini kita lihat, banyak perusahaan yang bergerak di bidang pembasmian rayap panen hasil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, seringkali aku merasa harus mendidik diri ini untuk senantiasa menampilkan perilaku organik sekecil apa pun dalam keseharian, Termasuk untuk menangani sampah, rayap, ayam-ayamku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada rayap di pohon-pohonku, sebagaimana yang kuceritakan di awal tulisan ini, tinggal kuserahkan saja pada kedua ayamku. Ya, ayam-ayamku dalam rantai makanan di ala ini adalah predator bagi bangsa rayap. Kulihat ayam-ayamku sangat menikmati pesta kecil ini. (alpha savitri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6511478041974126482?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6511478041974126482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6511478041974126482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6511478041974126482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6511478041974126482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2009/07/rayap-di-pohonku-ada-pemangsanya.html' title='Rayap di Pohonku Ada Pemangsanya'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-1023778080604170842</id><published>2009-07-27T11:55:00.004+07:00</published><updated>2009-07-27T12:01:16.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Soto Madura Atau Bukan Sih?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/Sm00jWZTJ1I/AAAAAAAAAGU/pNTRZJTXlWA/s1600-h/soto+-+edit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/Sm00jWZTJ1I/AAAAAAAAAGU/pNTRZJTXlWA/s320/soto+-+edit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363000513179887442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kusuka saat melakukan perjalanan di daerah yang jarang atau belum pernah kukunjungi adalah mencicipi citarasa masakan lokal. Di bidang kuliner, Madura terkenal dengan sotonya. Maka, saat menginjakkan kaki di Pulau Madura, hal yang terpikir selalu memang mencicipi Soto Madura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, aku pernah mencicipi soto di wilayah Sumenep, Madura. Namun ternyata soto di situ tidak sama dengan soto yang umumnya kita sebut soto Madura. Rasanya asing di lidahku. Di mangkokku tidak hanya ada campuran daging dan kuah, namun juga kacang hijau. Waktu itu sesungguhnya aku penasaran. Benarkah Soto Madura yang asli memang sebagaimana Soto Madura yang aku cicipi tersebut? Itu berarti soto yang ada di luar Madura, dengan citarasa yang sangat berbeda, sesungguhnya bukan Soto Madura?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan lalu, aku menjajal jembatan Suramadu. Akhirnya kendaraanku sampai di wilayah Burneh yang berjarak hanya beberapa kilometer sebelum Bangkalan. Di bundaran Burneh, kulihat pedagang kaki lima dikerubungi pembeli. Aku penasaran dan saat mendatanginya, ternyata ia menjual soto. “Ayo, Mbak, beli Soto Madura di sini. Dijamin enak,” katanya sembari melihat pelat nomor “W” pada kendaraanku.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual soto tersebut menyebut namanya Hajjah Fatimah. Sudah bertahun-tahun ia berdagang soto di Bundaran Burneh. Aku pun memesan soto dan kopi tubruk, sebagaimana kebanyakan orang yang singgah di kedai kakilimanya yang laris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kursi dan meja di kedai itu. Yang ada di situ hanya amben dari kayu lebar. Di pinggiran amben itu pembeli duduk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi dengan gelas sangat kecil terhidang. Disusul nasi soto dalam mangkok yang juga kecil. Kulihat soto itu berisikan daging sapi jeroan, kecambah, kentang goreng. Warna kuahnya tidak kuning pekat sebagaimana biasa kusaksikan, melainkan bening kemerahan. Tapi tidak sebagaimana di Sumenep, yang ini tidak berisi kacang hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski lumayan enak, tapi aku sulit menggolongkannya ke dalam soto. Yang kutahu, soto pasti berbumbu kunyit. Sedangkan soto yang kumakan ini tidak terasa sama sekali kunyitnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak pakai kunyit. Ini baru soto asli. Yang pakai kunyit itu nggak asli,” terang Hajjah satu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumbu Soto Madura ala Burneh dan Bangkalan, katanya adalah bawang putih, bawang merah, terasi, lengkuas, merica, ditumbuk lantas ditumis. Setelah itu daging dimasukkan, demikian pula air. Ditunggu sampai mendidih. Tidak pakai kunyit maupun sereh seperti umumnya soto Madura yang dijual di Jawa. Kalau mau dihidangkan tinggal ditambahi cabe iris, kentang goreng, dan kecambah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soto Madura memang terkenal di mana-mana, sebagaimana Soto Lamongan. Namun herannya, soto ini rasanya di masing-masing daerah tidak serupa. Di wilayah Surabaya dan sekitarnya, Soto Madura tampil dengan kuah kuning pekat namun tanpa santan. Kalaupun ada pedagang yang memberi santan, itu diberikan dengan jumlah tidak banyak. Tapi cobalah berkunjung ke Blitar dan sekitarnya. Soto Madura yang ditampilkan santannya begitu terasa. Bahkan bila kita berkunjung ke depot yang menjual soto dengan tidak mencantumkan label madura, rasanya sama saja. Di wilayah Yogyakarta, Soto Madura tampil dengan rasa lebih manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soto Madura memang mengalami modifikasi, baik tampilan maupun rasa, sesuai daerah tempat penjual menggelar dagangannya. Bahkan di Madura sendiri pun antara wilayah satu dengan yang lain, rasa dan bahan sotonya berlainan sebagaimana yang kualami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidaklah aneh bila di Surabaya yang jaraknya relatif tidak jauh dari Madura, modifikasi soto Madura juga luar biasa. Orang Surabaya, saat mencicipi soto di Bangkalan susah menyebut apakah yang dia makan benar-benar soto seperti kata penjualnya. Sebaliknya, orang Madura “Menuduh” yang dijual di Surabaya dan berbagai wilayah lain itu bukan soto asli. Dengan kata lain, nama besar Soto Madura itulah yang dimanfaatkan. Pada akhirnya pasti akan sangat sulit buat kita mencari rasa asli dari Soto Madura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu kelebihan dari Soto Madura. Beragam rasa dari wilayah ke wilayah. Ia mampu beradaptasi dengan situasi setempat. Jadi sampai kapan pun tetap bisa eksis. (Alpha Savitri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-1023778080604170842?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/1023778080604170842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=1023778080604170842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1023778080604170842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1023778080604170842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2009/07/soto-madura-atau-bukan-sih-hal-yang.html' title='Soto Madura Atau Bukan Sih?'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/Sm00jWZTJ1I/AAAAAAAAAGU/pNTRZJTXlWA/s72-c/soto+-+edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7585419844456323125</id><published>2008-11-12T22:47:00.001+07:00</published><updated>2008-11-12T22:54:42.902+07:00</updated><title type='text'>Kuntul di Beringin Alun-alun Kota Blitar</title><content type='html'>Kota Blitar yang sering kukunjungi masih menyisakan banyak situs hijau yang tidak dimiliki kota-kota lain di Jawa, seperti Surabaya dan Jakarta. Di antara situs hijau di kota ini yang kusukai di Kota ini adalah pohon-pohon beringin masih dibiarkan tumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa, di jalan-jalan utama di kota ini. Pohon-pohon itu penuh akar-akar yang di mataku sangat eksotik. Lokasi pohon beringin yang kusukai adalah di Alun-alun Kota Blitar. Di lingkungan ini, tidak cuma ada satu beringin, namun lebih dari sepuluh. Empat di antaranya berdiam di pinggir jalan utama, tidak di dalam pagar alun-alun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar merasa homey bila melintasi pohon-pohon beringin di alun-alun. Menurutku, seharusnya, begitulah sebuah kota dikelola. Tetap memperhitungkan keberadaan pohon-pohon. Tidak mengalahkannya demi kepentingan manusia yang seringkali tidak berpikir secara berkelanjutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pohon-pohon beringin di alun-alun merupakan rumah yang nyaman bagi para burung. Yang sangat banyak berteduh di sini adalah para serangga. Banyak pula burung yang kata orang Jawa adalah kuntul (burung bangau). Kuntul-kuntul ini, dengan jumlah, mungkin ribuan, menjelang maghrib pulang berbondong-bondong. Yang terbanyak dari arah barat. Sungguh pemandangan yang elok. Saking banyaknya burung-burung yang bermukim di pohon beringin dekat alun-alun, hidung kita akan merespon bau alami burung dan kotorannya. Aku tidak terganggu dengan bau burung dan kotorannya. Di Surabaya, aku justru jarang mencium karunia Allah berupa bau burung. Yang kucium di jalanan di kota pahlawan adalah sisa asap kendaraan yang sangat menyesakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bila aku melintasi pohon-pohon beringin dan mencium bau khas burung dan kotorannya, seringkali aku disekap perasaan takjub. Oh ya, bila kita melongok ke atas, ke arah daun-daun beringin, sebagian daun itu tampak berwarna pucat. Tidak hijau. Ya, daun yang pucat tersebut pastinya pernah atau sering menjadi tempat kotoran burung-burung. Kotoran-kotoran itu bahkan tidak saja hinggap di daun yang lebat, ranting, atau batang dan sulur-sulur beringin, namun juga sampai ke jalan-jalan. Untungnya, jalan-jalan yang terkena tai burung tersebut selalu lekas dibersihkan oleh petugas sehingga tidak sampai terkesan jorok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon-pohon beringin itu, entah berapa kini usianya, kuharap tetap berdiam di situ, tidak ditebangi atas nama pembangunan. Kuharap beringin-beringin itu tetap jadi tempat yang nyaman bagi para burung. Para burung tidak risau karena tempat tinggal mereka hilang ataupun mereka terancam bedil-bedil perusak lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, sekali lagi aku katakan, aku nyaman berada di Kota Blitar, salah satunya karena beringin-beringinnya yang melindungi hewan-hewan yang kini semakin langka, seperti burung kuntul. Di seputaran Surabaya, burung kuntul ditembaki. Malahan, pernah ada restoran burung kuntul yang kini, entah kenapa telah tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Kota Blitar masih senyaman sekarang bila nantinya pohon-pohon besarnya telah tiada (Alpha Savitri)*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7585419844456323125?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7585419844456323125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7585419844456323125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7585419844456323125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7585419844456323125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/11/kuntul-di-beringin-alun-alun-kota.html' title='Kuntul di Beringin Alun-alun Kota Blitar'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-808017949967361688</id><published>2008-11-12T22:44:00.000+07:00</published><updated>2008-11-12T22:46:03.496+07:00</updated><title type='text'>Kelelawar Buah Pesaingku</title><content type='html'>Ini masih cerita tentang pohon buahku. Demi memetik buah mangga gadung di halaman rumah, aku sering kalah bersaing dengan kelelawar. Bukan main senangnya mereka dengan mangga dan bukan main pintar mereka. Buah yang telah besar dan matang yang telah kuincar, pada pagi hari seringkali tergolek di tanah. Kelelawar-kelelawar tersebut tidak menghabiskan semua daging buah, melainkan mencicipi sedikit saja dan buah tersebut dibiarkan saja mubazir di tanah. Aku memang jarang membungkus buah-buahan tersebut saat di pohon sehingga kelelawar bisa mencicipinya dengan bebas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, buah-buahan bekas kelelawar pasti kubuang. Namun sejak suamiku membawa berita bahwa buah-buahan bekas tersebut adalah buah pilihan, aku tidak membuang mangga itu. Yang kubuang paling daging bekas gigitan kelelawar. Selebihnya kumakan dan memang manis sekali.  Menurutku pada akhirnya, nggak ada salahnya aku berbagi makanan dengan kelelawar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelelawar-kelelawar memang selalu beraksi malam-malam. Aku sama sekali belum pernah tahu rupa kelelawar di rumahku. Satu-satunya yang aku mengerti adalah, buah-buahan yang ranum tergeletak di tanah pagi hari. Tidak ada satu pun dari binatang-binatang itu yang sudi berumah di salah satu ranting pohonku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, di rumah belajar kearifan lingkungan, Wana Patria Blitar, tidak jarang, aku mendapati kelelawar sedang tidur nyenyak di ranting pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, kelelawar sering terlupakan sisi baiknya bagi manusia. Hampir setiap malam binatang ini mencari buah-buahan untuk makanannya lantas menyebarkan biji-biji buah tersebut ke berbagai wilayah yang jaraknya bisa berkilo-kilo meter. Ya, kelelawar adalah penyerbuk yang baik dari berbagai tanaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu manfaat kelelawar. Kotoran kelelawar pun merupakan pupuk yang sangat baik. Menurut literatur, kelelawar yang hidup di gua-gua, misalnya, kotorannya sangat bermanfaat untuk pupuk yang ramah lingkungan. Pupuk kelelawar disebut pula pupuk guano mengandung nitrogen, fosfor dan potassium sangat bagus untuk tanaman. (Alpha Savitri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-808017949967361688?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/808017949967361688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=808017949967361688' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/808017949967361688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/808017949967361688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/11/kelelawar-buah-pesaingku.html' title='Kelelawar Buah Pesaingku'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-1104860649309439356</id><published>2008-11-12T22:39:00.002+07:00</published><updated>2008-11-12T22:43:28.175+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Air Cucian Beras dan Daging</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SRr5VBcRwYI/AAAAAAAAAGM/HHIkgvCT0mQ/s1600-h/Mangga+foto.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 203px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SRr5VBcRwYI/AAAAAAAAAGM/HHIkgvCT0mQ/s320/Mangga+foto.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267796853722825090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pohon jambu dan mangga di rumah berbuah sangat lebat pada awal-awal musim penghujan seperti sekarang. Untuk jambu saja, kami sudah memanennya dalam ember-ember untuk kemudian kami konsumsi, kami bagikan kepada kawan-kawan dan para tetangga. Kata mereka jambu kami manis dan segar. Demikian pula pohon mangga gadung. Lebat dan manis sekali buahnya. Sebetulnya kami masih punya satu pohon buah lagi yakni belimbing. Namun kali ini buahnya tidak sememuaskan yang lalu-lalu. Sebabnya adalah benalu-benalu yang sudah beranak-pinak dan baru saja kami ketahui. Saat ini kami sedang memulihkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tetangga seringkali bertanya padaku, apa resepnya sehingga 3 pohon buah-buahan di rumahku selalu berbuah sangat lebat. Jawabanku sederhana saja, yakni pemupukan secara rutin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, kami tidak memakai pupuk sintetis atau kimia untuk menyuburkan tanaman. Pupuk sintetis pada mulanya memang bisa membuat buah tumbuh dengan baik. Namun dalam jangka panjang sangat tidak baik untuk tanah. Nantinya tanah jadi keras. Sari-sari makanan yang diperlukan tumbuhan akan hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk yang kupakai adalah kompos yang berasal dari rumah sendiri, hasil panenan dari keranjang pengomposan takakura yang kumiliki. Namun mungkin tidak saja karena kompos. Pohon-pohonku kuberi vitamin juga secara rutin berupa air cucian beras dan sisa cucian daging. Setiap hari itu tidak kubuang, melainkan kutampung dalam wadah, lantas sore hari kusiramkan ke pohon-pohon tersebut. Resep itu kuperoleh dari ibuku. Aku ingat, sewaktu kecil dulu kami sekeluarga punya tanaman-tanaman yang sangat subur. Padahal ibuku jarang memberi pupuk kecuali air cucian beras dan sisa cucian daging. Kini resep tersebut juga kupakai untuk pohon buah-buahan di rumah. Ternyata berhasil juga.(Alpha Savitri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-1104860649309439356?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/1104860649309439356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=1104860649309439356' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1104860649309439356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1104860649309439356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/11/air-cucian-beras-dan-daging.html' title='Air Cucian Beras dan Daging'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SRr5VBcRwYI/AAAAAAAAAGM/HHIkgvCT0mQ/s72-c/Mangga+foto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-4540834330443504589</id><published>2008-10-20T22:38:00.000+07:00</published><updated>2008-10-20T22:39:14.394+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Spirit Berbagi Tempo Dulu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Masa kecil kuhabiskan di Surabaya. Di beberapa rumah, sering kulihat pemiliknya meletakkan kendi air di depan rumah. Orang-orang yang lewat dan kebetulan haus akan minum air tersebut secara gratis. Kalau air kendi habis, tuan rumah mengisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, kulihat kebiasaan meletakkan kendi di depan rumah sudah tak populer di Surabaya. Bahkan, aku pun tak punya kebiasaan itu karena aku tinggal di perumahan yang jarang dilalui umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak tahu, sejak kapan kebiasaan meletakkan kendi air di depan rumah jarang dilakukan tuan rumah. Aku juga nggak tahu apa sebabnya. Apakah gara-gara maraknya privatisasi air sehingga air menjadi barang yang diperjualbelikan dan orang akan merasa sayang membeli air untuk kepentingan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan meletakkan air di depan rumah yang berasal dari tradisi Hindu tersebut sesungguhnya mengandung banyak makna. Bagiku sendiri, maknanya sangat dalam. Air itu ya kehidupan itu sendiri. Maka, siapa pun berbagi air, ia akan melestarikan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dirasakan, orang-orang dulu memang punya semangat berbagi dengan tulus. Sungguh mengharukan. Salah satunya, yang sempat kurekam adalah, ada pemilik rumah yang menaruh pompa sepeda di depan pagar rumahnya. Anak-anak sekolah yang ban sepedanya kempis akan memompa di situ secara gratis. Bertahun-tahun pompa itu tetap mangkal di depan rumah sebagai milik publik. Tidak ada yang mengganggu sampai pompa itu rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah hal serupa terjadi saat ini? Mungkinkah tak ada yang tergoda memilikinya secara privat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula peristiwa macam begini. Ada yang sengaja memiliki beberapa sepeda kayuh agar anak-anak di sekitar rumah bisa meminjam sepeda-sepeda tersebut untuk ke sekolah. Siapa yang datang paling pagi, dialah yang berhak atas sepeda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya sepeda-sepeda itu tetap kembali kendati tuan rumah tidak tahu dengan detil, siapa yang pinjam sepeda-sepeda itu. Pernah juga sepeda tersebut menghilang. Tapi lima hari kemudian kembali dalam keadaan utuh. Salah satu orang yang pernah menikmati sepeda gratis tersebut cerita padaku, senantiasa terkenang kebaikan pemilik sepeda tersebut. ”Sekolahku dulu 7 km jauhnya. Rasanya sangat mewah membawa sepeda itu,” ujar dia yang kini bekerja di sebuah perusahaan besar di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian-pemberian semacam itu, kalau dimaterialkan tidaklah berarti. Tapi sungguh tepat sasaran dan memiliki arti tak terkira untuk orang-orang yang membutuhkan. Aku sering bertanya dalam hati, benarkah diriku punya spirit berbagi sebagaimana orang-orang tempo dulu yang iklas hati memberikan miliknya, bahkan untuk orang yang tidak dikenal sekalipun? (Alpha Savitri)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-4540834330443504589?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/4540834330443504589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=4540834330443504589' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4540834330443504589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4540834330443504589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/10/spirit-berbagi-tempo-dulu.html' title='Spirit Berbagi Tempo Dulu'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-4354112125281293159</id><published>2008-10-18T23:03:00.000+07:00</published><updated>2008-10-18T23:06:18.542+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Kisah Bijak dari Kaki Semeru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Kisah Bijak dari Kaki Semeru&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Alpha Savitri"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081018;22500000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Alpha Savitri"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081018;22500000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Bila ingin sekadar &lt;i&gt;refreshing&lt;/i&gt; beberapa hari, kadang aku ke Pronojiwo, perbatasan Malang dan Lumajang. Ada dua keluarga yang kukenal, yakni keluarga Ratih dan keluarga Heri. Keduanya kawanku.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Saat bertandang ke rumah keluarga Heri belum lama ini, ayah Heri menuturkan padaku kisah menarik, tentang misteri Gunung Semeru. “Gunung Semeru itu tidak hanya perkasa, tapi juga menyimpan misteri,”ujar ayah Heri.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Dikisahkan, dua tahun lalu ada serombongan peneliti asing yang hendak meneliti tanaman-tanaman langka di Gunung Semeru. Dalam penjelajahan di Semeru, tiba-tiba mereka berada di satu lokasi yang penuh anggrek langka. Sejauh mata memandang, hanya anggrek itu yang ada. ”Indahnya tidak terlukiskan,” ujar sang &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;guide&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; yang kemudian menuturkannya pada ayah Heri. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Para peneliti itu hanya bisa &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;menangis, terharu, dan berseru, menyebut nama Tuhan menyaksikan keindahan yang kata mereka belum pernah mereka temui tersebut. Yang membuat sang guide kagum, di antara mereka tidak ada satu pun yang ingin membawa tanaman langka satu pun yang ada di situ meskipun jumlahnya, amat sangat banyak sekali. Para peneliti itu cuma bilang, biarlah anggrek-anggrek itu berumah dengan nyaman di Semeru.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;Kisah tentang anggrek-anggrek Semeru seketika tersiar dari mulut ke mulut di desa-desa sekitar Semeru. Kata penduduk, mereka tak pernah menjumpai pemandangan itu. Beberapa dari mereka ingin mencarinya. ”Hanya saja, tidak ada satu pun yang berhasil menemukan,” kata sang penutur padaku.   &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Ada lagi kisah begini. Tetangga Heri pas lewat di Hutan Semeru melihat bunga yang sangat bagus. Namun karena ia ke hutan tersebut tidak untuk keperluan mengambil bunga, kendati bagus bunga tersebut dibiarkannya. Namun di tengah perjalanan, ia ingat akan bunga bagus itu dan ingin mengambilnya untuk ditanam di rumah. Ia sengaja pulang lewat rute yang dilaluinya tadi. Namun, bunga itu sudah tidak lagi ada. Menurutnya sungguh aneh karena jarang ada orang yang lewat di rute tempat bunga itu tumbuh. Sampai sekarang, kabarnya, peristiwa itu begitu membekas. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Kisah-kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;sebagaimana di atas, tentu menyisakan pertanyaan pada diri kita. Apakah kisah itu benar-benar terjadi sebagaimana yang dituturkan? Atau sudah ada bumbu-bumbu yang masuk?  Apakah para peneliti itu memotret kebun anggrek berhektar-hektar tersebut? &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Bagiku, apa pun kisah yang sampai, bisa dimaknai. Aku menduga-duga, hati yang bersih dari para peneliti itu membuat semesta membuka diri. Akan lain kejadiannya bila sebelum penelitian mereka sudah dipenuhi motif tertentu.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Saat kita &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;nihil pretensi ingin memiliki dan nihil nafsu menguasai,  saat kita membiarkan sesuatu alami terjadi di bawah lindungan semesta, Tuhan memberikan petunjuk. Mata hati kita dibuka lebar-lebar. Pencerahan yang tidak kita sangka-sangka datang bertubi-tubi, sebagaimana yang dialami para peneliti, juga tetangga Heri saat pertama kali melihat bunga itu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Tapi saat diri kita punya pretensi berkuasa, pintu hati dan pintu pencerahan semesta akan tertutup rapat-rapat.&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; (Alpha Savitri) &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-4354112125281293159?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/4354112125281293159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=4354112125281293159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4354112125281293159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4354112125281293159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/10/kisah-bijak-dari-kaki-semeru.html' title='Kisah Bijak dari Kaki Semeru'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-4509617233672077562</id><published>2008-10-18T10:49:00.006+07:00</published><updated>2008-10-18T23:16:09.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>The Poetry of Nature</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Belajar dari Pohon&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="User"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081017;18570000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Alpha Savitri"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081017;18570000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Pas mengantar Mbak Hilda dari Ashoka ke Yayasan Semen Gresik, beberapa waktu lalu, aku dan Mbak Hilda mendapat bingkisan beberapa buku. &lt;/span&gt;Di antaranya adalah &lt;i&gt;The Poetry of Nature&lt;/i&gt;, terbitan PT Semen Gresik tahun 2007. Buku ini merupakan sebuah &lt;i&gt;photo story&lt;/i&gt; karya seorang seniman foto asal Jembrana, Bali Deniek G Sukarya. Sebanyak lebih dari 125 foto pohon ataupun pepohonan semuanya disajikan secara hitam putih.    &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;Deniek menjelajah berbagai kota di Indonesia untuk berburu pohon-pohon tua usia, macam Pohon Baobab Adansonia Digitata) di Subang, Jawa Barat yang berusia 700-an tahun. Pohon Baobab merupakan pohon Afrika yang berusia 2000 – 5000 tahun. Bibitnya datang bersama saudagar Islam pada abad ke-14. &lt;span lang="fi-FI"&gt;Ada pula pohon Kepuh (Sterculia foetida) tua dan lain-lain. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;udah lama saya ingin membagikan kesan saya membaca dan melihat &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;photo story&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; ini, namun baru bisa terealisasi saat ini. Saya terkesan tidak hanya oleh foto yang indah-indah, namun juga puisi-puisi yang ada. Puisi-puisi tersebut ditulis, baik oleh seniman, anak jalanan, pengusaha, maupun pejabat negeri ini seperti Menteri M. Nuh, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hampir semua, tentu saja, bercerita tentang pohon atau pepohonan lewat perspektif dan olah rasa masing-masing.  Ini salah satu puisi di situ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;" lang="fi-FI"&gt;&lt;b&gt;Selembar Daun Kuning&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Selembar daun kuning&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Rontok di musim kering&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Matahari merah melintas&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Meninggalkan jejak di punggungnya&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Yang letih dan rapuh&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Ia lalu mengembara&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Disapu angin ke mana suka&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Diam dan hanya bisa pasrah&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Padahal ia ingin dikubur&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Dipeluk hangat jemari tanah&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Selembar daun kuning&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Yang rontok di musim kering&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Ia telah kehilangan pohon silsilah&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Tempat dulu melantunkan doa &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Dengan hijau hatinya. (HUSNUL KHULUQI 2006)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Memang benar. Bahkan, daun pun bisa bersedih manakala kering, kehilangan “pohon silsilah” dan tidak lekas jatuh ke bumi untuk berkontribusi bagi perawatan kehidupan selanjutnya.  Bagaimana dengan kita, ya?  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Pohon hadir di bumi, sesungguhnya tidak sekadar menjadi penyalur oksigen. Ia juga busa menjadi penutur sejati kisah-kisah kearifan. Pandang ia. Resapi kediamannya. Dan kita pun bisa memungut jutaan makna.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Roy Genggam yang menulis puisi bahwa beberapa waktu mendatang, bahkan bukan untuk air saja kita harus mengeluarkan uang, oksigen pun dalam kemasan. Bumi kita yang subur makmur di mana harum aroma surga begitu dekat dengan napas, tinggal kenangan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Eka Budianta menulis tentang Bonsai:  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;b&gt;Di Negeri Bonsai&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;b&gt;(untuk Bung Hatta)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Di negeri bonsai, &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Pohon yang terlalu subur&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Harus ditebang. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Dahan yang terlalu panjang&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Harus dipotong. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Dan akar yang terlalu kuat&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Harus dibabat. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Di negeri bonsai&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Semua pertumbuhan &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Harus dikendalikan. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Umur harus diulur&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Bukan dengan menjadi perkasa&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Tapi semakin kerdil&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Semakin berhasil. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Di negeri bonsai, &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Engkau membela cemara&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Yang tumbuh ke langit&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Dan menggapai matahari, &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Menjadi meja menjadi almari&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Menjadi monument&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Di tengah hutan&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Berjuta pohon-pohon mini… &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Indonesia!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Ini ada puisi lain yang berjudul AKAR oleh &lt;i&gt;Iwan Abdulrachman. &lt;/i&gt;Belakangan, puisi ini sudah ditulis syair lagunya.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Orang bersenandung tentang bunga yang harum&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Atau cerita betapa indah warnanya&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Ataupun tentang daun-daun berjatuhan&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Yang bahkan bisa membuat gadis menangis&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Namun saya akan cerita tentang akar…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Akar pohon-pohon yang banyak dilupakan. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Diam-diam masuk merunduk ke dalam tanah&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Tersembunyi dari cerita atau lagu…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Jangankan lagu, bahkan tiada orang peduli &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Diam-diam semakin merunduk ke dalam tanah&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Akar… akar…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Bahkan tiada orang peduli…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Akar… akar…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Akar… &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Ya, sangat banyak memang, yang bisa kita pelajari dari pohon. Apa pun jenisnya. Dari akar-akar yang perlahan-lahan menembus bumi. Dari batang, ranting, dan daun yang tergantung selaras, dari pucuk-pucuk pohon yang menengadah ke langit. Dari bunga yang disuka banyak orang dan dari buah-buah pepohonan. Semua punya makna. (Alpha Savitri)  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-4509617233672077562?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/4509617233672077562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=4509617233672077562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4509617233672077562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4509617233672077562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/10/poetry-of-nature.html' title='The Poetry of Nature'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7373283676866271944</id><published>2008-10-16T00:06:00.002+07:00</published><updated>2008-10-16T00:11:53.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Kemladean (Benalu) di Pohon-pohonku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa hari ini aku dan suamiku disibukkan memotong kemladean (benalu) yang menempel pada dahan-dahan di pohon-pohon jambu, belimbing, dan mangga di halaman rumah. Entah sudah berapa lama kemladean itu hadir. Yang jelas, banyak sekali jumlahnya. Mereka mencengkeram dahan-dahan pohon bebuahan yang kami sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahan-dahan yang penuh bunga dan buah bahkan harus dipotong agar aksi kemladean tersebut berhenti. Biarlah untuk musim buah saat ini kami tidak banyak menikmatinya. Melihat pohon-pohon yang kini kurus tersebut sehat kembali jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan-potongan batang cukup menggunung. Aku melihat akar kemladean banyak yang telah menggelembung besar menyerupai umbi, tumbuh menjalar sampai jauh ke batang-batang yang lain. Mereka tampil mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan besar kemladean itu dibawa burung-burung yang setiap pagi menyambangi halaman rumahku. Memang banyak burung yang singgah di tiga pohon di halaman rumahku. Burungnya bisa berjenis apa saja, termasuk yang belum pernah kulihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, kami tidak menyadari hadirnya kemladean tersebut. Maklum, kemladean berwarna hijau, persis dengan warna daun-daun pada umumnya. Sehingga, kalau tidak jeli, mata kita tidak bisa menangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan akan adanya penyakit di pohon-pohonku sudah kurasakan sekitar dua bulan ini. Aku melihat buah-buahan hasil panenan dari rumah kami menurun kualitasnya, terutama belimbing. Tidak besar-besar sebagaimana biasanya. Daunnya pun kurasa tampak menyempit. Hal yang sama juga terjadi pada mangga. Meskipun berbuah dan rasanya manis, namun daun-daunnya kulihat mengerut dan tidak segar. Semula aku menangkap, masalahnya adalah kekurangan air karena ini musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rasaku, pasti ada sesuatu yang lain. Mataku mulai meneliti pohon belimbing tersebut. Ternyata kemladean tumbuh subur di batang-batangnya, terutama di bagian atas. Setelah itu aku meneliti pohon mangga. Hal serupa terjadi. Demikian pula untuk pohon jambu. Akhirnya, terjadi aksi penebangan batang-batang sebagaimana kuceritakan di atas. Dan ketika kami merasa kerja sudah selesai, ternyata setelah kami teliti betul-betul, masih ada yang tersisa. Kami menebang dan menebang lagi, sampai kami benar-benar yakin tidak ada lagi yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku cerita tentang adanya pepatah Kemladean Ngajak Sempal. Buatku, itu sangat benar. Benalu sifatnya mengisap sampai yang diisapnya menjadi kerdil dan mati perlahan-lahan. Dalam keseharian, kita pun mengenal orang-orang yang memiliki sifat sebagaimana kemladean. Mau menerima, tak mau berbagi, tanpa rasa terima kasih malah membunuh pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah berburu kemladean ini mengingatkanku untuk tidak menjadi benalu yang membuat orang lain kita isap habis-habisan sampai orang tersebut mati. Aku juga diingatkan untuk&lt;br /&gt;senantiasa menjaga kemurnian diri. Kendati sulit, kita harus terus-menerus menjaga agar tidak sehelai benalu pun hinggap dalam diri ini. Karena, bila kita membiarkannya satu saja hadir dan merasa nyaman, ia akan beranak-pinak dari generasi ke generasi, sampai kita pun ”mati” perlahan-lahan. (Alpha Savitri)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7373283676866271944?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7373283676866271944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7373283676866271944' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7373283676866271944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7373283676866271944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/10/kemladean-benalu-di-pohon-pohonku.html' title='Kemladean (Benalu) di Pohon-pohonku'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7133833593995887372</id><published>2008-09-29T18:31:00.002+07:00</published><updated>2008-09-29T23:23:30.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Pak Tulus Wuliata Sang Bunga Semesta</title><content type='html'>Pak Tulus Wuliata adalah salah satu di antara para mitra Pusdakota yang intens berkontak via email sejak dua tahun lalu. Ia mantan presiden Rotary Club Bali. Ia juga pemilik sekolah musik kenamaan di Denpasar. Kenal nama Pusdakota dari kawan-kawannya sesama rotarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula ia bertanya-tanya soal pelatihan teknososial pengelolaan sampah rumah tangga yang difasilitasi Pusdakota. Lantas hubungan pun semakin intens saat ia membeli Keranjang Takakura. Ia senantiasa meng-update perkembangannya pada aku yang memang bertugas membalas surat-surat dari para mitra Pusdakota. Aku senang, di tengah kesibukan-kesibukannya ia melakukan pengomposan bersama istrinya. “Ms Vitri, biarpun manula, saya masih ingin berkontribusi pada kehidupan,” begitu dalam salah satu emailnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email-email pun akhirnya tidak hanya membahas seputar keranjang takakura, namun juga soal-soal metode pengomposan yang lain, soal community development, charity yang biasa dilakukannya. Aku mengiriminya publikasi-publikasi kantorku. Ia bilang senang dikirimi media-media demikian dan ia mengaku memajangnya di sekolah musik yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu ia pernah mengeluh padaku, agak ribet melakukan pengomposan. Aku pun menyemangatinya. “Pak Tulus, ini bukan masalah ribet atau tidak ribet. Tapi saya dan kawan-kawan di Pusdakota meyakini, berjuta-juta mikroorganisme yang ada dalam Keranjang Takakura adalah makhluk Tuhan yang perlu makanan dari sampah-sampah kita. Mereka adalah mikroorganisme baik yang membantu manusia untuk mengurai sampah menjadi kompos,” itu antara lain bunyi balasan emailku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga melayangkan tips-tips bagaimana membuat praktik mengompos menjadi pekerjaan yang ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, di email ia mengaku mulai tahu kenapa ia harus mengomposkan sampah-sampah dapurnya. Ia mengaku beruntung karena istrinya pun mendukungnya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia mengirimiku daftar makanan yang harus dihindari dan yang direkomendasikan untuk golongan darah O (Golongan darahku). Katanya, ia dan istri sudah menjajal dan badannya terbukti fit. Duh, dalam daftar kiriman itu ada mie, seafood dan makanan-makanan kegemaranku. “Mana mungkin saya bisa mencobanya, Pak,” protesku. Tapi ia menyemangatiku untuk mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah, ia lama tidak ber-email. Sekitar tiga atau empat bulanan. Aku melakukan kontak padanya. Menanyakan kabar aksi pengelolaan lingkungan yang dilakukannya. Esoknya ia membalas begini,” saya begitu terkesan dengan cara Pusdakota memelihara relasi. Lantas ia cerita tentang relasinya di Australia yang mengompos dengan cara vermikomposting. Ia bertanya tentang vermikomposting dan teknis pelaksanaannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membalas dan bilang padanya bahwa tali silaturrahmi harus ditegakkan selalu. Juga, jaringan dan gerakan penyelamatan lingkungan harusnya dibangun dari orang-orang yang peduli menekuni penyelamatan lingkungan lewat perbuatan-perbuatan kesehariannya. Karena, banyak sekali orang mengklaim dirinya sebagai sahabat dari lingkungan, tapi tidak bersikap dan berpraktik ramah lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, suatu kali Pak Tulus bilang, ingin mengundangku ke lokasi di mana ia aktif melakukan kegiatan community development di sebuah kampung miskin di sekitar Bedugul. Aku berterima kasih pada undangannya dan kubilang, kelak aku mengagendakan diri untuk ke sana kalau semua pekerjaanku benar-benar kelar. Sudah lama aku nggak ke Bali dan kangen nasi jenggo. (Pak Tulus bilang nasi jenggo nggak bagus buat kesehatannya karena ada mienya. Menurut diet golongan darah, ia harus menghindari mie).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu suratnya yang terakhir. Lama sekali ia tak berkabar lagi. Tapi aku merasa biasa-biasa saja. Siapa tahu ia sedang sibuk, tak ingin diganggu, atau apa pun. Aku pun meng-email dia sebagaimana yang pernah kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemarin, pas aku browsing internet, entah kenapa kepikiran terus pada Pak Tulus. Seolah ada yang menggerakkanku untuk mengetahui kabarnya. Lantas, aku mengetikkan ”Tulus Wuliata”, Bali pada search engine google. Wow, aku melihat kiprah-kiprah Pak Tulus yang sangat banyak untuk kemajuan Bali. Sekali lagi aku kagum. Begitu banyak yang tidak kutahu darinya karena dia tidak pernah menyebut kiprah-kiprahnya yang teramat besar. Benar-benar rendah hati si bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tibalah aku ngeklik situs salah satu surat kabar di Bali. Surat kabar itu lead-nya berbunyi:  ”Bertepatan dengan peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2008, tutup usia seorang tokoh masyarakat yang kiprahnya tak bisa dipisahkan dengan proses pembauran bangsa di Bali. Dia adalah Drs. Josephus Damianus Tulus Wuliata, Apt (71).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung lemas dan merasa tak berdaya. Mataku berkaca-kaca. Aku memang tak mengenalnya secara langsung. Tapi dari email-emailnya, aku kenal kegigihannya. Aku kenal sikap rendah hatinya. Ini cukup membuatku terinspirasi dan tidak melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Browsing-browsing lagi, aku melihat foto kematiannya. Ia menghuni peti. Wajahnya segar. Ya Tuhan, aku baru tahu wajahnya di saat ia tutup usia. Mataku basah. Aku nggak tahu, apa yang menyebabkan dia tutup usia. Sakitkah atau apa? Dalam hati kuberucap selamat menempuh kehidupan tahap selanjutnya. Kuharap konsistensinya pada nilai-nilai adikodrati yang pernah ia jalani pada kehidupannya terus mengharumi semesta ini. (Alpha Savitri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7133833593995887372?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7133833593995887372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7133833593995887372' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7133833593995887372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7133833593995887372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/pak-tulus-wuliata-sang-bunga-semesta.html' title='Pak Tulus Wuliata Sang Bunga Semesta'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-5704344155867031062</id><published>2008-09-25T15:27:00.003+07:00</published><updated>2008-09-29T23:27:36.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Bu Lily yang Tekun Belajar Kompos</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bu Lily tinggal di Malang. Sering sharing denganku soal-soal yang berhubungan dengan kompos via email. Semula aku nggak tahu, seperti apa dia. Remaja, paruh baya, atau sepuh. Yang aku tahu hanyalah, dia memiliki semangat tinggi untuk mengelola lingkungan hidup lewat rumah tangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hari di mana aku tahu seperti apa Bu Lily secara fisik tiba juga. Dia datang ke kantor. Napasnya agak tersengal. Keringat pun bercucuran. Katanya habis naik kendaraan umum. Kantorku di seputar kampung padat penduduk Rungkut Surabaya. Relatif susah dijangkau orang yang baru pertama kali datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ini toh yang namanya Bu Lily. Sudah sepuh,” seruku dalam hati. Lantas kami pun mulai sharing apa pun tentang lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Lily datang ke kantor sendirian, hanya untuk belajar. Tidak yang lain-lain. Hampir lima jam dia manfaatkan waktunya di Pusdakota untuk bertanya dan bertanya, lantas mencatat. Ia pulang menjelang maghrib, langsung ke Malang. Harus naik kendaraan umum beberapa kali untuk sampai di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku sering menerima email darinya. Ia sharing kepadaku tentang pembuatan pupuk cair dari bonggol pisang. Ia utarakan keinginannya pula untuk menanam padi dalam polibag. Ia selalu sharing tentang pengomposan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS-nya yang terakhir datang tadi pagi. Dia mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Ia kabarkan pula, bakteri padatnya sudah jadi, tinggal dipakai. Pupuk cair dari dari tempe juga berhasil baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Lily, sungguh aku banyak belajar darinya. Fisiknya memang tampak lemah dan cepat capek. Tapi dalam dirinya tersimpan energi dahsyat untuk terus mengembangkan diri. Ya, menjadi tua itu pasti. Tapi menjadi bijaksana adalah pilihan. (Alpha Savitri)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-5704344155867031062?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/5704344155867031062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=5704344155867031062' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5704344155867031062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5704344155867031062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/bu-lily-yang-tekun-belajar-kompos.html' title='Bu Lily yang Tekun Belajar Kompos'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-5514909442721952161</id><published>2008-09-25T15:23:00.001+07:00</published><updated>2008-09-25T15:27:03.187+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Hikmah dari Partisipan Pelatihan Pengelolaan Sampah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bapak Aziz sudah lumayan sepuh. Usianya 70 tahun. Tapi kulihat semangatnya untuk mengikuti pelatihan teknososial pengelolaan sampah di Pusdakota sangat tinggi. Dalam permainan-permainan untuk mendukung pemahaman bahwa sampah harus diolah, misalnya, ia sangat bersemangat. Dalam praktik-praktik pengelolaan sampah, dengan napasnya yang tersengal-sengal, ia berupaya melesat, sebagaimana partisipan muda usia. Pengambilan sampah di kampung pun ia lakoni dengan kesungguhan. Para fasilitator dari Pusdakota jadi semakin bersemangat karena semangat Pak Aziz mampu menular ke sekelilingnya. Pelatihan pun semakin heboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia istirahat siang, aku dan dia punya kesempatan sharing. Aku membagikan padanya pengalamanku membuat pupuk cair dan mengurus kebun rumahku. Dia takjub saat kutunjukkan berbotol-botol pupuk cair yang kubikin di halaman belakang kantor. Kutunjukkan pula bakteri cair bikinanku untuk menggelontor tempat cuci piring dan WC. Kutunjukkan fungsi-fungsinya antara lain agar septictank kita tidak lekas penuh. Kutunjukkan cara-cara pembuatannya yang gampang. Kubilang bahwa kita nggak perlu beli di toko untuk kepentingan yang begituan. Tuhan telah menyediakan semuanya di alam ini. Kita tinggal mempelajari dan mempraktikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia catat tips-tips dariku. Pelan-pelan dan teliti. Aku menangkap spirit pembelajarannya yang demikian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Aziz bilang, ia sekarang mengurusi rumah retret satu hektar. ”Biar cuma satu hektar, saya ingin produktivitas lahannya tinggi. Untuk tanaman organik dan kompos,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bilang pernah mengelola lahan seluas 20 hektar miliknya para jendral Jakarta di Cisarua. Bisnis tanaman organik itu berjalan baik. ”Tapi waktu itu saya memage. Perintah-perintah saja dan tidak turun ke bawah. Bahkan bertahun-tahun di situ saya nggak tuntas jalan-jalan ke lahan,” katanya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah sepuh ia ”pulang kampung” ke Batu, Malang. Ia mengelola lahan yang ”hanya” satu hektar. Namun, justru, ia ingin sungguh-sungguh menekuni. Dengan tenaga yang masih tersisa. Untuk itu ia merasa harus sungguh-sungguh belajar. ”Belum terlambat, kan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terharu kesungguhannya. Ada rasa malu. Benar-benar mengingatkanku untuk senantiasa terjaga untuk tetap berkarya dan memanfaatkan waktu-waktu yang dipersembahkan Tuhan padaku, dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Dan usia, bukan hambatan untuk berkarya. (Alpha Savitri)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-5514909442721952161?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/5514909442721952161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=5514909442721952161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5514909442721952161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5514909442721952161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/mutiara-hikmah-dari-partisipan.html' title='Hikmah dari Partisipan Pelatihan Pengelolaan Sampah'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-5304447544668171332</id><published>2008-09-24T16:22:00.002+07:00</published><updated>2008-09-24T22:36:44.064+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Petani Anggap Limbah Pabrik sebagai Berkah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kisah-kisah yang datang dari dunia pertanian di Indonesia hampir sebagian besar bukan kisah manis. Belakangan ini kisah-kisah tersebut kembali muncul di berbagai macam surat kabar di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, aku ingin pula berbagi kisah risetku bersama kawan-kawan tahun 2007. Yakni tentang lahan-lahan pertanian di wilayah industrial Gempol, Pasuruan. Sawah-sawah, terutama yang berbatasan dengan jalan raya di Gempol hanya beberapa. Itu pun terhimpit pabrik-pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menelusuri wilayah target riset, kami melihat sawah yang airnya berwarna-warni. Ada yang dominan kuning, ada pula yang merah, biru, hijau. Pokoknya nano-nano. Jadi, tidak hanya sumur-sumur yang airnya berwarna-warni. Bahkan sawah demikian pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak tani, di mana-mana tampil bersahaja dan ramah. Menyapa kami, yang belum mereka kenal. Aku bertanya pada mereka satu per satu secara terpisah, bagaimana perasaannya menggarap sawah mereka yang berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang, ini merupakan konsekuensi dari berdirinya pabrik-pabrik yang ada di wilayah Gempol, termasuk pabrik tekstil. Kata mereka akan percuma untuk mempermasalahkan karena biaya emosionalnya justru akan tinggi karena mereka harus berhadapan dengan pusat-pusat kekuasaan, baik yang ada di perusahaan ataupun pemerintahan. “Bisa panen saja, sudah bagus,” ujar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kisah yang menurutku menggemaskan sekaligus memprihatinkan. Di beberapa blok persawahan, para petani merasa bersyukur, justru dengan kiriman air limbah dari sebuah perusahaan pengalengan ikan ke sawah-sawah mereka. Ini terjadi sejak tahun 1990-an. Sehingga, panen yang semula dua kali menjadi tiga kali berkat pengairan yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa petani yakin, air limbah menyuburkan tanaman padi. Mereka yakin karena diinformasikan oleh perusahaan bahwa air limbah tersebut masih aman secara baku mutu untuk dipakai. Pengolahan air limbah dalam pabrik tersebut memasukkan urea atau mes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati bersyukur dengan kiriman air limbah pada lahan pertanian, mereka mengakui, sejak diairi air limbah, kualitas padi tersebut menurun. Padi hasil panen berwarna keruh dan bulirnya mudah pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air limbah perusahaan juga menyebabkan gatal-gatal pada kulit petani penggarap. Masalah lain adalah, tanah sawah jadi labil karena mengandung endapan-endapan yang membuat bibit tidak kokoh bila ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat peristiwa gagal panen dua kali berturut-turut, mencurigai, limbah pabrik yang menjadi sebab. Namun menurut pabrik, limbah tersebut masih aman. Petugas penyuluh menyarankan para petani untuk mengistirahatkan sebulan tanah mereka setelah dua kali panen. Direkomendasikan, petani melakukan dua kali penanaman padi dan satu kali palawija.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketahanan pangan negeri ini memang diuji habis-habisan. Para petani yang ada di garda depan ketahanan pangan demikian diperdayakan. Apatis dan tidak tahu harus berbuat apa. Limbah yang diolah dengan pupuk urea pun dipercaya sebagai berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini pada akhirnya semakin memantapkan beberapa kawanku untuk hadir di jalur advokasi pada pak tani. (Alpha Savitri)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-5304447544668171332?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/5304447544668171332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=5304447544668171332' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5304447544668171332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5304447544668171332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/petani-anggap-limbah-pabrik-sebagai.html' title='Petani Anggap Limbah Pabrik sebagai Berkah'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7957028247966331474</id><published>2008-09-23T20:32:00.007+07:00</published><updated>2008-09-24T22:35:01.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Iming-iming Duit dalam Gerakan Pengelolaan Lingkungan? No Way</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SNjxYXRiIMI/AAAAAAAAAGE/6gmYT4HZj7Y/s1600-h/No+way.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249210766567022786" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 158px; height: 244px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SNjxYXRiIMI/AAAAAAAAAGE/6gmYT4HZj7Y/s320/No+way.jpg" border="0" height="251" width="189" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:78%;" &gt;Gerakan Pengelolaan Lingkungan Hidup dilakukan para ibu &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;di RW 14 Rungkut Lor Surabaya lewat program Tandur Katresnan.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Foto: Pusdakota &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini lagi-lagi kisah tentang para tamu yang datang ke Pusdakota dan meninjau Graha Kompos kami. Sebagian pertanyaan yang pertama kali sampai padaku adalah tentang aspek ekonomi dari pengelolaan sampah berbasis komunitas. “Menurut pengalaman Anda, berapa total pendapatan dari pengolahan kompos yang sampai menggunung begini?” Atau, mereka bertanya begini,” Wah, kalau saja semua kampung mengolah sampah, pasti kaya-kaya. Soalnya lahan-lahan perkotaan membutuhkan kompos yang banyak. Bisa dong, dijual ke dinas kebersihan dan pertamanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat lagunya Nicky Astria (kalau nggak salah). ”Uang bisa bikin orang senang tiada kepalang. Uang bikin mabuk kepayang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, di zaman ini, uanglah yang berkuasa. Semua serba diukur dengan uang. Sampai-sampai pesan-pesan lingkungan hidup ataupun pemberdayaan masyarakat akan lebih eksotis dan menarik minat bila dihubungkan dengan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian? Menurut hematku, tidak sama sekali. Untuk mempublikasikan gerakan lingkungan hidup, iming-iming finansial justru jangan sekali-kali jadi alternatif.&lt;br /&gt;Karena ini tidak mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan seandainya fasilitator masyarakat, pada saat melakukan fasilitasi berkata seperti ini,” Coba bayangkan Bapak-bapak, dengan mengolah sampah, kita bisa mendapat keuntungan sekian, sekian, sekian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastinya, akan banyak yang tertarik pada omongan model begini. Namun, tidakkah ini telah keluar dari esensi untuk apa sampah diolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua nyampah dan kita harus bertanggung jawab atas sampah-sampah yang kita hasilkan agar bumi ini usianya semakin panjang. Nggak ada hubungannya apakah kita bakal dapat keuntungan finansial atau tidak. Kita tak bisa membebankan semua tanggung jawab pengelolaan sampah ke pihak lain. Meskipun kita sudah bayar tukang sampah. Kita harusnya malu, membuat mobil kita terjaga kebersihannya dengan jalan melempar sampah yang kita hasilkan ke jalanan. Itu namanya egois. Kita nggak bisa dong, setelah nyapu-nyapu halaman, sampah-sampah kita buang ke sungai. Halaman kita memang bersih, namun sungainya yang kasihan. Itu sikap tidak terpuji. Egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat cerita kawan-kawanku, fasilitator pemberdayaan masyarakat di wilayah Rungkut Surabaya. Pada tahun 2000 mereka menawari 11 RT di sekitar Rungkut untuk melakukan pengelolaan sampah bersama-sama mereka. Ternyata yang mau bekerjasama hanyalah satu RT. Yang lain ragu-ragu. Atau, banyak yang menginginkan kejelasan, apa yang didapat dari program pengelolaan lingkungan hidup? Berapa uang yang bakal didapat dari program pengelolaan sampah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, benar-benar mereka berangkat dari satu RT saja. Dan, RT tersebut telah mampu membuktikan kepada RT-RT sekitarnya bahwa banyak manfaat yang mereka peroleh dari pengelolaan sampah berbasis komunitas ini. Terutama, modal sosial terbangun dan berkembang dengan sendirinya. Nilainya melebihi takaran-takaran ekonomi. Spirit pengelolaan lingkungan RT tersebut akhirnya menular ke sekitarnya. Kini, RT-RT di sekitarnya pun ikut berlomba menjadi yang terbaik di bidang lingkungan hidup. Materi bukan lagi alasan mereka untuk menjamin suksesnya gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mereka membiayai keperluan-keperluan kampungnya sendiri demi gerakan menuju lingkungan bersih dan sehat. Dan saat mereka tidak matre, kulihat justru materi itu datang sendiri di komunitas mereka lewat program-program mereka sendiri yang sudah ”layak jual”. (Alpha Savitri)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7957028247966331474?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7957028247966331474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7957028247966331474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7957028247966331474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7957028247966331474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/iming-iming-duit-dalam-gerakan.html' title='Iming-iming Duit dalam Gerakan Pengelolaan Lingkungan? No Way'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SNjxYXRiIMI/AAAAAAAAAGE/6gmYT4HZj7Y/s72-c/No+way.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6434723986212242399</id><published>2008-09-12T15:59:00.000+07:00</published><updated>2008-09-12T16:20:04.734+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Infrastruktur dan Teknologi Pengomposan Saja Tak Cukup</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMowrn-NQuI/AAAAAAAAAF0/pJ3nwoUwQSE/s1600-h/rumah+kompos1+edit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245058242048770786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 194px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" height="188" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMowrn-NQuI/AAAAAAAAAF0/pJ3nwoUwQSE/s320/rumah+kompos1+edit.jpg" width="301" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMowsA5YTuI/AAAAAAAAAF8/JlP6rPk6BZ8/s1600-h/rumah+kompos+edit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245058248739409634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 139px; CURSOR: hand; HEIGHT: 107px" height="183" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMowsA5YTuI/AAAAAAAAAF8/JlP6rPk6BZ8/s320/rumah+kompos+edit.jpg" width="259" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;Rumah kompos Pusdakota dan komunitas yang berkunjung. &lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;Foto-foto: Dokumentasi Pusdakota&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para tamu yang datang ke kantorku untuk  berkunjung ke Graha Kompos, senantiasa menganggap tempat komposting kami lumayan megah dengan fasilitas lengkap . Tidak hanya dari bentuk bangunannya secara fisik, namun isinya lengkap. Ada sampah organik yang siap olah, ada mesin pencacah, dan instalasi yang baik. Sampah rumah tangga yang diolah pun nggak berbau busuk. “Terang saja, Pusdakota dan kampung RW 14 bisa mengolah sampah dengan baik. La wong semuanya serba tersedia. Tapi bagaimana dengan kampung kami? Kami belum punya tempat kompos,” itu pertanyaan umum dari para tokoh kampung yang studi banding di Graha Kompos Pusdakota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun selalu menjawab begini,” Misalkan Bapak memiliki tempat pengelolaan sampah seperti yang dimiliki Pusdakota, apakah menjamin warga mau memilah sampah dari rumah masing-masing, kemudian mengolah sampah organiknya di tempat pengolahan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, para tamu tokoh kampung langsung berpikir dan menggeleng. “Wah, mereka sudah tidak terbiasa memilah sampah. Mereka sulit disadarkan. Alasannya sudah ada tukang sampah dan sudah bayar. Kenapa harus pilah-pilah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula tamu yang langsung bilang begini,” bagaimana kalau milah sampahnya di rumah kompos saja kalau warga nggak mau memilah sampah. Mungkin kami bisa menggaji orang untuk memilah sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan para bapak ini menurutku wajar saja. Para warga kampung bisa saja berpikir mendirikan tempat pengomposan dan menggaji orang untuk memilah sampah. Namun menurutku ini tidak sejalan dengan spirit gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Apa gunanya rumah kompos yang telah berdiri bila tidak disertai kesadaran warga untuk memilah sampah? Juga, dari pengalaman kantorku, pemilahan, bila dilakukan di lokasi pengomposan di samping berbiaya juga memerlukan waktu yang panjang. Kantorku pernah meriset itu. Untuk memilah sampah yang datang dari 200 keluarga saja, diperlukan waktu sekitar tujuh jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan para tokoh kampung yang menganggap bahwa infrastruktur dan teknologi jauh lebih penting dibandingkan spirit dan kesadaran warga mengingatkanku pada seorang kawan yang suka beli piring dan mangkok. Setiap ada model ataupun motif yang menurutnya bagus, ia beli tanpa merencanakan dia pakai apa mangkok tersebut. “Nanti kapan-kapan pasti ada gunanya,” begitu selalu ia mengatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang berharap suatu saat akan terpakai, tapi tak kunjung terpakai juga mangkok tersebut sampai bertahun-tahun. Sampai akhirnya lemarinya penuh mangkok tanpa guna sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sering melihat, di internet banyak website yang dibangun dengan desain cool, tapi bertahun-tahun under construction melulu.&lt;br /&gt;Memang, seringkali kita menganggap bahwa wadah jauh lebih penting daripada isi. Desain dan kemasan lebih penting daripada isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senantiasa bertanya-tanya, kenapa orang-orang pada umumnya berpikir bahwa infrastruktur dan teknologi menjadi prioritas dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas? Kenapa tidak berpikir bahwa spirit perjuangan untuk cinta lingkungan lewat sarana pengelolaan sampah adalah yang mendasar untuk kita yang tinggal di bumi Indonesia? Dan kalau kita belum memiliki spirit perjuangan, ya harus ada yang menyadarkan. Itu gunanya pengorganisasian masyarakat. Aku sepakat bahwa pendekatan teknososial dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dipakai kantorku masih sangat relevan. Tidak hanya teknologi yang penting, namun juga pengorganisasian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graha Kompos Pusdakota memang telah lengkap segalanya dan mengolah sampah yang berasal dari 1500 kepala keluarga. Tapi untuk mencapai tahap kelengkapan seperti sekarang, bukan sulapan. Perlu proses. Itu selalu kukatakan pada setiap tamu. Sejarahnya, pada tahun 2000 Graha Kompos masih sangat sederhana dan berbau busuk karena waktu itu kami belum tahu cara mengatasi bau sampah rumah tangga yang efektif. Tidak sebagaimana sekarang, masyarakat sekitar rumah kompos mendukung kerja-kerja kantorku, saat awal pendirian rumah kompos, kami didemo orang-orang sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas kami waktu itu adalah bagaimana mengorganisasikan komunitas di sekitar Pusdakota untuk bisa memaknai sampah sehingga mereka bisa memilah dan mengolah sampah mereka sendiri dengan kesadaran penuh. Kantorku berpendirian, masalah teknologi itu haruslah dikembangkan sesuai harapan, kemampuan dan kebutuhan masyarakat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, saat masyarakat sudah semakin sadar dan banyak pembelajar di bidang lingkungan yang datang ke kantorku, barulah kantorku memikirkan agar rumah kompos dibikin senyaman mungkin untuk pembelajaran dan pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sesungguhnya rumah kompos nggak perlu dibangun megah. Yang penting, bangun dulu spirit gerakan untuk sadar mengelola sampah. Teknologinya bisa apa saja, tidak perlu seperti yang dikembangkan Pusdakota. Tidak usah pakai keranjang takakura ataupun open windrow juga bisa. Toh di dunia ini ada 1001 macam teknologi pengomposan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tamu pun kebanyakan manggut-manggut dengan saranku. (Alpha Savitri) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6434723986212242399?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6434723986212242399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6434723986212242399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6434723986212242399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6434723986212242399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/infrastruktur-dan-teknologi-pengomposan.html' title='Infrastruktur dan Teknologi Pengomposan Saja Tak Cukup'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMowrn-NQuI/AAAAAAAAAF0/pJ3nwoUwQSE/s72-c/rumah+kompos1+edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2220452971558792877</id><published>2008-09-10T14:27:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:35:07.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Pengalamanku Menyemai Bibit yang Dianggap Afkir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ini kisahku tentang bakal bibit atau bibit pada tanaman. Sejak dulu pelajaran yang kuterima adalah, kalau membibit, pilih-pilih yang terbaik agar bila tumbuh kelak, akan baik pula hasilnya, sebagaimana harapan kita. Berbagai metode pemilihan bibit yang baik pun ada dan diabsahkan. Mulai dari melihatnya secara fisik: bentuk, berat dll sampai uji-uji lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku senantiasa menuruti metode pemilihan bibit yang telah diakui umum benar adanya. Aku pilih-pilih bibit apa saja yang akan kusemai. Yang nggak terpakai aku komposkan di keranjang takakura. Dengan demikian bibit kuanggap afkir itu lekas diproses oleh alam dan bermanfaat bagi kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada sebuah hari di mana aku tak lagi mengikuti saran-saran umum. Pada biji mahkota dewa yang kubibit, aku tidak pilih-pilih mana yang baik dan yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah-buah mahkota dewa di rumahku, umumnya berkualitas bagus. Bila matang warnanya merah marun. Besar-besar dan segar. Aku dulu selalu memilih buah yang paling besar dan berpenampilan paling bagus untuk kucari bijinya, lantas kubibit. Tapi kemudian timbul pikiran bahwa yang jelek bahkan cacat pun harus tetap diberi kesempatan untuk hidup dan berkembang biak. Bukankah di dunia ini tak ada yang tanpa cela? Biarlah alam yang nantinya berkehendak, apa bibit itu bisa tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang sehat atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah yang kecil dan agak gripis juga kuambil bijinya dan kusemai. Ternyata saat menjadi tanaman, bibit yang jelek tersebut tidak bermasalah dan berbuah lebat. Dengan kondisi tanah yang subur dan perawatan hati-hati, ia pun tumbuh dan berkembang dengan baik. Saat berbuah, baik pula adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kenapa kita harus meremehkan yang cacat ataupun afkir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masalah kecacatan, aku jadi ingat kawanku, Mas Fuad (&lt;a href="http://www.cakfu.info/"&gt;http://www.cakfu.info/&lt;/a&gt;) yang difabel fisik, namun kuat secara mental. Fisik yang lemah, bagi dia bukan halangan untuk mencapai karya-karya gemilang. Gelar masternya dari Universitas Groningen, Belanda, misalnya, dia peroleh setelah menyisihkan ribuan pelamar di negeri ini untuk memperoleh beasiswa. Kini ia aktif dalam gerakan kampanye peduli kaum rentan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk-makhluk di dunia ini memang memiliki aneka ragam kondisi. Ada yang perkasa secara fisik dan mental, ada yang fisiknya perakasa namun mentalnya tidak, ada yang mentalnya perkasa tapi fisiknya lemes sekali, ada pula yang lemes semuanya. Variasi ini tercipta agar kita semua bisa saling berbagi. Iklas menerima dan memberi. Tidak untuk saling mengalahkan satu sama lain demi kepentingan pribadi. (Alpha Savitri) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2220452971558792877?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2220452971558792877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2220452971558792877' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2220452971558792877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2220452971558792877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/pengalamanku-menyemai-bibit-yang.html' title='Pengalamanku Menyemai Bibit yang Dianggap Afkir'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-7927324488270176844</id><published>2008-09-09T16:51:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:36:54.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Genap Sebulan Aku Bertanam Padi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari ini aku memperingati sebulan membibit dan bertanam padi organik pandanwangi. Ini spesial buatku karena baru pertama kalinya aku menanam padi. Oh ya, dalam tulisan-tulisan sebelumnya telah kuceritakan, bibit-bibit yang bersemi itu akhirnya kutanam di tiga tempat. Pertama: di pot, kedua di karung, dan ketiga di petak mini kebun depan kantorku Pusdakota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang di karung memuaskanku. Genap sebulan daunnya hijau segar, berujumlah 10 batang, sedangkan tinggi daunnya 32 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang di petak mini juga segar-segar. Malah ada yang tinggi daunnya sampai 40 cm. Lebih 40 bayi padi yang kutanam, ada dua yang sampai saat ini pertumbuhannya lambat, entah kenapa. Mereka berdua masih belum besar-besar sebagaimana yang lain. Bahkan aku sempat deg-degan karena salah satunya kupikir hampir mati ketika dua dari tiga daunnya berwarna kuning. Namun hari ini kulihat ada daun baru yang kulihat tumbuh dan itu berwarna hijau segar. Doakan ya agar yang ini tumbuh sehat sebagaimana rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang di pot, menurutku pertumbuhannya lambat. Daun terpanjangnya kini 24 cm dan helaiannya hanya tiga. Padahal sewaktu masih belum kupindah ke pot, benih itu tampak kukuh dan lebih sehat dibandingkan yang kutanam di karung. Kini kondisinya justru sebaliknya. Yang di karung lebih baik. Padahal dua bayi itu kuperlakukan sama kendati tempatnya berbeda. Setiap pagi dan sore kusiram dan lima hari sekali kuberi pupuk cair native microorganism (MOL). Tanah tempat tumbuh keduanya juga kusiangi dan kugemburkan hati-hati agar tidak merusak akar yang baru beradaptasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena padi dalam pot setiap hari daunnya digoyang angin kencang sedangkan yang di karung tidak? Yang di karung memang dari segi tempat memungkinkan lebih tenang. Tidak banyak angin yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ini kan rekaan secara akal sehat. Nggak tahu dari segi ilmiahnya bagaimana aku tunggu saja perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk padi yang kutanam di lahan mini, aku tidak memberinya pupuk cair. Di sini aku memberi tanah tersebut kompos kotoran kambing beberapa hari sebelum bayi padi kupindah dari tempat pembibitan. Pernah sekali lahan mini tersebut kuberi urine dari toilet ecosan Pusdakota yang telah dinetralkan. Dua minggu lagi rencanaku akan kuberikan lagi urine pada tanah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini yang jadi perhatianku adalah bagaimana agar nantinya, bila padi-padi itu berbulir (mudah-mudahan nggak ada aral melintang, ya nggak), nggak dipanen tikus ataupun burung. Sementara ini aku sudah bikin orang-orangan sawah. Tapi benarkah burung-burung bakal takut dengan orang-orangan sawah itu atau justru mereka menertawakan aku, pembuat orang-orangan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun lantas membayangkan zaman dulu di saat semua makhluk saling tergantung. Tidak ada yang dianggap jahat dan harus diusir kalau ekosistemnya berjalan dengan baik. Pangan dan kebutuhan semua makhluk terpenuhi dengan baik. Inilah sesungguhnya tugas kita di zaman ini. Merawat dan memperbaiki yang telah rusak. (Alpha Savitri) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-7927324488270176844?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/7927324488270176844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=7927324488270176844' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7927324488270176844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/7927324488270176844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/genap-sebulan-aku-bertanam-padi.html' title='Genap Sebulan Aku Bertanam Padi'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-1050687184311748017</id><published>2008-09-07T18:21:00.000+07:00</published><updated>2008-09-08T20:50:35.055+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Kisah Difabel Cerdas namun Tak Bisa Sekolah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMO-2LwEnxI/AAAAAAAAAFk/PO8aUhVvh6g/s1600-h/DSCN4785edit1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243244229266022162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 168px; CURSOR: hand; HEIGHT: 174px" height="370" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMO-2LwEnxI/AAAAAAAAAFk/PO8aUhVvh6g/s320/DSCN4785edit1.jpg" width="222" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMO-L6IdTEI/AAAAAAAAAFc/fkkCbEBvrY8/s1600-h/DSCN4763edit2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243243502981958722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 211px; CURSOR: hand; HEIGHT: 163px" height="228" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMO-L6IdTEI/AAAAAAAAAFc/fkkCbEBvrY8/s320/DSCN4763edit2.jpg" width="320" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMO-L6IdTEI/AAAAAAAAAFc/fkkCbEBvrY8/s1600-h/DSCN4763edit2.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;Hasil karya Alfan (Gambar Kiri). Alfan (berbaju biru) dan kawan-kawan bersenang-senang di sekitar rumah (Gambar Kanan). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ia Alfan. Usianya tujuh tahun. Kalau sekolah, pasti sudah kelas dua SD. Namun bocah berkulit putih ini tidak bisa mengenyam pendidikan formal sebagaimana anak seusianya. Ia memiliki pendengaran yang menurut ukuran banyak orang disebut tidak “normal” sehingga dianggap tidak pantas sekolah bersama anak-anak seusianya. Bagiku ini potret nyata perilaku diskriminasi atas kaum difabel. Kasus ini tidak sengaja kutemukan di Pasuruan pada saat aku terlibat dalam sebuah riset.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Saya sudah berusaha untuk menyekolahkan Alfan. Saya datang ke banyak sekolah di sini. Tapi tidak ada yang mau menerima meskipun anak saya cerdas.,” kata Maryati, warga Pasuruan. Alfan yang duduk di sebelahku kini dipangkunya. Maryati pun mengusap dan mencium kepala si buah hati. Matanya berkaca-kaca.&lt;br /&gt;Alfan seperti merasakan kesedihan Maryati. Matanya ikut berkaca-kaca.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya, Alfan bersedih. Padahal ia tak mendengar kata-kata kami. Ia tuna rungu. Karena tuna rungu, ia pun tidak pernah belajar berbicara. Kata-kata yang keluar tidak punya makna. Tapi, entahlah, mungkin perasaan Alfan sangat tajam sehingga tahu apa yang kami bicarakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak ini, kata Maryati, nasibnya selalu malang. ”Bahkan sejak dalam kandungan, ia selalu berusaha digugurkan ibunya. Ibunya minum jamu pahit-pahitan. Tidak berhasil, karena kandungannya terus membesar,” kata Maryati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Oh, jadi Alfan bukan anak ibu sendiri?” tanyaku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Ibu Alfan itu famili saya. Jadi bukan saya yang melahirkannya. Tapi Alfan buah hati saya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maryati melanjutkan,”Saya kasihan nasib janin itu. Karunia Tuhan kok disia-siakan. Padahal alasannya sepele. Ibunya bilang, anaknya sudah dua. Repot kalau melahirkan lagi,” kata Maryati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maryati pun meminta si jabang bayi. Sejak dalam kandungan jadi tanggungannya. Padahal Maryati dan suaminya berkekurangan. Tapi mereka rela menanggung anak yang tidak diinginkan orangtuanya itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maryati tidak berpikir, dengan hadirnya Alfan, ia dan Atim, suaminya harus bekerja semakin keras demi kelangsungan hidup bayi itu. Atim kerjanya hanya serabutan. Maryati sendiri juga sebagai pemungut sisa-sisa padi di sawah (ngasah). ”Tuhan maha besar. Kami tak takut miskin.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suami istri itu mengasuh bayi yang dinamainya Alfan itu dengan penuh kasih sayang. ”Alfan, saya tidak tahu arti nama itu, tapi nama itu enak didengar. Makanya, kami namai dia begitu,” ujar Maryati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Alfan tidak bisa mendengar, baik Maryati maupun Atim tidak tahu sebab persisnya. Atim memperkirakan, Alfan demikian karena dalam kandungan berusaha digugurkan dengan ramuan yang pahit-pahit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun Maryati tidak sepakat. ”Sebelum usia setahun, responnya terhadap bunyi masih ada. ”Alfan begitu karena disuntik dokter pada usia setahun.Waktu itu ia demam,” ujar Maryati yang kini juga berprofesi sebagai tukang pijat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu siapa yang benar. Tapi yang jelas, pendengaran Alfan memang tidak normal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Siang itu juga, aku mengetes pendengarannya. Aku sengaja menjatuhkan buku tebal di lantai saat Alfan tidak melihat ke arahku. Ia menoleh ke arah buku yang dijatuhkan. Beberapa kali kuulangi, responnya sama. Aku merasa, Alfan sesungguhnya masih bisa disembuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Dokter THT memang bilang, Alfan bisa sembuh. Tapi saya harus membeli alat bantu dengar senilai Rp 4 juta. Dari mana saya mendapatkannya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa tidak mampu mendapatkan Rp 4 juta, pasangan ini berkonsultasi ke orang-orang pintar. ”Saya sudah ke mana-mana. Setiap Jumat legi, lidahnya juga saya kerok dengan emas seperti saran salah satu orang pintar. Tapi tidak ada hasil,” ujar Maryati Airmatanya hampir berlinang. Sepertinya ia malu kulihat demikian. Ia mengusap matanya dengan tangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kata dokter pula, kemungkinan ada salah satu syaraf Alfan yang tidak normal. Yakni di bagian belakang leher. Saat Alfan tidur, Maryati sering berusaha memijat titik syaraf tersebut. Namun Alfan selalu kaget dan merasa kesakitan Maryati yang tidak tega lantas melepaskan pijatannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Kami ingin anak lekas sembuh, tapi dengan cara apa?” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kulit Alfan putih bersih. Rambutnya lurus hitam. Perawakannya sehat. ”Alfan suka minum susu. Biar mahal, saya berusaha agar ia tidak kurang gizi. Siapa tahu kalau gizinya bagus ia bisa mendengar,” kata Maryati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Alfan dinyatakan lulus dari TK di Malang (sebelum pindah ke Pasuruan dua tahun lalu, Maryati dan keluarganya tinggal di Malang) dua tahun lalu. Menurut Maryati, anaknya bisa mengikuti semua mata pelajaran di TK. Kalau diminta menggambar oleh guru, Alfan selalu menjadi yang tercepat untuk menyelesaikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Alfan juga memiliki banyak kawan bermain. Tidak saja saat masih di Malang, namun juga di Sejo. Bukan Alfan yang mendatangi mereka, namun merekalah yang selalu bermain di rumahnya. Alfan seolah mengerti bahasa kawan-kawannya dan kawan-kawan pun memaklumi Alfan yang punya keterbatasan bicara dan mendengar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak ini piawai menggambar. Ia menggambar apa saja. Mobil, rumah, robot, dan lain-lain. Imajinasinya lumayan tinggi. Kawan-kawan sebayanya bahkan banyak yang minta digambarkan sesuatu oleh Alfan. Alfan juga bisa menulis. Tapi membaca ia tidak bisa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu bertindak sebagai guru bagi Alfan. Ia menciptakan gerakan-gerakan yang mudah dipahami anaknya. Setiap malam sang ibu mendongeng. Macam-macam yang didongengkan. Komik-komik juga diceritakan. Alfan, meski tidak mendengar, tapi ibunya yakin, paham akan kisah-kisah itu. ”Karena Alfan itu cerdas. Hanya tidak punya alat bantu dengar,” kata sang ibu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Alfan tidak masuk SLB?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Anak saya normal. Entah kapan saya bisa membelikan alat bantu dengar, tapi saya pasti bisa. Alfan akan kembali normal,” tegas Maryati. (Alpha Savitri)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-1050687184311748017?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/1050687184311748017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=1050687184311748017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1050687184311748017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1050687184311748017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/alfan-yang-cerdas-namun-tak-bisa.html' title='Kisah Difabel Cerdas namun Tak Bisa Sekolah'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMO-2LwEnxI/AAAAAAAAAFk/PO8aUhVvh6g/s72-c/DSCN4785edit1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-5074088746982914099</id><published>2008-09-06T22:17:00.001+07:00</published><updated>2008-09-10T14:38:12.009+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Rp 45 Juta untuk Kampung Zero Waste di Surabaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMKkKD22AwI/AAAAAAAAAFM/PnI9MTkJkU0/s1600-h/DSCN7833.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242933408953664258" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="188" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMKkKD22AwI/AAAAAAAAAFM/PnI9MTkJkU0/s320/DSCN7833.JPG" width="273" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tamu dari Pemda NTT sedang melihat-lihat hasil karya kerajinan dari kemasan-kemasan bekas yang dibuat warga RT 3, RW 14, Rungkut Lor Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya, jadi juga kampung RT 3, RW 14 Rungkut Lor Surabaya memenangi festival kampung bersih, hijau, dan sehat di &lt;em&gt;Surabaya Green and Clean&lt;/em&gt; untuk kategori kampung maju. Itu artinya, dari seluruh RT yang masuk dalam kategori kampung maju di Surabaya, tahun ini, RT 3 yang paling unggul. &lt;em&gt;Best of The Best&lt;/em&gt;, bagitu tulisan yang tertera di piagam penghargaan dan piala buat mereka. Penyelenggara lomba adalah PT Unilever Tbk didukung Jawa Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharuan menyergapku saat beberapa hari lalu mereka, sekampung melakukan kirab piala dan berhenti di kantorku Pusdakota. Sebagian besar peserta kirab adalah para ibu. Tua muda tumplek blek jadi satu. Melampiaskan kebahagiaan lewat menari. Yang tua-tua kulihat lebih hot tariannya. Sepertinya nggak ingat suami, anak, dan cucu. Hmmm, biarlah begitu. Mereka berhak menikmati hasil kekompakan itu. Mereka berhak menikmati kemenangan. Kami sekantor memberi ucapan selamat pada mereka satu per satu. Kami memotret kemenangan mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami juga merekamnya untuk jadi film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kampung itu, warganya memang luar biasa kompaknya. Mereka terilhami RT sebela&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMKktOY5tNI/AAAAAAAAAFU/o85bENN3t5Q/s1600-h/DSCN7837.JPG"&gt;&lt;/a&gt;h yang sudah memilah dan mengolah sampah sejak tahun 2000. Mereka akhirnya ikut melakukan kerja-kerja di bidang lingkungan. Tahun 2005 baru mulai, hasilnya sudah sedemikian fantastis dalam kurun hanya tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kampung yang baru berbenah bila ada lomba-lomba kebersihan. Seperti sulapan rasanya. Infrastruktur yang berhubungan dengan kebersihan dan penghijauan tiba-tiba ada pas juri datang. Dan ketika nggak ada lomba, ya kembali ke perilaku asal. Tapi kulihat warga kampung ini tidak seperti itu perilakunya. Ada atau nggak ada lomba mereka tetap melakukan perawatan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, tahun 2004, saat aku masih jadi staf baru di Pusdakota, kampung yang menjadi tetangga kantor Pusdakota ini – penghuninya rata-rata berstrata menengah ke bawah -- kulihat &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; sedap dipandang mata. Rumah-rumah berdempetan. Tempat-tempat kos yang kecil-kecil berserakan. Selokan bau. CD dan BH usang bahkan tak malu-malu ditaruh di bagian depan jemuran di depan rumah. Tanaman pun cuma sebiji dua biji. Alasannya, mereka nggak punya lahan buat menanam. Wong gangnya saja, cuma bisa dilalui motor. Warga kost yang jumlahnya sampai 70 persen dari penduduk kampung menghuni kamar-kamar sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun warga kampung mau berbenah. Mereka punya Rencana Strategis (Renstra Kampung), yakni perencanaan kampung untuk jangka panjang. Mereka taat dengan apa yang mereka rencanakan. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan pemudi, anak-anak, semuanya kompak bergotong royong melipatgandakan modal sosial kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat respek pada stamina mereka untuk membuat inovasi buat kampung. Sekarang nggak ada lagi BH dan CD yang nyantol di jemuran depan rumah atau kos-kosan. Kampung sempit itu membenahi tata ruangnya. Mural-mural yang berisi pesan lingkungan selalu hadir di tembok-tembok kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang penghijauan, kampung ini memiliki jadwal pembibitan kolektif untuk tanaman obat keluarga (toga) dan tanaman hias. Tak heran kampung jadi hijau, semua rumah memiliki puluhan jenis tanaman dalam pot, kini mereka bahkan punya unit usaha kolektif di bidang tanaman dan pupuk. Siapa yang beli? Para pemilik stan bunga di pasar bunga Bratang. Juga, tamu-tamu yang datang ke kampung ini. Ya, banyak sekali tamu yang berkunjung ke kampung ini untuk studi banding. Mereka tak cuma dari Surabaya, namun juga kota-kota lain termasuk mancanegara. Para mitra kantorku Pusdakota, dari mana pun kalau datang ke Pusdakota, juga ingin datang pula ke kampung ini. Dan, rata-rata mereka beli tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tanaman, para tamu juga seringkali membeli hasil karya daur ulang plastik bekas pakai ibu-ibu. Bisa tas, dompet, taplak dan sebagainya. Sekali waktu ada pula tamu yang berdonasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dua bulan lalu, RT 3 sudah &lt;em&gt;zero waste&lt;/em&gt;. Mereka memang tidak biasa melafalkan slogan &lt;em&gt;reduce&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;reuse&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;recycle &lt;/em&gt;karena lidah tak terbiasa berbahasa Inggris. Namun mereka menjalankan prinsip-prinsipnya. Tidak ada lagi sampah yang dibuang, baik di TPS apalagi di TPA. Bagi yang punya keranjang takakura, sampah dapur diolah di keranjang takakura. Untuk yang tidak memiliki keranjang takakura – terutama warga kos-kosan – memilah sampah organik dan anorganik. Semua sampah anorganik dikelola karangtaruna setempat. Sampah organik diolah di Graha Kompos Pusdakota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung ini memiliki peraturan tak tertulis yang ditaati warga: sampah harus dipilah. Monitoring kader lingkungan atas kesempurnaan hasil pilahan sampah pada warga, berjalan dengan baik. Ember-ember tempat sampah memiliki nomor. Siapa yang tidak sempurna memilah sampah akan ketahuan. Tukang sampah mencatat dan laporannya masuk ketua RT. Bila ada yang bandel tidak memilah meski telah diperingatkan, ia akan sulit mengurus surat-surat. Untunglah nggak sampai ada kasus seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang sanitasi pun warga kampung ini lumayan bagus kerjaannya. Sejak dua tahun lalu, ibu-ibu di kampung ini membuat bakteri cair, mikroorganisme lokal (MOL) dengan bahan-bahan murah dan sederhana. Semua rumah di kampung ini menuangkan bakteri cair tersebut, di tempat cuci piring, WC, wastafel, dan sebagainya sehingga bau nggak enak di tempat-tempat pembuangan air rumah tangga bisa diselesaikan. Got-got pun sekali waktu dituangi bakteri cair mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung ini memiliki model &lt;em&gt;water treatment&lt;/em&gt; berupa pengelolaan air sumur yang tercemar (berbau bangir dan berwarna kuning kecoklatan). Sumur dikelola sedemikian rupa dengan bahan-bahan sederhana macam ijuk dan arang sehingga air sumur tersebut jadi ”siap pakai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara mereka juga memiliki model water treatment untuk selokan yang berbatasan dengan kampung lain lewat sekat-sekat sederhana dan pemberian bakteri cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kurasa, mereka pantas menjadi juara. Berapa hadiahnya? Rp 45 juta. Bisa dibayangkan, kampung itu memperoleh Rp 45 juta. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang mereka perbuat dengan uang yang relatif banyak itu, nantinya? Lain orang sudah pasti lain usulannya. Aku berharap mereka bisa memaknai hasil kerja keras mereka secara bijak dan menggunakan dana itu dengan cara bijak pula untuk pengembangan kampung. Ini saatnya, kampung itu diuji lewat hadiah uang yang relatif besar. Semoga kampung itu lulus ujian: Menggunakan secara bijak dana yang diperoleh dan semakin solid. (Alpha Savitri)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-5074088746982914099?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/5074088746982914099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=5074088746982914099' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5074088746982914099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/5074088746982914099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/rp-45-juta-untuk-kampung-zero-waste-di.html' title='Rp 45 Juta untuk Kampung Zero Waste di Surabaya'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMKkKD22AwI/AAAAAAAAAFM/PnI9MTkJkU0/s72-c/DSCN7833.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6785329637260820958</id><published>2008-09-05T14:40:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:39:26.610+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Mata Air Dewa-dewi</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMDjp-Tn04I/AAAAAAAAAFE/5uDQp8Z0-Tg/s1600-h/pronojiwo1.jpg"&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242440276498699138" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 211px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" height="150" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMDjp-Tn04I/AAAAAAAAAFE/5uDQp8Z0-Tg/s320/pronojiwo1.jpg" width="222" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Sumber air pasti akan cukup untuk manusia &lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;selama manusia tidak rakus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;(Mahatma Gandhi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mata air dewa-dewi. Itu sebutanku. Sumber itu letaknya tersembunyi, di sebuah wilayah di Lumajang, di kaki Gunung Semeru. Untuk sampai ke tempat yang memiliki beragam rupa air terjun menawan tersebut, aku mesti menuruni jalan setapak, melewati deretan kebun salak yang sangat rimbun. Air di situ melimpah, menyegarkan, dan bisa diminum langsung. Kalau berenang di kolam-kolam alami di situ, badan ini jadi sangat bugar. Ikan-ikan, udang, dan spesies air lainnya masih sangat melimpah. Serangga-serangga dan tanaman di sekitarnya, terutama pakis sangat beraneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal sumber mata air itu dari seorang kawan mainku, Ratih Anggrahesti yang memiliki rumah di wilayah itu. Sejak kenal pertama beberapa waktu lalu, aku pasti menyempatkan diri ke sana, beberapa bulan sekali. Sehari dua hari cuti hanya untuk mandi, berenang, minum, dan meditasi, pikiran ini jernih kembali. Kalau nggak ke sana agak lama, rasanya mata air itu memanggil-manggilku. Sudah terlanjur cinta sih. Di sini, aku juga menyertakan fotoku pas berenang. Dipotret Ratih pake kamera yang ada di HP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu, Tak ada yang menggangguku saat berenang dan mandi. Tak ada yang memelototi tubuhku. Orang yang lewat pastilah penduduk setempat dan mereka satu dua saja. Itu pun kalau pagi sekali. Bahkan kini mereka mengenalku. Bila aku turun ke mata air agak siang sedikit, sekitar pukul 7.30, misalnya, tidak ada seorang pun di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak pernah takut sendirian. Aku juga nggak pernah takut diperkosa di situ, kendati sepi. Bahkan kalau ingin berenang telanjang, telanjang saja. Nggak akan ada yang ngeliat, kecuali spesies-spesies setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Ratih dan para tetangganya beruntung memiliki kekayaan alam kolektif yang melimpah. Tanah subur, hewan-hewan liar termasuk kera, aneka spesies tanaman, juga sumber air yang melimpah. Ini luar biasa dan warga setempat mestinya bisa menghargai dan melakukan konservasi atas potensi yang luar biasa ini demi kemaslahatan mereka bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berenang-renang di kolam-kolam alami tersebut, saat berada di bawah air terjun kecil-kecil, saat memandikan kepalaku di pancuran di atasku, aku bertanya-tanya, apakah sepuluh, dua puluh, atau empat puluh tahun ke depan mata air ini masih alami? Apakah penduduk setempat masih menjadi tuan dan nyonya atas mata airnya sendiri? Dalam hati aku diliputi kekhawatiran, mata air ini akan jatuh ke tangan pengusaha-pengusaha air minum. Jangan-jangan mereka nanti harus bayar ke pengusaha air, bahkan untuk air minum yang diambil dari desa mereka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sumber-sumber air di negeri ini dari tahun ke tahun memang terus menyusut dan kotor kena limbah. Tak cuma itu, warga di sekitar sumber air seringkali telah kehilangan hak kolektif untuk mengelolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah ini masih tersembunyi dan belum disentuh iklim pariwisata sekalipun potensi untuk ini sangat besar. Namun aku bisa memastikan, tak lama lagi banyak orang terkesan dengan wilayah yang indah dengan penduduk ramah dan memiliki beraneka budaya dan agama ini. Sebagaimana aku yang sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama. Dalam hati aku berkata, kalau nantinya iklim pariwisata menghampiri tempat ini, semoga pariwisatanya bersifat budaya dan spiritual. Sehingga, sumber alam dan budaya yang melimpah di wilayah ini tetap terjaga utuh. Dan semua mata air di situ pun akan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku mulai ngompori Ratih untuk lebih dalam berpikir tentang desanya, kendati ia sehari-hari hidup di Surabaya. Dari mata air dewa dewi itu Ratih dan moyangnya berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu harus bangga dengan desamu yang punya mata air dewa-dewi. Jangan lupakan sejarahmu, Tih. ,” ujarku terus-menerus. Sampai sekarang aku terus ngompori agar ia beraksi demi desanya. (Alpha Savitri) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6785329637260820958?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6785329637260820958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6785329637260820958' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6785329637260820958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6785329637260820958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/mata-air-dewa-dewi.html' title='Mata Air Dewa-dewi'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SMDjp-Tn04I/AAAAAAAAAFE/5uDQp8Z0-Tg/s72-c/pronojiwo1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-4433980282899555146</id><published>2008-09-05T14:31:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:41:17.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Anak-anak Muda Berjuang menuju Organic Life</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku punya kawan-kawan, anak muda idealis, cinta lingkungan, mau bekerja keras mewujudkan idealismenya, dan mau melakukan hal-hal kecil. Sari, Harti, Heri, Anton, Wajib, Bangkit, Ucup. Usianya 18 sampai 25. Mereka menamakan diri anak-anak Carpedi dan digembleng Pusdakota. Bergaul dengan mereka selalu membuat aku kembali bertenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib, bangkit, dan Ucup mengelola sampah menjadi kompos dan melakukan kampanye kesadaran lingkungan di dekat rumah mereka masing-masing. Heri dan Anton mengorganisasikan para petani untuk berpindah dari metode bertani konvensional non organik ke metode pertanian organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memasarkan hasil pertanian organik dari para petani, merancang desain yang sesuai dengan prinsip-prinsip fair trade agar para petani tidak dirugikan. Di tengah waktu luangnya yang sempit, mereka sempat menanam padi. Sedangkan Sari dan Harti menjadi garda depan pemasaran produk-produk organik yang dihasilkan para petani, baik itu beras, kedelai, kacang tanah, dll. Oh ya, mereka sekali waktu pergi bareng-bareng naik pick up ke berbagai wilayah di Surabaya untuk berjualan pecel organik dan produk-produk organik lainnya. Pendeknya, mereka tak pernah lelah menabur karya di bidang lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, lewat blog ini aku pengen juga mengkampanyekan produk-produk organik mereka. Dan produk-produk organik yang telah sampai ke pelanggan pasti disertai kontrol kualitas yang ketat. Ini produk-produk organik tersebut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Beras Menthik Rp 9000&lt;br /&gt;- Beras Pandanwangi Rp 8500&lt;br /&gt;- Kacang Tanah Rp 15000 per kg&lt;br /&gt;- Kacang Hijau Rp 11000 per kg&lt;br /&gt;- Beras Merah Rp 10000 per kg&lt;br /&gt;- Kedelai Rp 12000 per kg&lt;br /&gt;- Keranjang Kompos Takakura Rp 90000&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di samping itu mereka juga menyediakan produk-produk lain semisal kunir instan, jahe instan, rosela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa kita lihat harga yang tertera. Lebih murah ketimbang harga hasil-hasil organik di pasaran pada umumnya, bukan, bukan? Harga di atas sudah menguntungkan semua pihak, terutama petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri merupakan pelanggan fanatik mereka untuk beras organik dan kedelai. Di samping sehat, beras organik itu sangat lezat di lidah dan mengundang selera makan. Untuk kedelai, aku juga ambil dari mereka karena saat ini sulit sekali menemukan kedelai lokal di pasaran Surabaya. Aku sedapat mungkin menghindari kedelai impor karena kebanyakan sudah melalui rekayasa genetika. (Alpha Savitri)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-4433980282899555146?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/4433980282899555146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=4433980282899555146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4433980282899555146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4433980282899555146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/anak-anak-muda-berjuang-menuju-organic.html' title='Anak-anak Muda Berjuang menuju Organic Life'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6395001946487407162</id><published>2008-09-02T17:19:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:42:42.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Mengepal Itu Nggak Mudah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SL0UZCVuwnI/AAAAAAAAAE0/Dz77EDS65lE/s1600-h/DSC_0296.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241367961686426226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SL0UZCVuwnI/AAAAAAAAAE0/Dz77EDS65lE/s200/DSC_0296.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mengepal bibit merupakan selingan yang kusukai saat jenuh di kantor. Kawan-kawanku pun menyukai selingan ini. Pada sore hari, kadang tanpa sengaja kami dari berbagai divisi ngumpul bareng di tempat pembibitan sayur di kebun depan Pusdakota. Tangan-tangan ini terasa gatal untuk mengepal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore tadi aku ke kebun depan kantor untuk mencari hawa segar sejenak. Aku barusan menerima tamu, para pemikir. He.. he..he.. Topiknya agak serius sehingga pikiran ini perlu refreshing. Sampai di kebun, kulihat kawanku Mas Gun sedang mengepal bibit sawi. Aku segera menghampiri dan membantunya. Belum lama aku di situ, anak-anak yang biasa main-main di Pendopo Pusdakota datang. Mereka pun nimbrung ikut mengepal. Tapi karena baru pertama kali melakukan, hasilnya belepotan. Tapi namanya saja inisiatif sambil belajar, ya kuapresiasi. Foto-foto mereka ku-upload juga di sini. Lihat, mereka tampak bersemangat mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memindah bibit sayur yang telah berusia dua minggu untuk dikepal-kepalkan di tangan itu nggak mudah. Kelihatannya sih hanya tinggal menaruh tanah di dalam tangan kita, lantas helaian bibit sayur yang telah bersemi kita pindahkan di situ dan kita kepal-kepal. Kita tunggu sampai beberapa hari untuk kemudian dipindah di lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua hasil kepalan bagus bila dipindah di lahan. Salah sedikit dalam mengepal, sayuran tidak berkembang dengan baik. Makanya, aku super hati-hati untukmelakukan. Takut kalau pertumbuhannya nggak bisa bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat pengalamanku membibit kali pertama. Hanya mengepal satu bibit saja, sulitnya setengah mati. Hasilnya nggak begitu lurus dan lama sekali melakukannya. Beda dengan sekarang. Hasilnya lebih bagus dipandang dan kalau dipindah di lahan, pertumbuhannya kemungkinan besar bagus. Mengepal yang bagus itu butuh pengalaman. Semakin tinggi jam terbang, semakin hasilnya bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memercayai juga teori tentang pH tanah yang bagus untuk tanaman sehingga jenis tanah, apakah liat, berpasir, atau sedang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhannya. Aku juga percaya bahwa tanaman sayuran pada umumnya perlu sinar yang cukup banyak. Aku juga tahu bahwa pengepalan antara lain sebagai sarana adaptasi dari tempat persemaian ke lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di atas teori-teori pertanian seperti itu, bagiku ketelatenan dan perasaan juga harus dinomorsatukan. Semakin tidak telaten, hasilnya semakin acak-acakan. Perasaan juga diperlukan. Percaya atau nggak, tanaman itu makhluk hidup yang perlu sentuhan pas agar ia bisa tumbuh dan berkembang dengan bagus. Sejak di tempat persemaian, tanaman harus kita perlakukan sebagai sahabat kita. Kita akan merasa sakit kalau sahabat kita sakit dan kita akan merasa senang kalau sahabat kita senang, bukan? Tanamanku di rumah misalnya, yang tidak begitu kuperhatikan, pertumbuhannya tidak sebaik yang kuperhatikan dan kucermati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakukan semua makhluk sebagai sahabatmu, maka mereka akan berterima kasih padamu, begitu kira-kira pesan bijak yang kutangkap sesorean ini. (Alpha Savitri)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6395001946487407162?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6395001946487407162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6395001946487407162' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6395001946487407162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6395001946487407162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/mengepal-itu-nggak-mudah.html' title='Mengepal Itu Nggak Mudah'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SL0UZCVuwnI/AAAAAAAAAE0/Dz77EDS65lE/s72-c/DSC_0296.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-3763683440921239068</id><published>2008-09-01T20:21:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T16:14:52.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Aku Ingat Takakura San</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SL5VEIYkwwI/AAAAAAAAAE8/Gou5HGmcgKw/s1600-h/Takakura.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241720545764229890" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SL5VEIYkwwI/AAAAAAAAAE8/Gou5HGmcgKw/s200/Takakura.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Malam ini aku mengingat Takakura San. Aku ingat rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya. Aku ingat kepintarannya dan kerendahatiannya. Aku ingat sikap-sikap humanisnya. Terima kasih Tuhan, kau membuatku kenal dengannya. Kau membuatku mampu menangkap saripati keindahannya. Semoga kebaikan yang melimpah padanya mengalir ke jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, Takakura San itu pernah mengasisteni tim dari kantorku Pusdakota untuk riset teknologi pengomposan skala rumah tangga yang kini dikenal dengan Keranjang Takakura pada tahun 2005. Usai proyek riset tersebut, beberapa proyek lain dengan kantorku susul-menyusul. Jadilah dia sering terbang dari kediamannya di Kitakyusu Jepang ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhitung, sudah satu setengah tahun ini Takakura San nggak lagi datang ke kantorku. Hanya partnernya, Tetsuya Ishida San yang masih sering datang karena ia memiliki beberapa kerjasama dengan pemerintah Kota Surabaya dan kalau ke Surabaya pasti mampir ke Pusdakota. Menurut Ishida San, kopi Pusdakota ngangeni. Kedatangan Ishida San seringkali jadi penghibur kami. Tapi terasa kurang karena biasanya mereka datang bersama, kini nggak lagi. Ishida San hanya ditemani Mbak Vinsa, interpreter yang punya kapabilitas luar biasa, menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takakura San&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLyYxkVtHHI/AAAAAAAAAEs/WFmLKCSpNU0/s1600-h/DSCN0771.jpg"&gt;&lt;/a&gt; terus-menerus datang dalam ingatanku malam ini. Aku ingat, sekali waktu ke Surabaya, lantas ke kantorku, memberikan hadiah sepasang mikroskop. Katanya, itu mikroskop kesayangannya dan kesayangan istrinya. Kata Pak Takakura, baik mikroskopnya maupun mikroskop istrinya tersebut dibeli pas mereka belum nikah, bahkan belum kenal satu sama lain. kala sudah menikah mereka tahu memiliki mikroskop yang sama. Ya, begitulah mungkin kalau sudah jodoh. Dan sepasang mikroskop yang sama dan sebangun itu diberikannya pada Pusdakota karena ia tahu anak-anak kampung yang biasa datang ke Pusdakota untuk belajar pasti memerlukannya. Agung sekali pemikiran Takakura San. Kini, mikroskop itu memang sangat bermanfaat. Devi kawanku, membimbing anak-anak anggota perpustakaan Pusdakota untuk mengenal mikroskop dan fungsi-fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLyYxkVtHHI/AAAAAAAAAEs/WFmLKCSpNU0/s1600-h/DSCN0771.jpg"&gt;&lt;/a&gt;ku juga ingat sebuah kejadian. Takakura San mahir mempraktikkan pijat refleksi. Ia menyentuhkan kayu serupa pensil ke beberapa titik di sekitar kaki atau tangan pasiennya. Seringkali satu atau dua titik yang disentuh akan terasa sangat sakit. Aku pernah menjerit-jerit kesakitan saat ia menyentuhkan kayunya pada salah satu titik di kakiku. Langsung ia bilang kalau kandunganku sakit. Waktu itu aku nggak percaya. Ternyata, dia benar. karena belum lama ini aku operasi untuk mengangkat myoma dalam kandunganku. Kepiawaiannya dalam hal pijat-memijat ditulari sang istri. ”Istri saya tangannya sangat menyembuhkan. Banyak orang yang minta bantuannya kalau sakit. Menurut istri saya, saya masih kasar kalau emegang pasien,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma kami di Pusdakota yang terkesan dengannnya. Komunitas di sekitar kantor kami juga terkesan dengan sikap hangatnya. Bila datang ke Pusdakota, Takakura San b&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLyYxkVtHHI/AAAAAAAAAEs/WFmLKCSpNU0/s1600-h/DSCN0771.jpg"&gt;&lt;/a&gt;erdua dengan Ishida San, memang selalu menyempatkan diri datang ke kampung Rungkut, melihat-lihat keranjang Takakura yang dipakai warga. Sesekali pula keduanya mengantar para tamu asing yang besertanya, termasuk wartawan koran kenamaan &lt;em&gt;Asahi Shimbun&lt;/em&gt; yang ingin meliput partisipasi warga RW 14 Rungkut Lor Surabaya di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Warga Rungkut Lor, dengan senang hati menerimanya, terutama kaum ibu. Ibu-ibu ini pasti minta kupotret bareng Takakura San dan Ishida San.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku lantas berputar ke makan siang bareng yang selalu diselenggarakan Pusdakota untuk para stafnya. Takakura San yang kelahiran 27 April 1959 ini tak pernah menampik makanan apa pun. Bahkan yang pedas pun ia mau. ”Semuanya enak. Tapi saya paling suka kopi yang disajikan. Enak sekali,” ujarnya dalam bahasa Jepang. Ia memang penyuka kopi tanpa gula yang diminum dalam keadaan panas. Kalau sedang senggang di Pusdakota, misalnya, ia juga sering memasak di dapur kantor lembaga ini. Masakan khasnya yang disukai staf Pusdakota adalah semacam kare ayam berbumbu kental dan mie. Semua bumbu yang dipakai adalah hasil improvisasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takakura San memang piawai mengelola hubungan interpersonal dengan siapa pun. Aku pernah mewawancarainya untuk sebuah majalah dan menanyakan apa sih rahasianya sehingga ia bisa bergaul dengan siapa pun. Ternyata, lulusan &lt;em&gt;Himeji Institute of Technology&lt;/em&gt; jurusan kimia terapan ini memang gemar berorganisasi. Kini dia juga mengaktivasi kegiatan &lt;em&gt;voluntary &lt;/em&gt;di bidang lingkungan hidup lewat kegiatan &lt;em&gt;advisory&lt;/em&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu mahasiswa, tenaga ahli di perusahaan G-Power Jepang ini juga dikenal sebagai aktivis kegiatan kampus. Tugasnya sebagai aktivis mahasiswa, antara lain juga merancang kegiatan-kegiatan kampus yang bersifat kemasyarakatan agar lebih menarik. ”Sama seperti yang dilakukan Pusdakota untuk komunitas,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takakura San benar-benar jadi inspirasiku untuk terus menampilkan ketulusan dan karya-karya terbaik sepanjang hayat. *vit&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-3763683440921239068?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/3763683440921239068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=3763683440921239068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3763683440921239068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3763683440921239068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/aku-ingat-takakura-san.html' title='Aku Ingat Takakura San'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SL5VEIYkwwI/AAAAAAAAAE8/Gou5HGmcgKw/s72-c/Takakura.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-9046671065380782429</id><published>2008-09-01T18:51:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:43:28.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Selamat Siang Pak Tani</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLvYf1TPnsI/AAAAAAAAAEc/s5Noz1Bl10M/s1600-h/DSCN7876.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241020632771043010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 177px; CURSOR: hand; HEIGHT: 227px" height="214" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLvYf1TPnsI/AAAAAAAAAEc/s5Noz1Bl10M/s200/DSCN7876.jpg" width="167" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Meskipun belum sebulan menanam padi, baik di pot maupun di sepetak kecil tanah di kebun kantorku Pusdakota, namun aku sudah khawatir tentang tikus atau burung yang nantinya bisa saja berebut untuk memakan biji-biji padi itu (bila padiku tumbuh bagus, sih). Soalnya, kala pagi, begitu banyak burung yang mampir di kebun Pusdakota yang menyejukkan untuk cari makan. Tikus yang besar-besar pun tak jarang kulihat di lahan (termasuk ular).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasku banyak demi menyelamatkan padi. Misalnya, membuat barikade agar selamat dari dua binatang itu. Tapi itu nanti saja karena untuk itu aku memerlukan bahan dan alat yang kini belum kupunyai. Yang bisa kukerjakan duluan aku kerjakan, yakni membuat orang-orangan sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun membuat orang-orangan sawah apa adanya dari barang-barang bekas pakai yang ada di kantorku, yakni plastik-plastik, bambu-bambu, jaket usang, tali rafia bekas pakai, kawat yang sudah teyengan. Oh ya, aku juga melengkapinya dengan topi bundar yang biasa dipakai pak tani kalau lagi ke swah. Pokoknya semuanya dari barang bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuatnya dalam waktu cukup singkat. Cuma setengah jam. Wah, hebat juga, aku, pekikku dalam hati, agak narsis. Orang-orangan pun kupasang di petakku dan kuikat dengan kawat di tiang agar tidak terbawa angin. Kawanku, Mas Ade yang melihat pak tani jadi-jadian tersebut langsung nyeletuk,” Wah, Mbak, burung di kota itu IQ-nya tinggi. Indeks Prestasinya 3,94. Mereka pasti ketawa terkekeh-kekeh liat orang-oranganmu,” ujarnya. Aku ikut tertawa dan berpikir, jangan-jangan iya. IP mereka 3,94. Iya, ya, benar juga. Tapi nggak apa-apalah. Namanya juga usaha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mas Koko, kawanku yang lain, jauh lebih dahsyat komentarnya. "Mbak Vitri nggak usah kerja di kantor. Kerja saja di dekat petak padi ini. Nanti saya sediakan meja untuk naruh laptop. Jadi kalau ada burung, langsung bisa diusir," katanya. "Hmmm, kata-katamu itu nggak cocok dengan wajah bijakmu, Mas," ujarku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nggak tahulah, kenapa pas aku sudah selesai pasang orang-orangan, banyak kawan yang berdatangan ke dekat petak sawah itu. (Kok nggak tadi sih, saat aku pas sibuk-sibuknya). Jadinya, lingkungan dekat petak padiku persis arena meeting. Kerjaan ditinggal sampai lamaaa, sekali. (he, he, he, bisa puyeng bos kantorku kalau pada saat jam kerja, para staf sering duduk-duduk dan ngobrol ngalor-ngidul. Tapi yang ini di luar kebiasaan, kok. Sungguuuuuhhhh. Cuma sekali itu). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat menyiram tanah tempat tinggal padi tidak lama setelah orang-orangan tersebut kuberdirikan dengan gagah, aku terbayang, sebaiknya orang-orangan tersebut tidak sekadar orang-orangan. Dia harus bisa menjadi penyampai pesan. Dia kuibaratkan petani. Tapi bukan petani yang nggak ngerti apa-apa. Dia bukan petani yang mudah dibohongi. Ya, dia itu petani pintar. Dia melakukan perjuangan untuk melepaskan para petani negeri ini dari ketertindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lantas ingat tentang &lt;em&gt;headline&lt;/em&gt; kompas hari ini: &lt;em&gt;Indonesia Masuk ”Perangkap Pangan”.&lt;/em&gt; Judul yang cukup provokatif. Dan isi beritanya, lebih provokatif lagi karena disertai data-data yang kuat. Intinya, tujuh komoditas pangan utama non beras yang kini dikonsumsi masyarakat sangat tergantung pada impor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, untuk urusan makanan pokok, kapitalisme global telah memerangkap kita mulai dari hulu sampai hilir. Benih, pupuk, pestisida, mereka yang kuasai. Industri pengolahan makanan, mereka juga yang berjaya. Lantas mereka pun menguasai sektor hilir lewat hypermarketnya. Petani kita cuma buruh. Pemerintah kita juga bisa diperintah sekehendak hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orangan yang kutancapkan tadi harus bercerita tentang itu semua. Aku pun lantas menempelkan koran Kompas yang memuat grafik-grafik dan diagram tentang kerawanan pangan di negara kita pada sehelai karton bekas. Grafik-grafik tersebut sangat provokatif menurutku. Aku melapisinya dengan plastik agar nggak cepat lapuk oleh panas dan hujan. Setelah ujung-ujungnya kupasangi tali, aku mengalungkannya ke orang-orangan sawah itu. Selamat siang, pak tani yang berdaya,” ujarku saat mengalungkan pesan tentang kerawanan pangan itu di lehernya. (Alpha Savitri)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-9046671065380782429?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/9046671065380782429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=9046671065380782429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/9046671065380782429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/9046671065380782429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/09/selamat-siang-pak-tani-yang-berdaya.html' title='Selamat Siang Pak Tani'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLvYf1TPnsI/AAAAAAAAAEc/s5Noz1Bl10M/s72-c/DSCN7876.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2637050866846593374</id><published>2008-08-31T11:04:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:46:49.084+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Seandainya Tinja Orang Sedesa untuk Pupuk Organik</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini aku cuti dan singgah di rumah kawan suamiku di Desa Sumberjati, Kademangan, Blitar. Wilayah berkapur itu sungguh sejuk. Tuan rumah adalah petani, sekaligus peternak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di desa itu aku sempat merasakan buang air besar di jumbleng, istilahnya orang Jawa. Tuan rumah tidak memiliki WC. Jumbleng itu lubang tempat buang air besar di kebun. Letaknya relatif jauh karena aku diantar tuan rumah melewati dua rumah dengan jarak yang relatif berjauhan satu sama lain. Jumbleng itu ada di kebun yang sangat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat itu kecil saja. Sekelilingnya ditutupi batu-bata yang sudah lumutan. Di dalamnya, kita menginjak tegel semen. Cuma tersisa lubang sebesar satu bata untuk kotoran. Aku ngepas-paskan agar kotoranku bisa masuk lubang. Cukup khawatir juga. Untung tinja itu sukses masuk lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ada di "toilet" itu, aku tidak membaui tinja. Padahal isinya jelas tinja. Apa karena ada di kebun terbuka atau karena di daerah yang tanahnya berkapur? Entahlah. Tapi aku ingat waktu kecil pernah pula pergi ke Mojokerto dan buang air di jumbleng. Baunya, sampai sekarang masih kukenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir-pikir, apa yang membuatnya tidak berbau sedangkan jumbleng serupa di kebun di sebuah desa di Mojokerto berbau. Aku melihat sekelilingku. Mungkinkah karena di sekitar jumbleng banyak pohon? Di antara berbagai macam pohon yang menyejukkan dan membawa damai di hati ini, aku hanya kenal beberapa. Selebihnya tidak. Apakah mungkin salah satu atau beberapa pohon ini yang menetralkan bau tak sedap? Aku langsung ingat kompleks pekuburan di Trunyan, Bali, tempat mayat-mayat digeletakkan begitu saja. Mayat-mayat di pekuburan ini tidak berbau busuk karena di sekitarnya terdapat pohon yang bisa menetralkan bau tidak sedap. Mungkinkah di pekarangan tempat aku buang air besar itu ada pohon sebagaimana yang ada di Trunyan? Mungkinkah ada &lt;em&gt;treatment&lt;/em&gt; khusus dengan cara organik yang membuat juglangan tersebut ter-&lt;em&gt;manage&lt;/em&gt; sehingga tidak pernah meledak meskipun lubangnya kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat untuk bertanya-tanya soal jumbleng dan nasib tinja di dalamnya ini sesungguhnya begitu kuat dalam diriku. Namun untuk mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada si tuan rumah aku sungkan. Soalnya, kulihat, tuan rumahku juga sungkan karena aku harus pakai juglangan itu. Beberapa kali dia minta maaf soal ini padaku. Padahal aku nggak masalah. Malah bersyukur bisa mengalami sesuatu di luar kebiasaan. Pengalaman berharga seperti ini jarang kudapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, aku kepikiran tentang jumbleng tersebut sampai sekarang. Aku agak menyesal sebenarnya, kenapa itu &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; kupotret padahal aku membawa kamera. Tinja yang ada di dalam jumbleng yang masih banyak di desa itu, sesungguhnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, sebagaimana yang dilakukan kantorku. Dengan sedikit instalasi, pupuk-pupuk yang berasal dari tinja bisa dipanen untuk sawah mereka. Di desa itu banyak terdapat sawah. Sayangnya, dari hasil obrolan dengan tuan rumah, mereka masih memakai metode konvensional untuk mengolah lahan. Mereka tidak bercocok tanam dengan cara-cara organik. Padahal yang organik di samping menyehatkan juga sangat irit dan arif terhadap lingkungan. Tuan rumah sesungguhnya tahu itu, namun dia bilang belum melakukan cocok tanam organik karena semua keperluan sawah adalah hasil drop-dropan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tinja manusia, di samping kotoran hewan, menurutku merupakan salah satu solusi kelangkaan pupuk yang kini benar-benar membawa petani di jurang kehancuran. Aku sesungguhnya ingin ngobrol lebih dalam tentang hal ini dengan tuan rumah. Aku juga pengen mendapat ilmu pertanian darinya karena separo hidupnya didedikasikan pada pertanian. Pastilah ia sangat ahli dan bisa membagikan ilmunya padaku. Sebaliknya, aku, mungkin bisa membagikan sedikit pengetahuanku tentang pupuk urine dan tinja manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, alam telah menyediakan segalanya untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Tinja pun bisa jadi berkah asal tahu pengelolaan dan pemanfaatannya. Kantorku, Pusdakota, telah mempraktikkan pengolahan urine dan tinja manusia dan hasilnya dipakai untuk menyuburkan tanah di kebun Pusdakota. Untuk tanah-tanah di desa yang subur, sebetulnya nggak perlu khawatir tentang organisme yang merugikan kesehatan, yang dibawa tinja ataupun urine. Memang ada sih, macam E-Coli. Tapi, bila bersentuhan dengan tanah subur, mereka kemungkinan besar &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; bisa hidup lama. Asal dikelola dengan baik, pasti oke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yang aku pernah baca, pemanfaatan tinja manusia sesungguhnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Tapi manusia kini sudah melupakannya. Sebagaimana kini, para petani di desa seringkali tidak tahu cara membuat kompos dari kotoran hewan maupun daun-daunan. Padahal itu warisan nenek moyang. Kini, sistem telah membuat petani terpaksa membeli pupuk sintetis atau kimia yang merusak tanah maupun ekosistem. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kadang aku heran. Kantorku Pusdakota kebanjiran permintaan dari para petani untuk diajari membuat pupuk. Kami memfasilitasi banyak training pertanian organik untuk wilayah pedesaan. Lo, kita di kota menularkan ilmu pertanian dan pembuatan pupuk untuk orang desa? Kayaknya dunia sudah kebalik. Tapi begitulah faktanya. Berbekal model &lt;em&gt;close system&lt;/em&gt; budidaya yang telah kami kembangkan, baik di Surabaya maupun Blitar, permintaan training datang dari berbagai desa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal kami, staf Pusdakota, justru lebih banyak belajar dari para sesepuh desa-desa mana pun yang masih ingat tentang bagaimana membuat kompos. Kami belajar dari praktisi-praktisi pertanian organik yang mau berbagi ilmu. Apa yang kami dengar, kami rekam, praktikkan dan kami uji terus-menerus. Itu yang kemudian kami tularkan lagi ke saudara-saudara kami, petani di desa. Tidak saja secara teknis kami berbagi tentang pertanian organik, tapi juga soal spirit karena justru ini yang harus menjadi perhatian utama. (Alpha Savitri) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2637050866846593374?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2637050866846593374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2637050866846593374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2637050866846593374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2637050866846593374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/juglangan-yang-tidak-berbau-busuk.html' title='Seandainya Tinja Orang Sedesa untuk Pupuk Organik'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-1757188038215576972</id><published>2008-08-30T19:43:00.000+07:00</published><updated>2008-08-30T19:47:32.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Urine Kawan-kawanku untuk Bayi Padi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 29 Agustus 2009, bayi-bayi padiku yang semakin bertumbuh, kemarin siang memperoleh "vaksin vitamin". Vaksinnya bukan dari bakteri cair hasil fermentasiku, melainkan urine manusia. Lho, kok? Hmmm, ya, urine-nya kawan-kawanku yang ditampung dalam wadah khusus dan sudah berdiam di situ selama tiga bulan. Kantorku Pusdakota memang memiliki instalasi sanitasi ekologis yang memisahkan urine dengan tinja di septictank WC. Tinja dan urine dikelola untuk dijadikan pupuk, baik pupuk padat maupun cair. Urine dan tinja tersebut oleh Mas Gunawan, Mas Koko, Mas Parwito, dan Mas Ade yang biasa mengurus tanaman, dipakai untuk memupuk sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu terjadi secara nggak sengaja. Habis makan siang di kantor, aku cangkrukan di dekat kebun Pusdakota, cari angin segar. Aku ngobrol ngalor-ngidul tentang pembibitan tanaman. Lantas, Mas Gun punya ide untuk menambahkan urine yang telah mengendap tiga bulan itu pada tanah untuk bayi padiku. Aku pikir-pikir sejenak, akhirnya aku setuju. Ide itu menurutku luar biasa karena urine manusia, seperti halnya tinja, banyak mengandung nitrogen yang berguna untuk pertumbuhan tanaman. Siapa tahu padi-padi itu lekas besar. Setelah lahan kusiangi dengan hati-hati dan kubasahi air sumur. Hmmm, urine di wadah yang dipegang Mas Gun itu sudah tiga bulan usianya. Itu urine kawan-kawanku. Warnanya putih dan tidak berbau. Mas Gun membasahi lahan itu dengan urine. Hati-hati sekali, dari salah satu pojokan petak sempit yang kubikin sawah. Waktu itu kulihat dua kaki seribu sedang kawin di petak sawah. Mula-mula tak terusik air urine yang terus menggenang, lantas saat genangan agak tinggi, mereka mengapung-apung. Tapi satu sama lain tak terpisah. Siang-siang lagi. Kok Nggak malu ya. (Alpha Savitri) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-1757188038215576972?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/1757188038215576972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=1757188038215576972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1757188038215576972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1757188038215576972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/urine-kawan-kawanku-untuk-bayi-padi.html' title='Urine Kawan-kawanku untuk Bayi Padi'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-9020362901317881172</id><published>2008-08-26T18:39:00.000+07:00</published><updated>2008-08-26T18:56:29.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cermin'/><title type='text'>Makna Sejarah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#003333;"&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLPtHwHgwGI/AAAAAAAAAEU/8EPNOXlzotE/s1600-h/DSC07490.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238791508993294434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLPtHwHgwGI/AAAAAAAAAEU/8EPNOXlzotE/s200/DSC07490.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#003333;"&gt;&lt;em&gt;Ganesha kini sendirian. Patung Kala yang biasanya menemani di sebelah&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLPtHwHgwGI/AAAAAAAAAEU/8EPNOXlzotE/s1600-h/DSC07490.JPG"&gt;&lt;/a&gt;nya raib dicuri.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;===========&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pergi ke situs-situs Purbakala kadang jadi pengisi waktu luang yang menyenangkan bagiku. Saat tiba di lokasi, aku sering membayang-bayangkan bagaimana situs purbakala yang kukunjungi itu bermakna di masa lalu. Aku juga membayangkan bagaimana orang-orang tempo dulu memperlakukan candi, misalnya, pastilah penuh rasa horma&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLPtHwHgwGI/AAAAAAAAAEU/8EPNOXlzotE/s1600-h/DSC07490.JPG"&gt;&lt;/a&gt;t karena di situ bersemayam dewa-dewi yang mereka hormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Blitar yang sering kukunjungi, kaya akan situs purbakala. Sayangnya kalau pas ke Blitar, seringkali aku nggak sempat mengunjunginya karena aku ke Blitar dengan urusan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku yang asal Kota Blitar pernah cerita, saat dia masih kecil, rumah di kampung-kampung di Blitar banyak memiliki batu-batu yang dia tengarai peninggalan-peninggalan kuno. Barang-barang kuno itu bahkan seringkali dianggap tidak punya nilai. Tetangganya, misalnya, pernah punya batu berwujud Ganesha dengan ukiran sangat halus. Tapi batu itu mungkin hanya dianggap batu karena diletakkan begitu saja di muka pagar rumah. Semua orang menganggapnya biasa saja. Sering dikorek-korek anak-anak bila bermain. Sering pula buat mengasah pisau. Diduduki pun tidak sekali dua kali. ”Kalau tujuh belasan, jalan-jalan di kampung dan pagar-pagar dicat. Batu Ganesha itu pun ikut dicat,” kenang suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suamiku bertanya pada tetangganya, pemilik batu Ganesha itu. Jawabnya, batu itu dimilikinya turun temurun. Nggak tahu asalnya dari mana. Kini batu Ganesha itu tak lagi berdiam di depan pagar rumah, entah di mana pemiliknya menaruh. Apakah membuangnya? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku lebih lanjut bercerita, dulu, di sungai-sungai di sekitar Blitar, tempat bermainnya saat kecil, banyak ditemukan batu serupa reruntuhan candi. Ada yang berukir halus segala. ”Aku masih ingat, dulu sering duduk di batu berukir. Mungkin itu batunya candi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku antusias mendengar dan ingin tahu apakah batu-batu itu masih ada di tempatnya. Hmmm, siapa tahu, suatu saat, kalau sudah nggak repot, aku bisa menelusuri kali-kali itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yang kuketahui di referensi, di kota ini, misalnya, paling tidak ada 12 candi. Maksud hati sih pengen mengunjungi semuanya. Tapi apa daya belum sempat-sempat juga. Yang pernah aku kunjungi hanya dua. Candi Penataran dan Candi Simping. Candi Penataran terakhir kali kukunjungi mungkin lima tahun lalu. Kalau Candi Simping barusan kukunjungi pada 23 Agustus 2008 lalu. Setelah mengunjungi Candi Simping di Sumberjati, Kademangan, Blitar, aku juga mengunjungi patung Ganesha di Tuliskriyo, Sanankulon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Simping persis yang kuperkirakan. Cuma berupa puing-puing sebagaimana yang pernah kubaca. Aku berkunjung ke sana bersama suamiku sekitar pukul 09.00 WIB. Candi itu dikitari tanah pekarangan yang cukup luas. Tapi beda dengan candi Hindu pada umumnya, pintu Candi Simping tidak menghadap ke Barat, namun ke Selatan. Ternyata, dulunya candi ini menghadap Barat. Tapi sekarang, berbatasan dengan pekarangan orang sehingga candi tersebut dihadapkan di Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, museum nasional sudah memiliki desain konstruksi candi tersebut, sebelum jadi reruntuhan seperti sekarang. Kendati desain tersebut sudah ada, namun toh belum juga dipugar. Ada bagian terpenting dari candi itu yang kini ada di museum nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lokasi patung Ganesha, aku melihat patung itu berdiri sendirian di bawah rindangnya pohon sawo yang waktu itu sedang berbuah lebat. Di sebelahnya sudah tak ada lagi patung Kala yang biasa menemaninya. Beberapa bulan lalu, patung Kala dicuri dari tempatnya, di samping Patung Ganesha. Pencurinya diperkirakan dua orang, menyamar akan bersemedi. Setelah diizinkan bersemedi, patung itu dicuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian demi kejadian sebagaimana di atas membuatku berpikir tentang makna kesejarahan. Berbagai kejadian mengisyaratkan, kita sedang tak ambil pusing dengan sejarah. Kita lupa kalau kita manusia, pasti memiliki nenek moyang. Nenek moyang kita memiliki kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah memang masa lalu. Tapi masa lalu bukan berarti tak berguna. Masa lalu adalah cermin kita untuk melangkah. Kaca benggala, menurut Salman Nurdin, sobatku yang telah tiada. Ya, sejarah itu untuk menapak jalan. Meluruskan jalan kita yang mungkin agak bengkok-bengkok dikit. Sejarah itu untuk berbenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi pertanyaan buat diriku sendiri, seberapa jauh aku bisa menangkap makna dari sejarah hidupku? (Alpha Savitri)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-9020362901317881172?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/9020362901317881172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=9020362901317881172' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/9020362901317881172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/9020362901317881172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/makna-sejarah.html' title='Makna Sejarah'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLPtHwHgwGI/AAAAAAAAAEU/8EPNOXlzotE/s72-c/DSC07490.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2445508293799546010</id><published>2008-08-25T17:50:00.000+07:00</published><updated>2008-08-25T18:10:32.196+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Akhirnya, Pupuk Cair Hanya untuk Padi dalam Pot</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLKSkjWLhzI/AAAAAAAAAEM/0Hw9PbI35do/s1600-h/IMG_4870edit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238410473246525234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLKSkjWLhzI/AAAAAAAAAEM/0Hw9PbI35do/s200/IMG_4870edit.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#336666;"&gt;Wah, sayang meski sudah kufoto dari berbagai angle, di petak lahan kecil itu, padinya nggak bisa tampak. Ha ha ha, kamera yang kupakai cuma yang standar, jadi nggak nembus. So.. bayangkan saja di situ ada padi-padiku. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tanggal 25 Agustus 2008. Padi-padiku di halaman depan kantor kulihat tumbuh bagus, sejak pindah dari tempat persemaian tanggal 19 Agustus 2008 lalu. Daun-daunnya lurus menantang matahari. Ada 46 buah dengan ketinggian antara 11-16 cm. Aku berharap, pertumbuhannya akan semakin baik dari hari ke hari. Oh ya, dalam tulisanku beberapa waktu lalu sudah kusebutkan kalau aku menanamnya tidak secara bergerombol sebagaimana kebanyakan petani sekarang. Aku menanamnya satu per satu dan masing-masing kuberi jarak sekitar 25 – 30 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari berturut-turut kutinggal cuti. Hari ini sebetulnya aku agak khawatir, jangan-jangan kering. Ternyata tidak. Mas Gun pasti terus menyirami sebidang tanah mini tempat tumbuhnya padiku itu biar nggak kupesan. Mas Gun punya spirit melayani yang tulus. Aku bisa merasakannya. Tidak kuminta pun dia pasti tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat juga bayi padiku di dua pot di halaman belakang kantorku. Aman. Tidak kering. Pasti Ucup, Wajib, dan Bangkit terus menyiraminya. Aku memang berpesan khusus pada mereka untuk menyirami bayi-bayi padiku di halaman belakang kantor bila aku tidak masuk. Mereka menolongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, hari ini aku sudah menyiapkan pupuk cair bikinanku untuk kualirkan di tanah-tanah tempat aku menanam padi itu. Tapi melihat pertumbuhan padiku yang menurutku lumayan, aku menimbang-nimbang. Oh, ternyata, kotoran kambing memang berkhasiat. Pikirku, lebih baik pupuk cair kuberikan untuk bayi padiku dalam pot saja. Mungkin nanti bisa kulihat perbedaannya, mana yang lebih bagus tumbuhnya, dikasih pupuk cair bikinanku atau kotoran kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lahan, hari itu hanya kuairi. Ada dua batang yang tumbuhnya nggak lurus kuluruskan. Tanah-tanah di sekitarnya kusiangi dan kukorek dengan sebilah bambu agar air mudah meresap. Untuk proses ini, aku sangat berhati-hati. Takut akarnya putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bayi padi yang di dua pot, aku juga meluruskan batangnya karena angin telah membuat bayi padi yang masih ringkih itu tidak lagi selurus saat aku menanamnya. Aku menyiangi tanah-tanah di seputar padi itu. Setelah itu, pupuk cair bikinanku kuberikan dengan komposisi 1:15 sebagaimana yang dinasihatkan Pak Sobirin dalam blognya. (Penggunaan pupuk cair organik bikinan sendiri sudah menjadi tradisiku untuk tanamanku di rumah, namun dengan perbandingan yang lebih kental. Ini ada resep yang sudah dibuktikan keampuhannya oleh pemiliknya yakni 1:15. Aku ingin mencobanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi padi dalam pot tersebut, masing-masing 11 dan 19 cm. Pertumbuhan keduanya begitu njomplang. Mungkin karena penyinaran juga. Untuk bayi padi yang tingginya 11 cm mungkin penyinarannya tidak sebagus yang 19 cm. Aku mau memindahkan tapi nggak kuat. Mungkin besok kuminta bantuan kawan-kawan yang berotot kawat untuk memindahnya di tempat yang memiliki sinar bagus. (Alpha Savitri)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2445508293799546010?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2445508293799546010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2445508293799546010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2445508293799546010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2445508293799546010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/akhirnya-pupuk-cair-hanya-untuk-padi.html' title='Akhirnya, Pupuk Cair Hanya untuk Padi dalam Pot'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLKSkjWLhzI/AAAAAAAAAEM/0Hw9PbI35do/s72-c/IMG_4870edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6959632400683591920</id><published>2008-08-25T13:42:00.000+07:00</published><updated>2008-08-25T13:47:37.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wana Patria'/><title type='text'>Artikelnya Iman</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Artikel tentang Wahana Bina Patria (Wana Patria) ini ditulis Iman D Nugroho dan dimuat di The Jakarta Post. Iman itu jurnalis di The Jakarta Post. Dia kawan lamaku pas aku jadi jurnalis di sebuah tabloid. Waktu Grand Launching Wana Patria pada 23 Juli 2007 lalu, dia telepon aku dengan formal,” Mbak Vitri, aku dapat penugasan untuk meliput Wana Patria.” Aku tertawa dalam hati. AKu tahu dia Iman tapi dia nggak tahu yang ditelepon adalah kawannya juga. Aku pun lantas menjawab secara formal,” Silakan, Mas, nanti kita ketemu di sana. Perkenalkan, saya Vitri.” Setelah ketemu, dia hanya bisa bilang,” Wah.. wah.. wah..” Kepalanya yang bulat digeleng-gelengkannya. Ini artikelnya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Environmental Awareness Project: Blitar, East Java&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A new effort is underway in Blitar, East Java, to improve the environmental awareness of residents through an environmental teaching project called Rumah Belajar Kearifan Lingkungan.&lt;br /&gt;Spearheaded by the Yosep Foundation and the Urban Community Empowerment Center (Pusdakota) at Surabaya University, the facility, officially inaugurated on July 23, is envisioned as a place where people from all walks of life can come and learn about the environment.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;The project has existed in embryonic form since 2005, when the idea was first proposed for establishing an environmentally based program.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;At the time, however, there were not enough qualified people to get the project off the ground.&lt;br /&gt;Pusdakota, which is concerned with similar issues, revived the idea.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“We discussed the matter with Pusdakota and we both agreed to realize the program,” Yosep Foundation chairwoman Sister Anastasia said.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;They conducted in-depth studies and ultimately found a location for the facility, at the Santa Maria Catholic elementary school in Blitar. The school, founded in 1927, was chosen because it has sufficient land. “There is a 1.5 hectare park at our disposal,” said Anastasia.It took Pusdakota two years to get Rumah Belajar Kearifan Lingkungan launched.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Under the shade of some trees, beyond the Catholic school, sit a new compost and waste management building, areas for organic farm cultivation and livestock breeding, as well as facilities for outdoor activities.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Several older trees in the area were removed because they were at risk of toppling, and were replaced by a lawn and plots for cultivating plants. The facility is seen as an opportunity to bring a new level of environmental awareness to the people of the city. “The older generation in Blitar is less aware of the environment, that’s why the only hope we have is the younger generation,” Blitar Mayor Djarot Saiful Hidayat said. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Djarot believes the amount of waste produced by the city can be cut in half if residents implement waste management programs like the ones taught at the new facility. “Conditions could gradually improve in the long run because the younger generation will grow up to be adults who are aware of the environment,” he said. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The city has attempted to introduce environmental issues into local schools but has had little success, partly due to the inflexibility of the education system.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pusdakota vice director Nila Mardiana said the group introduced a program to state-run schools in Surabaya but it was not well received by those in the education bureaucracy. “Unfortunately, the schools lacked the commitment to continue with the program after we left,” said Nila, adding that a fresh mind-set is key to introducing environmentally based education to students.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Santa Maria principal Sister Elfrida said the school had introduced environmental education even before the arrival of the new facility. “It’s actually simple … we will ask the students to go to the park to learn about flowers, the soil and other things during biology lessons,” she said.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Some students may initially shun the lessons, she said, but eventually they will learn to appreciate the “wonders” of nature. “I’ve seen a student quietly plant a seed in the garden in front of the class. He watered the seed every day until it finally sprouted. It’s simple yet something which we can be proud of,” Elfrida said. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6959632400683591920?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6959632400683591920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6959632400683591920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6959632400683591920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6959632400683591920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/artikelnya-iman.html' title='Artikelnya Iman'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-485243758120852816</id><published>2008-08-24T11:58:00.000+07:00</published><updated>2008-08-25T18:34:15.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Kuntul di Pohon Beringin Kota Blitar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kota Blitar yang sering kukunjungi masih menyisakan banyak situs hijau yang tidak dimiliki kota-kota lain di Jawa, seperti Surabaya dan Jakarta. Di antara situs hijau di kota ini yang kusukai di Kota ini adalah pohon-pohon beringin masih dibiarkan tumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa, di jalan-jalan utama di kota ini. Pohon-pohon itu penuh akar-akar yang di mataku sangat eksotik. Lokasi pohon beringin yang kusukai adalah di Alun-alun Kota Blitar. Di lingkungan ini, tidak cuma ada satu beringin, namun lebih dari sepuluh. Empat di antaranya berdiam di pinggir jalan utama, tidak di dalam pagar alun-alun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku benar-benar merasa homey bila melintasi pohon-pohon beringin di alun-alun. Menurutku, seharusnya, begitulah sebuah kota dikelola. Tetap memperhitungkan keberadaan pohon-pohon. Tidak mengalahkannya demi kepentingan manusia yang seringkali tidak berpikir secara berkelanjutan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pohon-pohon beringin di alun-alun merupakan rumah yang nyaman bagi para burung. Yang sangat banyak berteduh di sini adalah para serangga. Banyak pula burung yang kata orang Jawa adalah kuntul (burung bangau). Kuntul-kuntul ini, dengan jumlah, mungkin ribuan, menjelang maghrib pulang berbondong-bondong. Yang terbanyak dari arah barat. Sungguh pemandangan yang elok. Saking banyaknya burung-burung yang bermukim di pohon beringin dekat alun-alun, hidung kita akan merespon bau alami burung dan kotorannya. Aku tidak terganggu dengan bau burung dan kotorannya. Di Surabaya, aku justru jarang mencium karunia Allah berupa bau burung. Yang kucium di jalanan di kota pahlawan adalah sisa asap kendaraan yang sangat menyesakkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka, bila aku melintasi pohon-pohon beringin dan mencium bau khas burung dan kotorannya, seringkali aku disekap perasaan takjub. Oh ya, bila kita melongok ke atas, ke arah daun-daun beringin, sebagian daun itu tampak berwarna pucat. Tidak hijau. Ya, daun yang pucat tersebut pastinya pernah atau sering menjadi tempat kotoran burung-burung. Kotoran-kotoran itu bahkan tidak saja hinggap di daun yang lebat, ranting, atau batang dan sulur-sulur beringin, namun juga sampai ke jalan-jalan. Untungnya, jalan-jalan yang terkena tai burung tersebut selalu lekas dibersihkan oleh petugas sehingga tidak sampai terkesan jorok. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pohon-pohon beringin itu, entah berapa kini usianya, kuharap tetap berdiam di situ, tidak ditebangi atas nama pembangunan. Kuharap beringin-beringin itu tetap jadi tempat yang nyaman bagi para burung. Para burung tidak risau karena tempat tinggal mereka hilang ataupun mereka terancam bedil-bedil perusak lingkungan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sungguh, sekali lagi aku katakan, aku nyaman berada di Kota Blitar, salah satunya karena beringin-beringinnya yang melindungi hewan-hewan yang kini semakin langka, seperti burung kuntul. Di seputaran Surabaya, burung kuntul ditembaki. Malahan, pernah ada restoran burung kuntul yang kini, entah kenapa telah tutup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa Kota Blitar masih senyaman sekarang bila nantinya pohon-pohon besarnya telah tiada (Alpha Savitri)* &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-485243758120852816?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/485243758120852816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=485243758120852816' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/485243758120852816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/485243758120852816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/kuntul-di-pohon-beringin-kota-blitar_23.html' title='Kuntul di Pohon Beringin Kota Blitar'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-8470621761644584942</id><published>2008-08-24T11:30:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T11:56:35.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Dalang Sulaiman Penghibur Kaum Tani</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLDnDv-7LnI/AAAAAAAAADk/1wXj2wsNLt4/s1600-h/IMG_3037.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237940418237902450" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLDnDv-7LnI/AAAAAAAAADk/1wXj2wsNLt4/s200/IMG_3037.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebelum aku menginjak Desa Karangbangkal, Gempol, Pasuruan untuk kepentingan riset aksi partisipatoris akhir tahun 2007, aku nggak kenal yang namanya Dalang Sulaiman. Dalang yang kutahu paling-paling Ki Mantep Sudharsono karena sering muncul di iklan televisi. Aku memang nggak banyak mengikuti dunia pedalangan karena nggak bisa mencerna bahasanya yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku tahu satu dalang lagi, yakni Dalang Sulaiman. Ia bilang, ia dalang Jawa Timuran. Kendati dalang Jawa Timuran, tetap saja aku nggak bisa mencerna kata-katanya di atas pentas wayangnya yang megah di sebuah desa di Pasuruan akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalang Sulaiman cukup inspiratif bagiku. Pertama, karena ia sudah sepuh, kelahiran 11 November 1939, namun masih energik dan tahan mendalang mulai malam sampai pagi. Kedua, ia menjadi sandaran hidup banyak seniman-seniman desa, baik pesinden, penabuh, penari, pemelihara alat-alat kerawitan, perajin wayang, dan sebagainya. Ketiga, ini yang bagiku sangat penting, adalah pilihannya untuk mengabdikan diri sebagai dalangnya masyarakat dan orang-orang tani. Dalangnya wong cilik. Bukan dalang yang mengejar popularitas. Padahal kalau mau, ia bisa. Sebagai dalangnya masyarakat, kliennya juga masyarakat. Ia keliling dari desa ke desa, paling tidak seminggu dua kali. Kalau musim panen bisa setiap hari mendalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyaksikan aura dalang wong cilik yang dimilikinya begitu kental dalam sebuah pertunjukan wayang di salah satu acara tegal desa di Pasuruan. Para petani benar-benar tersihir dihiburnya. Pertunjukan dimulai hampir tengah malam sampai pagi hari. Penonton terus betah. Usia sudah senja, tapi stamina Pak Dalang begitu tinggi.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku melihat, ruang tamu di rumah pak dalang penuh tanda penghargaan, baik itu piala maupun piagam. Itu tidak termasuk yang masih disimpan. Ia bilang, kadang merasa, bukan pendokumentasi yang baik. Banyak di antara tanda penghargaannya yang ketlisut. Di antara foto-fotonya, terdapat foto-fotonya bersama mantan presiden RI Soeharto. “Dulu saya setahun sekali diundang Pak Harto untuk mendalang di Taman Mini ataupun istana,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, pas aku ke sana, ia memintaku menemaninya mengecat wayang di belakang rumah. Sementara asisten-asistennya sedang melakukan pengecekan terhadap satu per satu dari gamelan-gamelannya. Kulihat dalang tersebut mengerjakan bagian yang paling detil dari sebuah wayang. Membubuhkan titik-titik. Sangat telaten dan dilakukan tanpa kacamata. “Sampai sekarang mata saya memang masih awas,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berkata waktu luangnya yang sedikit selalu ia manfaatkan sebaik-baiknya. Tidak hanya untuk jalan-jalan, namun ada kalanya mengecat wayang. “Besok saya ada tanggapan. Lusa juga. Tiga hari kemudian ada lagi. Nggak berhenti-berhenti,” ujar dalang yang bertarif maksimal Rp 10 juta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, pembicaraan pun mengalir mulus sampai berjam-jam sembari aku menemaninya mengecat wayang. Membahas berbagai perubahan yang melanda tanah tempat ia dilahirkan. Tentang hilangnya tanah-tanah pertanian, tentang hilangnya seni dan tradisi adiluhung, tentang apatisme masyarakat untuk hal-hal mendasar. “Kini semua diukur dengan uang,” katanya prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalang Sulaiman merupakan salah satu saksi kunci sejarah perubahan Dusun Karangbangkal, Gempol, Pasuruan. Ia lahir, besar, dan menjadi tenar lantaran Desa Karangbangkal juga. Ia bilang padaku, mencintai dengan kesungguhan dusun tersebut. Kalaupun kini, menurut versinya, Karangbangkal carut-marut – karena, kehilangan jatidiri -- cintanya tidak berubah. “Karena saya menghargai kesejarahan yang membentuk saya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua moyangnya adalah dalang, dia tidak tahu. Yang ia tahu, kakeknya, yakni Mbah Sarman adalah dalang tenar. Ayah Sulaiman, yakni Draham yang juga dalang kenamaan pada zamannya mengisahkan padanya bahwa Mbah Sarman punya kebiasaan adus bengi ning Segara Kidul (mandi malam di Pantai Selatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit dan jiwa seni Mbah Sarman yang senang tirakat, menurun pada Draham. Tidak itu saja, Ayah Sulaiman juga mewarisi bakat gemi. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang. Cita-citanya hanya agar bisa beli gamelan terbaik. Dan itu tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, orang-orang tani di sini dan dusun-dusun sekitar sini kaya-kaya. Mereka sering nanggap wayang. Sejak di sekolah rakyat (sekarang SD), saya sudah diajak keliling ke mana pun untuk mendalang. Mungkin karena itu saya jadi cinta wayang. Sejak kecil saya bercita-cita menjadi penerus orangtua dan harus lebih baik darinya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nuansa semangat dalam kata-katanya. “Saya bisa mendalang karena punya semangat belajar tinggi. Kalau dimarahi Bapak, tidak ngambek tapi justru methentheng. Bapak nggojlog saya terus-menerus. Saya disuruh mengamen terus. Biar tahu bagaimana itu rasa malu. Semua yang dilakukan Bapak pada saya, biar saya jadi dalang yang pinunjul. Sama halnya bila orang berniat puasa. Ben ketemu riyoyo (biar bertemu hari raya),” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas sampai mendalang saja, Sulaiman juga belajar mengarang gendhing-gendhing. Lama-lama, kepiawaiannya ini terdengar sampai di Jakarta. Sampai akhirnya, ia menjadi dalang yang setiap tahun manggung di Jakarta. Di taman mini, istana negara, atau di tempat-tempat lain di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun telah mencapai puncak ketenaran, Sulaiman berupaya terus untuk menjaga hati. Ia tidak ingin mengingkari panggilan hatinya sebagai dalang masyarakat. Sebagai dalangnya masyarakat, ia berupaya mengabdi pada masyarakat. Ia merasa tidak nyaman bila memasang tarif tinggi atau sekadar menjadi dalang proyek. “Ojo ngajeni wong-wong pangkat. Ajenono kabeh wong (jangan hanya menghargai orang berpangkat. Semua orang harus dihargai),” pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan hatinya menjadi dalang masyarakat senantiasa memanggilnya untuk membawakan lakon-lakon yang berhubungan dengan pertanian. “Saya memang melulu mendalang, tidak seperti bapak saya yang di samping mendalang, juga bertani. Namun saya merasa, sebagai anaknya orang tani, tidak pantas saya mengabaikan pertanian. Apalagi, masa kecil saya juga dekat dengan pertanian,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon-lakonnya pada saat manggung, misalnya, Pendowo Tani ataupun Anoman Tani. Dikisahkan bahwa Pandowo sengaja membabat hutan untuk tanah pertanian. Seno, tokoh Pandawa berkeinginan agar masyarakat makan secara bersama-sama. Susah dan senang dipikul sama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergelaran-pergelarannya, Sulaiman juga banyak menampilkan ironi-ironi tentang masyarakat sekarang yang abai terhadap hal-hal yang mendasar dalam hidup. Bahkan hilangnya tanah-tanah pertanian yang berarti pula punahnya kebudayaan bercocok tanam di berbagai dusun, juga selalu ia singgung dalam pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kesempatan, ia senantiasa bertutur tentang pentingnya kita untuk setiap saat kembali kepada hati. “Anoman yang hidup di padepokan, semata-mata ingin bertapa. Pertapaan pasti di tempat sepi. “Topo itu ada kaitannya dengan “tapak”. Itu merupakan sarana bertobat karena setiap detik kita berdosa. Tobat itu jangan hanya pas puasa. Tidak peduli bulan apa saja, kita semestinya senantiasa minta maaf pada Tuhan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua kali pertemuan denganku, tanpa diminta, ia senantiasa menyinggung-nyinggung tentang hilangnya tanah-tanah pertanian di Karangbangkal. “Bathine mung sak kebyaran, rugine puluhan tahun,” ujarnya mengibaratkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uang itu ibarat lar. Suwiwi. Sewaktu punya uang, pikiran pasti tergoda. Maka dari itu, sebaiknya semuanya dikembalikan pada rasa. Duwit akhire entek. Sinauo maneh. Tobato.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tanah pertanian di dusunnya, Karangbangkal semakin menyusut. Mungkin sebentar lagi habis sama sekali dibeli pabrik-pabrik atau tuan tanah yang ingin menjadikannya perumahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh pabrik, menurut ayah dua putra ini, tidak hanya pada jatuhnya kepemilikan tanah pada pabrik, namun pengaruh pabrik membuat warga kini tidak lagi guyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sulaiman tidak patah arang. Ia tetap bersemangat menciptakan kemajuan di tengah serbuan kapitalisme yang membenamkan akar-akarnya di Karangbangkal. Di matanya, kemunduran adalah tantangan berkreativitas. “karena, dalang itu obornya rakyat,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolak-balik ia menyerukan agar tradisi-tradisi lama yang telah pudar di Karangbangkal direvitalisasi. Ia juga bahkan bersedia menjadi motor penggerak revitalisasi itu. “Tapi selalu saja kalau berkaitan dengan uang, biar sedikit, petinggi desa di Karangbangkal bilang nggak ada dana. Untuk seni dan budaya mereka sulit mengeluarkan, namun untuk yang lain mereka mau,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diajak berkesenian pun orang-orang setengah hati. Para pembantu Sulaiman, baik waranggono maupun yang mempersiapkan alat berasal dari luar dusun. “Karena dunia pedalangan perlu ditangani orang-orang khusus. Tidak ada orang Karangbangkal yang tergerak di bidang pedalangan. Saya terpaksa ambil orang dari daerah-daerah laim,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati masyarakat Karangbangkal apatis di bidang kesenian, namun di lubuk hatinya, Sulaiman tetap memiliki keinginan agar seni dan budaya tidak punah begitu saja dari dusun ini. Karena orang-orang dusun belum tergerak untuk dikader, ia mengkader mulai lingkup keluarga. Ia mengkader dua anak dan menantunya. Kini anaknya yang bernama Sugeng mengikuti jejaknya menjadi seniman di bidang pedalangan. Demikian pula anaknya yang nomor 2 yakni Dwi kini bergerak di manajemen pertunjukan wayang. Menantunya pun menjadi guru tari. “Saya sudah tua. Demi kemajuan kesenian di Karangbangkal, Saya berharap pada anak-anak saya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangbangkal, menurut Sulaiman berasal dari kata: “Karang” artinya pinter ngarang dan “Bangkal” berasal dari kata bakal, yakni kawitan. Jadi, Karangbangkal berarti kepandaian dan kreativitas untuk memulai sesuatu yang baru. “Tapi kepandaian dan kreativitas itu ada di masa lalu. Kini, bahkan mengajak orang untuk cinta budayanya sendiri saja sulit. Mungkin, manusia sekarang jauh dari rasa bening,” ujar Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan tahun 1965, Karangbangkal merupakan pusat kreativitas. Lebih menonjol dari desa-desa sekitarnya. Karangbangkal bahkan dijadikan kliblat budaya. Pada semua puncak penanggalan, digelar even kebudayaan. Entah itu Bada maulud, maulud, syawal, setelah syawal. Yang datang untuk menyaksikan pergelaran-pergelaran di Krangbangkal berasal dari Babat, Lamongan, Gresik, Malang, Lumajang. Kencong, bahkan sampai Jember. Dalang Sulaiman tidak pernah berhenti mendalang sampai ke daerah-daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar budaya yang biasa diadakan di Karangbangkal lewat Tegaldeso sudah dihapus pasca peristiwa pembunuhan demi pembunuhan pada G30S/PKI tahun 1965. “Orang-orang yang fanatik mendapat angin pada tahun 1965. Akibatnya, kesenian-kesenian adiluhung di desa ini hilang. Orang tidak lagi berani berkesenian karena takut,” katanya. (Alpha Savitri)*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-8470621761644584942?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/8470621761644584942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=8470621761644584942' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8470621761644584942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8470621761644584942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/dalang-sulaiman-penghibur-kaum-tani.html' title='Dalang Sulaiman Penghibur Kaum Tani'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLDnDv-7LnI/AAAAAAAAADk/1wXj2wsNLt4/s72-c/IMG_3037.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2374420126734104194</id><published>2008-08-23T19:04:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T12:56:44.589+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wana Patria'/><title type='text'>Menanam dengan Hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLD39bRAgoI/AAAAAAAAAD0/4s_zzgdlbV4/s1600-h/DSC06492.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237959001295061634" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLD39bRAgoI/AAAAAAAAAD0/4s_zzgdlbV4/s200/DSC06492.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Apa pun yang ditanam oleh kawan-kawan tim Wahana Bina Patria (Wana Patria) Blitar pasti tumbuh subur, entah itu sayuran, tanaman hias, ataupun buah-buahan. Bahkan Kota Blitar yang kata orang-orang pertanian, tidak bagus untuk bertanam sayur semacam bunga kol, kailan dan wortel, ketiganya justru tumbuh subur di Wana Patria, baik di musim hujan maupun musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel Wana Patria, kata pelanggan sayuran organik yang fanatik dengan sayur-sayuran yang dihasilkan rumah Belajar Kearifan Lingkungan di Blitar tersebut manis dan gurih. Lebih berasa daripada wortel yang dibeli di pasar. Baik yang besar maupun yang kecil, wortel-wortel tersebut langsung ludes bila Wana Patria mengumumkan panen wortel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kailan Wana Patria pun punya kualitas yang tidak kalah dengan kailan yang dihasilkan di daerah dingin. Aku sangat fanatik dengan kailannya Wana Patria. Rasanya kremes-kremes dan kalau dimasak tidak cepat layu. Aku paling suka kalau Kailan dipotong tipis-tipis, digule. Lebih-lebih kalau yang masak Mbak Tantri, istri Pak Alex. Suami istri ini sama sepertiku, menjadi simpatisan dan relawan di rumah belajar ini. Makanya, kalau pulang ke Surabaya aku pasti bawa kailan. (Hee… nggak kailan tok, yang kubawa. Aku biasanya juga memboyong sawi daging putih dan hijau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat. Pernah aku melayani pembeli sayur yang ingin beli kangkung. Ini kali pertama dia ke Wana Patria. Dia tanya harga dan aku menyebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo, Mbak, kok lebih mahal dari harga di pasar,” katanya. Kubilang, nanti kalau harga sayur di pasar naik, harga sayur di Wana Patria nggak ikut naik. Aku jelaskan pula kalau sayur yang ditanam secara organik, di samping sehat, awet, juga enak di lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan ingin membeli sayuran dua kilo. Jenisnya bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok banyak sekali, Pak?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, keluarga saya suka sayuran,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, pas aku ke Blitar, bertemu dengannya. Rupanya dia sekarang jadi penggemar fanatik sayuran organik. Dia bilang,” Wah, Mbak benar juga. Meskipun harga sayuran di pasar naik banyak, sayur di Wana Patria nggak ikut naik. Rasanya juga kremes-kremes seperti yang Mbak bilang. Kalau dimasak, nggak cepat layu. Beli sedikit saja sudah cukup buat keluarga saya. Kami jadi kecanduan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, aku pernah bertanya pada Mas Albert, penanggung jawab kebun sayuran Wana Patria. Apa sih resepnya hingga sayur mayur di Wana Patria, satu pohonnya sangat berat. Bahkan ada yang beratnya sekilo segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawabnya?&lt;br /&gt;Cuma senyum dan bilang,” Menanam sayur harus dengan hati agar hasilnya baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, untuk terjun di bidang pangan organik, yang perlu kita siapkan, mungkin, pikiran yang organik pula, ya, Mas. Pikiran yang selaras dengan keinginan alam semesta. Pikiran yang bersih, sesuai dengan kata hati. Kalau sudah begitu, kita selalu ingin berbuat yang terbaik. Apa pun kita lakukan. tangan kita pun jadi dingin. Dan tanaman apa pun yang kita tanam pasti tumbuh dan berkembang dengan baik. (Alpha Savitri) *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2374420126734104194?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2374420126734104194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2374420126734104194' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2374420126734104194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2374420126734104194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/menanam-dengan-hati.html' title='Menanam dengan Hati'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLD39bRAgoI/AAAAAAAAAD0/4s_zzgdlbV4/s72-c/DSC06492.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-8435259402785652177</id><published>2008-08-23T18:52:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T12:18:04.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wana Patria'/><title type='text'>Saudara-saudaraku,  Bidan Wana Patria Blitar</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLDu2HqftUI/AAAAAAAAADs/TJBJVSqo5NY/s1600-h/DSC00495.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237948980169520450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLDu2HqftUI/AAAAAAAAADs/TJBJVSqo5NY/s200/DSC00495.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Foto di atas merupakan lahan Wahana Bina Patria (Wana Patria) pada masa awal-awal penggarapan. Sampai kini konsep mandala pada lahan tetap dipertahankan.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wahana Bina Patria biasa disingkat Wana Patria. Kok masih terlalu panjang ya, biar sudah disingkat? Karena masih juga terlalu panjang, kami singkat lagi jadi WP atau Wana untuk sebutan lisan. Kalau sebutan tertulis, tetap saja ditulis Wahana Bina Patria atau Wana Patria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wana Patria merupakan rumah belajar kearifan lingkungan di Kota Blitar yang digagas tahun 2005 tapi baru diperkenalkan ke publik tahun 2007. Bidannya adalah Suster Stefani SSpS dan Mas Cahyo Suryanto, kolegaku di Pusdakota, juga Mas Eddy Suhermanto, yang biasa kupanggil Mas Tanto. Ini memang kesepakatan antardua lembaga. Sr Stefani SSpS – kini bertugas di Roma – menginginkan agar lahan SSpS di kota Blitar seluas kurang lebih 2 hektar (satu kompleks dengan Biara Roh Kudus dan TK/SDK Santa Maria Blitar) didayagunakan. Biara di Blitar menurut Sr. Stephani sangat bersejarah bagi SSpS karena kesejarahan pertama SSpS Provinsi Jawa ya di Blitar. Visi lingkungan hidup pada waktu itu sudah ditanamkan di sana dan alangkah baiknya bila ada revitalisasi visi itu kembali. Dia pun berdiskusi dengan Mas Cahyo. Kami dari Pusdakota pun mewujudkan visi lingkungan hidup yang mulia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan beberapa kawan lain ikut juga jadi relawan kelahiran si jabang bayi. Aku mendokumentasikan semua hal yang berkaitan dengan sejarah kelahirannya. Maka dari itu, mulai rapat-rapat, perdebatan-perdebatan, pembangunan dll aku ikuti dan kudokumentasikan (sayangnya ada beberapa catatan penting yang hilang akibat virus di komputer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Wana Patria boleh dikata mulai jadi rujukan pembelajaran kearifan lingkungan. Kendati di bawah naungan lembaga keagamaan, Wana Patria terbuka untuk umum dan berdiri di atas semua golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wana Patria menciptakan model pertanian organik dan budidaya sayur organik, pembuatan pupuk organik, peternakan organik dan representatif untuk berbagai training yang bersifat lingkungan. Tak heran, semakin banyak saja permintaan untuk jadi fasilitator training.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingat semua yang pernah dilakukan semua pihak untuk Wana Patria sampai Wana Patria jadi seperti sekarang, terkadang aku merasa bersyukur. Aku nggak suka berkata yang ndakik-ndakik untuk mengucap syukurku. Tapi sungguh, bisa terlibat, kusyukuri. Ini anugerah. karena dengan begitu aku bisa belajar bagaimana dekat dengan alam perbuatan yang kita lakoni sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersyukur karena bisa menemukan mutiara dari Tuhan. Lahan yang inspiratif, kerja yang inspiratif, dan kawan-kawan yang terbiasa merawat bumi lewat keseharian mereka. Mereka berkarya nyata untuk bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan aku berterima kasih pada orang-orang yang membentuk kesejarahan Wana Patria. Mas Tanto dan Mas Cahyo, aku berterima kasih pada mereka. Tanpa ide-ide yang brilian dari keduanya, dan tanpa perdebatan-perdebatan seru keduanya, tanpa konsistensi mereka untuk memberi yang terbaik, biarpun dengan “berdarah-darah”, Wana Patria tidak mungkin jadi seperti sekarang. Ya, aku belajar untuk menjaga konsistensi. Aku belajar juga untuk terus mengaktifkan “mata ketiga”, melihat tanda-tanda zaman. Bahwa zaman mengharuskan kita untuk tidak bicara ndakik-ndakik, tapi berbuat dan berbuat. Memberi contoh, mengembangkan model yang inspiratif sungguh keutamaan di zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga berterima kasih pada para suster: Sr Stefani SSpS, Kristina Wahyu yang saat itu masih di SSpS. Aku melihat keterlibatan sejati, keterlibatan yang tanpa syarat. Tidak semua pihak setuju dengan adanya Wana Patria. Tapi mereka teguh bertahan bahwa Wana Patria, rumah belajar kearifan lingkungan yang bakalan dikembangkan, merupakan karya yang luar biasa. Dan mereka telah membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Nono, Mas Albert, Mas Suba, Mas Isnawan, Mbak Anna. Mereka juga pembabat alas Wana Patria. Aku ingat benar bagaimana Mas Nono dan Mas Albert mengeprasi pohon-pohon yang sudah tidak produktif, dengan cekatan. Mas Suba dan Mas Isnawan dulu berkarya penuh di Biara Roh Kudus dan mereka cabut untuk berkarya di Wana Patria. Mas Suba nggak jadi ke Malaysia untuk jadi TKI. Padahal dia sudah bayar uang mukanya lho. Kini Mas Suba punya keahlian di bidang composting dan sudah memfasilitasi berbagai macam training pengomposan di kota Blitar. Mas Isnawan, kini memang tak lagi bergabung di Wana Patria. Tapi taman-taman garapannya di Wana Patria menunjukkan bahwa dia bekerja dengan sepenuh hati untuk menampilkan siapa dirinya. Mbak Anna adalah dokter hewan cantik yang merancang area peternakan dan perikanan di Wana Patria. Dia menggambar desain pet area ramah lingkungan. Aku sering melihat Mbak Anna melakukan presentasi hasil pemikirannya di hadapan para suster di Biara Roh Kudus. Terkadang ia harus mendatangi satu per satu dari para suster untuk meyakinkan bahwa apa yang dipikirkannya tentang peternakan ramah lingkungan sebaiknya dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi dua orang penting di balik sejarah Wana Patria yang juga ingin kusebutkan di sini. Yakni Mas Jojo dan Suster Helena. Keduanya memegang keuangan Wana Patria sejak Wana Patria masih jadi jabang bayi. Kalau Wana Patria bisa jadi seperti sekarang, memiliki infrastruktur yang memadai dan keuangannya ter-manage secara baik, itu pasti hasil kerja keras mereka. Padahal mereka masih memiliki pekerjaan rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Marno, sering mengantar Mas Cahyo, Mas Tanto, dan aku ke sana-sini, terutama trayek Surabaya - Blitar pas lagi ribet-ribetnya pembangunan Wana Patria. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, siapa lagi? Masih banyak, termasuk. Mas Agus, Pak Mayar, Pak Bardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan sedalam-dalamnya juga kusampaikan pada alm. Pak Suyoso, yang menghembuskan napas terakhirnya di saat ia sedang giat-giatnya berkarya membangun rumah kompos Wana Patria. Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Yang Maha Kasih, berikan kemudahan jalan bagi semuanya. (Alpha Savitri)*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-8435259402785652177?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/8435259402785652177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=8435259402785652177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8435259402785652177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8435259402785652177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/saudara-saudaraku-bidan-wana-patria.html' title='Saudara-saudaraku,  Bidan Wana Patria Blitar'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SLDu2HqftUI/AAAAAAAAADs/TJBJVSqo5NY/s72-c/DSC00495.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2047724332549468003</id><published>2008-08-20T18:16:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T14:47:54.918+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Botol Pupuk Cair yang Mbledos</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKv-MF6ZvGI/AAAAAAAAADE/loPgNpyoOnw/s1600-h/untuk+upload.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236558475447352418" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKv-MF6ZvGI/AAAAAAAAADE/loPgNpyoOnw/s200/untuk+upload.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pupuk cair yang kubikin seminggu yang lalu sudah jadi dan kupindah di satu botol air mineral 600 ml dan satu botol menuman berenergi. Penampilannya seperti sirup jambu merah, tapi baunya seperti tape. Bahan dasarnya terasi dan tape. Aku menaruhnya di meja kerjaku. Rencanaku mau kubawa pulang. Akan kuberikan pada pohon mangga, jambu, dan belimbing di halaman rumahku. Karena mungkin penampilannya cukup mengundang selera, salah satu kawanku, Sari, ingin membuka botolnya. Belum sampai selesai membuka botol itu, tutupe mencelat (tutupnya melompat) dan pupuk cairku semburat ke mana-mana. Melengketi muka Saru, meja kerjaku dan keramik di sekitarnya. “Waduh, apa ini,” jerit Sari. Dia kira sirup. Muka Sari memerah dan langsung mengambil kain pel. Ha…ha..ha.. Nggak tahu, dia, keampuhan bakteri yang bekerja di pupuk cair itu. * &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2047724332549468003?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2047724332549468003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2047724332549468003' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2047724332549468003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2047724332549468003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/botol-pupuk-cair-yang-mbledos.html' title='Botol Pupuk Cair yang Mbledos'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKv-MF6ZvGI/AAAAAAAAADE/loPgNpyoOnw/s72-c/untuk+upload.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-3363509665270450104</id><published>2008-08-20T18:01:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T18:35:54.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Bibit Padiku Tegak Berdiri</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKwBgc2p8YI/AAAAAAAAADc/4lnhU4cXYgU/s1600-h/IMG_4740.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236562123737919874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKwBgc2p8YI/AAAAAAAAADc/4lnhU4cXYgU/s200/IMG_4740.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKv8Fd9jz-I/AAAAAAAAAC8/SaFIZM9RjXU/s1600-h/IMG_4740.JPG"&gt;&lt;/a&gt;Sudah kuceritakan di blog ini beberapa waktu lalu proses-prosesku membibit padi. Nah, tanggal 19 Agustus 2008 aku memindah dua bibit padi dari persemaianku, dua pot, lebih dari seminggu lalu. Harusnya aku berhitung, sudah dua hari lalu kupindahkan. Tapi karena harus mengawal adikku yang melahirkan, dan aku nggak masuk kantor, aku barusan memindahnya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku nggak masuk, anak-anak belakang: Wajib ku-sms untuk melakukan pengawalan. Dalam arti menyiraminya. “Siap, Mak,” kata mereka. Tidak Cuma kalau kumintai tolong, tapi setiap sore pun kalau aku telat menyiram, mereka sudah langsung menyirami calon padi itu.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKv8Fd9jz-I/AAAAAAAAAC8/SaFIZM9RjXU/s1600-h/IMG_4740.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mempersiapkan dua tempat untuk dua bibit padi. Pertama karung goni yang kutempatkan di keranjang bambu. Kedua pot bekas dari semen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sehari sebelum kupindahkan ke dua tempat tersebut, bibit-bibit itu kuletakkan di bawah sinar matahari. Tapi aku tetap memperhatikan pengairannya. Kenapa aku taruh di bawah sinar matahari, biar mereka beradaptasi dulu barang sehari dulu, di bawah sinar matahari langsung. Nantinya kalau sudah kupindah ke karung dan pot, mereka harus terus di bawah matahari langsung. Kedua media tersebut kuletakkan di bawah sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit-bibit padiku tumbuh dengan baik. Daunnya menjulur ke atas. Kata Mas Gun, staf urban farming di kantorku, bibit-bibit di tempat persemaianku tumbuh dengan bagus. “Batangnya lurus-lurus,” katanya. Aku cuma bisa manggut-manggut dan bilang,” Oh, begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas Mas Gun bertanya padaku, bagaimana cara aku membibit. Aku bilang, nggak pakai nampan kedap air, tapi pakai nampan bolong-bolong yang kualasi daun, terus kupakai kompos bikinan Pusdakota di situ (Kompos Pusdakota kebanyakan materinya berasal dari sampah rumah tangga warga). Aku mengairi bibitku dengan air ledeng setiap pagi dan sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bibit padi kupindahkan ke dua tempat yang kusiapkan. Aku memilih berdasarkan feeling-ku, mana di antara bibit-bibit di pembibitanku itu yang akan kutaruh di pot dan karung. Sementara bibit-bibit yang lain kurencanakan bersama Mas Gun untuk memindahnya di sepetak tanah di kebun kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pindahkan bibit itu dengan hati-hati dan akarnya tidak kubenamkan dalam-dalam di tanah dalam pot dan karung itu. Aku berdoa mudah-mudahan bibit itu bersemai dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 20 Agustus 2008, sisa bibit kupindah bersama Mas Gun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Mas Gun sudah menyiapkan lahan yang akan ditanami padi. Dia memberinya dengan kotoran kambing yang telah kering dan sedikit kapur dolomit agar tanah tidak terlalu asam. Setengah bibit padi bahkan sudah dia pindah sesuai dengan hasil diskusi kami sebelumnya bahwa rencananya jarak antara satu bibit dengan bibit yang lain, paling tidak 30 cm. Aku ikut menanam yang separonya sampai lahan terisi semua. Tapi bibit yang ada di persemaian masih ada delapan buah. Aku dan Mas Gun sepakat untuk menaruhnya di tengah-tengah beberapa bagian, untuk nantinya kami lihat apakah jarak tanam sangat berpengaruh terhadap perkembangan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, dari 100 buah biji padi yang kutebar, hanya separonya yang tumbuh dengan tinggi bervariasi. Aku nggak tahu kenapa separonya nggak tumbuh. Mungkin kurang kuairi, atau bagaimana? Atau mungkin dimakan tikus? Nggak tahulah. Namanya juga masih amatir. Pertumbuhkan bibit padiku bervariasi, mulai dari 1 cm sampai 17 cm. *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-3363509665270450104?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/3363509665270450104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=3363509665270450104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3363509665270450104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3363509665270450104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/bibit-padiku-tegak-berdiri.html' title='Bibit Padiku Tegak Berdiri'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKwBgc2p8YI/AAAAAAAAADc/4lnhU4cXYgU/s72-c/IMG_4740.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2187484556212762324</id><published>2008-08-20T15:11:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T15:15:09.048+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Daur Ulang Anorganik, Timbal Balik Perusahaan - Masyarakat</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tulisan ini lahir setelah aku omong-omong dengan salah satu kawan. Lebih dari setahun lalu aku ngobrol dengan dia tentang daur ulang sampah anorganik. Ini saripatinya.  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pembuatan kerajinan dari bahan-bahan bekas, seperti bekas bungkus minyak goreng dan mie instan sedang naik daun. Bisa dibuat dompet, payung, dan hiasan-hiasan yang lain. Luar biasa karya kerajinan daur ulang warga, terutama para ibu. Dan nilai jualnya lumayan juga. Mungkin karena prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle sedang naik dauni tengah hangatnya isu sampah di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri membeli satu buah dompet yang bahan asalnya bungkus mie instan. Jahitannya rapi dan tampak unik. Aku menunjukkan itu pada salah satu kawanku. Aku memuji-muji dompetku itu sebagai karya peduli lingkungan yang dipersembahkan kaum ibu. Lantas apa komentarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya aku nggak setuju adanya jahit-menjahit barang-barang bekas. Aku menghargani karya ibu-ibu. Mereka sangat tulus dalam berkarya demi menyelesaikan masalah sampah di kota ini. Tapi aku khawatir, masyarakat lebih tertarik menyelesaikan permasalahan sampah lewat jalur anorganik sedangkan yang organik dibiarkan. Padahal penyelesaian sampah organik seharusnya jadi prioritas. Sampah organik, apalagi sampah dapur, mengundang lalat dan kalau tidak diselesaikan, akan ada masalah-masalah kesehatan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung ingat kondisi tempat Penampungan Akhir (TPA) sampah Benowo, satu-satunya TPA di Surabaya. Karena tidak dikelola dengan baik, mencemari areal sekitar sehingga para petani ikan di sekitarnya tidak bisa panen optimal. Sampah di Surabaya, sekitar 70 persen adalah sampah organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini tengaraku, Vit. Mudah-mudahan tidak terjadi. Orang cenderung tertarik dengan hal-hal yang bisa memberi keuntungan finansial jauh lebih tinggi. Jangan-jangan nantinya, popularitas pengelolaan sampah anorganik lebih tinggi dibanding sampah organik. Padahal yang organik itu , menurut kondisi Surabaya, urgen diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, aku mikir lagi. Memang, faktanya, telah bertahun-tahun kantorku bersama warga sekitar mengelola sampah organik rumah tangga. Hasil komposnya dalam hitungan ton per bulan. Namun kalau keuntungan dihitung secara finansial, yaaaaa, gitu deh. Kalau niatnya cari keuntungan, mendingan kantorku cari bidang lain. Nggak usah susah-susah utak-atik sampah organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau yang dicari keuntungan non materi, jelas melimpah. Kesadaran dan kesehatan warga lebih baik. Modal sosial di warga juga tumbuh pesat. Tapi yang non materi seperti ini seringkali tidak dihitung. Orang sering mengabaikan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal sampah anorganik itu, aku jadi ingat kawanku Arief. Setahun lalu membawa payung yang bahannya adalah bekas bungkus pewangi cucian. Dia membelinya dengan harga Rp 100.000. Aku sendiri pernah membeli celengan sederhana yang dirakit dari botol air mineral plus bungkus mie instan. Harganya Rp 6000. Kata yang empunya barang dagangan, kawanku sendiri, bahan dasarnya tidak lebih dari Rp 1000. Ia juga menjual pula dompet dari bungkus-bungkus kopi. Satu dompet dihargai Rp 15 ribu. Bahan dasarnya tidak lebih dari 7000. Dagangan-dagangannya laris manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu-ibu di Surabaya sekarang banyak yang giat mendaur ulang bungkus sabun cuci, mie instan, minyak goreng dll. Itu artinya, perusahaan mie instan, sabun cuci, minyak goreng, dan lain-lain juga diuntungkan dengan kondisi ini. Padahal semestinya tanggung jawab utama untuk mendaur ulang, ada pada perusahaan-perusahaan tersebut. Harusnya, partisipasi masyarakat di bidang lingkungan hidup ini dihargai perusahaan. Banyak cara perusahaan untuk menghargai partisipasi masyarakat ini. Aku pernah nulis opini di media massa besar untuk pemikiranku ini. Aku punya jalan keluarnya. Bagaimana agar ada timbal balik yang adil antara perusahaan dan masyarakat sehubungan dengan masalah daur ulang ini. Tapi nggak dimuat. Kata redakturnya, tulisanku kelewat keras,” ujar kawanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm, biarpun wajahmu tampak nggak cerdas, otakmu encer juga ya,” ujarku mencandainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2187484556212762324?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2187484556212762324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2187484556212762324' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2187484556212762324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2187484556212762324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/daur-ulang-anorganik-timbal-balik.html' title='Daur Ulang Anorganik, Timbal Balik Perusahaan - Masyarakat'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2974847707432592559</id><published>2008-08-20T14:39:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T15:10:40.129+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Mencangkul demi Tirakatan Malam 17 Agustus</title><content type='html'>Tanggal 16 Agustus 2008 pagi sampai menjelang siang, aku harus kerja bakti sendirian, membersihkan rumput-rumput liar di petak berem depan dan samping rumah. Suamiku ke Gresik sejak pagi-pagi sekali. Katanya dia jadi official pertandingan persahabatan futsal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku &lt;em&gt;ngguethuuuu &lt;/em&gt;(apa ya kalau dibahasaindonesiakan. Mungkin konsentrasi penuh) bersih-bersih karena nanti malam, jalan depan rumahku persis dipakai tirakatan tujuh belasan. Oh ya, rumahku adalah rumah pojok. Tiga rumah pojok lain juga melakukan aktivitas yang sama denganku pagi itu. Mereka berpikiran sama. Malu dianggap jorok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kubanding-bandingkan di antara empat rumah pojok yang beremnya punya rumput paling gondrong, ya rumahku. Berem di samping rumahku pun tak kalah gondrong rumputnya. Padahal, sampai tahun lalu, berem samping rumahku jadi kebanggaan karena tampak terawat. Banyak tanaman obat keluarga yang kutanam di situ. Para tetangga bisa memanfaatkannya. Itu juga mengilhami mereka untuk berbuat yang sama di halamannya. Entah kenapa semangat kami, tahun ini lagi redup. Alasannya, semakin banyak kerja. (Apa iya, sih?)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai menjelang siang, kerjaanku macul belum juga kelar. Rencananya macul depan dan samping rumah. Tapi separuhnya saja belum ada. Lama nggak olahraga, napasku terengah-engah terus. Kerja rasanya lambaaaat banget. Ya sudah, inilah akibatnya kalau baik aku maupun suamiku nggak mau membersihkan rutin. Akhirnya aku stop pekerjaan itu menjelang dhuhur, karena aku harus ke Ngagel Madya, menengok adikku yang mau babaran.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Kendati capek, kerjaan macul pagi hingga siang itu, cukup menghiburku. Soalnya, aku ingat ada yang pernah omong begini: Cangkullah ladang hatimu. Gemburkan hatimu. Cabuti rumput-rumputnya yang tak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kalau kita abai memelihara ladang hati kita, akibatnya memang fatal. Nantinya, kalau kita ingin membersihkan, akan memakan waktu karena memang banyak yang harus dibersihkan. Banyak energi yang terserap. Dan pastinya, kita akan capek dan mungkin habis stamina.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2974847707432592559?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2974847707432592559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2974847707432592559' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2974847707432592559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2974847707432592559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/mencangkul-demi-tirakatan-malam-17.html' title='Mencangkul demi Tirakatan Malam 17 Agustus'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-3387837257142631487</id><published>2008-08-16T00:20:00.001+07:00</published><updated>2008-08-16T00:20:59.276+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>“Bunda, Katanya Makanan Sehat, Kok Pakai MSG?”</title><content type='html'>Peristiwa menggelikan terjadi di sebuah kampung padat penduduk beberapa waktu lalu. Ada panggung yang memenuhi jalan. MC bercuap-cuap promosi kehebatan suatu MSG. Para ibu dari kampung setempat berjoged-joged memakai aksesoris bungkus MSG yang diproduksi sebuah perusahaan multinasional terkenal. Ada yang pakai kalung, rompi, topi. Meriah sih suasananya, tapi aku nggak sreg.. Apalagi yang dipromosikan adalah MSG sebagai bahan campuran untuk memasak. Padahal, tahu sendiri, kan, bagaimana dampak MSG untuk kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh perusahaan multinasional tersebut, MSG dipromosikan melalui lomba memasak makanan sehat. Ibu-ibu kampung mengikuti lomba. Masing-masing mengeluarkan resep andalan. Tapi syaratnya, masakan tersebut harus ditambahi MSG produksi perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, kata Bunda makanan sehat itu nggak pakai MSG, kok di sini boleh pakai?” celetuk salah satu bocah yang menyaksikan acara tersebut pada bundanya. Kulihat sang Bunda yang menyaksikan lomba senyum-senyum mendengar kekritisan buah hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung yang dipakai berpromosi merupakan kampung yang baru saja memenangi penghargaan kampung hijau dan memperoleh beberapa juta sebagai hadiahnya. Yang bikin lomba kampung hijau itu, juga perusahaan yang memproduksi MSG tersebut dan kini sedang naik daun. Perusahaan itu bebas bergerak ke mana saja dan seolah bisa berafiliasi dengan siapa saja termasuk aparat pemerintahan. Sehingga, ketika ingin sebuah kampung menjadi target promosi, ia nggak kesulitan. Pak lurah saja nggak berani menampik, apalagi Pak RW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada warga yang bilang bahwa demi menjahit topi, kalung, rumbai-rumbai, dan aksesoris pendukung promo MSG tersebut, warga mengeluarkan uang pribadi untuk membeli MSG itu demi mendapatkan bungkus-bungkusnya. Bisa dibayangkan berapa bungkus yang mereka beli demi aksesoris sekali pakai itu. Apa dampaknya? Pertama, bikin sampah anorganik tambah banyak. Kedua, isi dari MSG tersebut, dikemanakan? Dibuang atau dipakai? Kalau dibuang, ibu-ibu seperti membakar duit sendiri. Kalau dipakai, berisiko terhadap kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah keputusan warga ini merupakan keputusan yang didasari sikap dan perilaku ramah lingkungan? Padahal kampung tersebut baru saja memenangi kampung hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dan setelah peristiwa promo MSG tersebut, pro dan kontra terjadi di kalangan warga. Biarlah mereka berefleksi tentang makna kedaulatan sebuah kampung. Biarlah mereka memutuskan tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka lakukan. Untuk sampai pada kedaulatan penuh memang tidak gampang. Butuh pertengkaran-pertengkaran. Butuh adu argument. Butuh akal sehat. Dan yang paling penting, butuh nurani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-3387837257142631487?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/3387837257142631487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=3387837257142631487' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3387837257142631487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3387837257142631487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/bunda-katanya-makanan-sehat-kok-pakai.html' title='“Bunda, Katanya Makanan Sehat, Kok Pakai MSG?”'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-8712290671012972395</id><published>2008-08-16T00:19:00.000+07:00</published><updated>2008-08-16T00:20:06.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Tamu-Tamu Diajari Buang Sampah Ditempatnya</title><content type='html'>Kantorku banyak menerima tamu, terutama agen atau calon agen pemberdaya masyarakat yang ingin belajar ilmu pengomposan. Mereka bisa belajar banyak hal di kantorku setiap Rabu atau Sabtu karena dua hari itu kami open house, membuka sharing dengan siapa pun. Silakan menengok rumah pengomposan kami dan bertanya apa pun, baik tentang teknologinya, maupun pengorganisian masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tamu yang datang berombongan, kami juga menerima mereka untuk sharing pengalaman. Mereka tidak saja berasal dari Surabaya, namun dari berbagai kota di Indonesia, termasuk dari luar negeri segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kami tertawa geli. Katanya ingin jadi agen pemberdaya masyarakat dan belajar mengatasi masalah sampah, namun diri sendiri masih memiliki perilaku nyampah. Setelah minum air mineral, misalnya, tidak berinisiatif membuangnya di tempat sampah. Sampah-sampah bekas minuman dan makanan dibiarkan saja tergeletak di pendopo dan mereka pulang tanpa sungkan. Kami sebagai tuan rumah yang bersih-bersih sampah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padahal kami menyediakan 3 bak sampah besar-besar di dekat pendopo. Satu untuk sampah organik, satu untuk sampah plastik, satunya lagi untuk sampah kertas. Tapi tetap saja hati mereka nggak tergerak. Wah, bagaimana mungkin bisa memberdayakan orang lain kalau diri sendiri belum mau berdaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami pun rutin mengingatkan para tamu bahwa sebelum pulang, wajib hukumnya untuk  menaruh sampah-sampah yang mereka hasilkan di tempat sampah yang telah disediakan. Mereka tidak tersinggung apalagi marah, malah mengangguk-angguk maklum. Bagaimana pun perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Iya kan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-8712290671012972395?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/8712290671012972395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=8712290671012972395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8712290671012972395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8712290671012972395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/tamu-tamu-diajari-buang-sampah.html' title='Tamu-Tamu Diajari Buang Sampah Ditempatnya'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-287264059249959856</id><published>2008-08-16T00:16:00.000+07:00</published><updated>2008-08-16T00:19:08.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips Organik'/><title type='text'>Go Organic 1: Kenapa Harus Menanam Sayur di Kebun Sendiri?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKW6ZIw880I/AAAAAAAAAC0/KH95KOpL8os/s1600-h/oraganik.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKW6ZIw880I/AAAAAAAAAC0/KH95KOpL8os/s400/oraganik.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234795082900370242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menanam sayur sendiri? Pengin, tapi aku nggak punya lahan kebun. Begitu kata banyak orang. Padahal, sayuran bisa tumbuh di pot. Nggak percaya? Lihat foto ini. Aku mengambil foto hasil karya sayuran dalam pot yang ditanam kawan-kawan di Wana Patria, Blitar. Sebaiknya, kita menanam sayuran yang kita konsumsi, karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► Kita tidak tahu dari mana asal sayuran yang kita makan. Membelinya di pasar atau supermarket, hasilnya sama saja. Kita tak tahu apakah sayuran itu tanpa atau mengandung pestisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► Mungkin kita membeli sayuran dengan label organik. Tapi apakah sayuran itu benar-benar organik atau setengah organik? Bisa saja benihnya memang organik. Tapi lingkungan tempatnya bertumbuh, sebagian besar mengembangkan budidaya sayuran non organik. Nah, apa nggak ketularan, tanaman sayuran yang katanya organik itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► Mengembangkan kebun organik akan menghemat belanja. Paling tidak pengeluaran untuk membeli sayuran bisa ditekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► Berkebun itu rekreasi dan olahraga yang mengasyikkan. Tidak saja badan, pikiran pun menjadi sehat bila kita dekat alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► Bila  bersahabat dengan alam, kita melestarikan tanah, tumbuhan, dan hewan-hewan yang diberikan semesta untuk kepentingan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, sayuran apa yang sebaiknya kita tanam? Tentu saja:&lt;br /&gt;1. Sayuran yang disukai oleh keluarga.&lt;br /&gt;2. Sayuran yang cukup mahal untuk dibeli&lt;br /&gt;3. Sayuran yang susah didapatkan di pasar atau supermarket&lt;br /&gt;4. Sayuran yang tidak memerlukan lahan luas dan cocok dengan udara lingkungan kebun kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-287264059249959856?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/287264059249959856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=287264059249959856' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/287264059249959856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/287264059249959856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/go-organic-1-kenapa-harus-menanam-sayur.html' title='Go Organic 1: Kenapa Harus Menanam Sayur di Kebun Sendiri?'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKW6ZIw880I/AAAAAAAAAC0/KH95KOpL8os/s72-c/oraganik.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-8942865709557845121</id><published>2008-08-16T00:12:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T14:34:02.080+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips Organik'/><title type='text'>Go Organic 2: Beda Sayur Organik dan Non Organik</title><content type='html'>Sayuran organik ditanam sesuai kaidah-kaidah alam. Sedangkan sayuran non organik umumnya ditanam untuk memenuhi permintaan pasar. Berikut ini beda keduanya:&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://smg.photobucket.com/albums/v54/rozack/?action=view&amp;amp;current=tabel2.gif" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v54/rozack/tabel2.gif" alt="tabel2" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-8942865709557845121?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/8942865709557845121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=8942865709557845121' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8942865709557845121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/8942865709557845121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/go-organic-2.html' title='Go Organic 2: Beda Sayur Organik dan Non Organik'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-3762450454074522156</id><published>2008-08-16T00:08:00.000+07:00</published><updated>2008-08-16T00:12:14.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips Organik'/><title type='text'>Go Organic 3: Sintetis dan Bahan Bakar Fosil</title><content type='html'>Banyak risiko yang akan kita peroleh seandainya kita berkeras untuk memakai pupuk sinetis. Tidak hanya mencemari tanah, meninggalkan risidu sintetis pada sayur, dan buah-buahan, namun pembuatan pupuk sintetis mengurangi persediaan bahan bakar fosil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kita tahu, bahan bakar fosil jumlahnya sangat terbatas di bumi. Sebagai gambaran, untuk membuat satu ton pupuk nitrogen saja, kita perlu sejumlah energi yang dilepas dari 5 ton batubara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk kimia juga meracuni air tanah yang kita konsumsi sehari-hari. Bayangkan, apa yang terjadi bila tubuh kita tercemar racun kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambahkan materi-materi semacam pupuk nitrogen non organik untuk tanah cenderung menghancurkan materi organik yang terkandung dalam tanah. Tanah menjadi tidak subur dan meningkatkan kecenderungan erosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem yang alami, nutrisi-nutrisi tanaman berasal dari daur ulang dan pengolahan bahan-bahan organik di tanah. Pupuk kimia hanya akan membuat sampah organik tidak lagi penting untuk didaur ulang untuk lahan produktif. Pada gilirannya, ini menimbulkan perilaku untuk menumpuk saja sampah-sampah kita pada lahan kosong, atau membuangnya di sungai (menyebabkan polusi air), atau membakar (menyebabkan polusi udara). Padahal, kita semestinya mencoba untuk bijak dalam hal pemakaian pupuk untuk kebun organik kita. Caranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian di atas sebaiknya sebaiknya kita:&lt;br /&gt;o Meminimalkan pemakaian energi bahan bakar fosil&lt;br /&gt;o Mendaur ulang sampah organik untuk kebun organik&lt;br /&gt;o Tidak menyebabkan polusi&lt;br /&gt;o Memberi nutrisi pada tanaman pada saat tanaman membutuhkan.&lt;br /&gt;Mengupayakan tanah kebun kita memelihara keutuhannya sebagai zat organik penyangga kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-3762450454074522156?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/3762450454074522156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=3762450454074522156' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3762450454074522156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/3762450454074522156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/go-organic-3-sintetis-dan-bahan-bakar.html' title='Go Organic 3: Sintetis dan Bahan Bakar Fosil'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-2079378065330626537</id><published>2008-08-15T01:17:00.001+07:00</published><updated>2008-09-07T11:31:28.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Bakteri Cairnya Pusdakota dan Molnya Pak Sobirin</title><content type='html'>10 Agustus. Ini hari Minggu tapi aku harus piket di kantor. Di tengah kesepian, aku kepikiran menanam padi di pot. Sudah lama sih, kepikirannya. Sejak aku lihat padi dalam potnya Mas Nono dan Mas Albert (tim Wana Patria Blitar) beberapa bulan lalu. Wah, padinya panjang-panjang dan bagus. Pasti lumayan bila halaman rumahku punya padi dalam pot, seperti yang ada di kebun Wana Patria.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKR4z_v-SNI/AAAAAAAAACc/iDo-89DVGjE/s1600-h/Bakteri-cairnya-Pusdakota.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234441501592668370" style="FLOAT: right; MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; CURSOR: pointer" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKR4z_v-SNI/AAAAAAAAACc/iDo-89DVGjE/s400/Bakteri-cairnya-Pusdakota.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dulu-dulu cuma kepikiran tapi hari ini pengiiiin banget. Apalagi aku juga barusan buka blognya Pak Sobirin &lt;a href="http://www.clearwaste.blogspot.com/"&gt;(www.clearwaste.blogspot.com&lt;/a&gt;) dari Bandung. Dia tanam padi di pot dengan metode System Rice Intensification (SRI). Aku sempat juga tahu metode ini pas riset di perusahaan rokok terbesar negeri ini. Dari satu bulir padi saja, anakannya, bisa lebih dari 100. Aku juga sempat tertarik metode ini. Tapi, lagi-lagi cuma kepikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau terus kepikiran, kapan bisa maju? Nah! Aku harus mulai. Aku akan mengembangbiakkan bakteri cair dulu. Nantinya bakteri itu akan kupakai sebagai pupuk cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kulkas kantor ada yogurt, tempe, dan tape. Aku ambil tape dan beberapa tetes yogurt. Ada gula yang tinggal sedikit kuambil juga. Tapi tempenya nggak kuambil. Lantas aku membeli terasi dan gula. Harusnya aku nggak beli gula. Air tebu di pinggir jalan cukup. Tapi lagi malas keluar jauh-jauh. Jadi kubeli gula satu kilo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantorku, Pusdakota, rutin bikin bakteri cair / native microorganism untuk keperluan sanitasi dan pengomposan. Bakteri cair ala kantor kami telah kami tularkan pembuatannya ke mana-mana – sampai ke Sumatra dan Kalimantan segala. Memang, sesungguhnya kita nggak usah beli mikroorganisme komersial. Di sekitar kita telah tersedia bahan-bahan untuk membuatnya. Bahannya ya itu tadi: Tape, tempe, yogurt, air gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakteri cair tersebut oleh Pak Sobirin disebut MOL. Mikroorganisme Lokal. Dari Pak Sobirin aku juga dapat ilmu, terasi bisa dipakai MOL. Pak Sobirin mencampur antara tape dan terasi, lantas ditambahkan air. Kalau kantorku biasa pakai tempe, tape, yogurt, air tebu. Aku coba gabungkan saja keduanya, siapa tahu berhasil. Aku pakai cara yang anaerob. Usai membuat, drum kandidat bakteri cairku aku tutup rapat dengan plastic agar bisa terfermentasi. (Aku kepikiran juga, Pak Sobirin kayaknya membuka botol air mineral yang berisi MOL. Apa aku salah baca? Kenapa ya? Mungkin aku harus tanya pada beliau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bikin MOL, aku telepon kawanku di Wana Patria Blitar Mas Nono tentang tatacara membenih yang baik. Oh, ternyata lain dengan cara Pak Sobirin membenih. Baiklah, aku akan praktikkan keduanya. Mana yang lebih baik akan ketahuan kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOL kuperkirakan bisa kupakai 4 hari lagi. Maka, 3 hari lagi aku harus mulai membenih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selesaikan pekerjaanku dengan pencatatan untuk keperluan penelitian kecil-kecilanku ini. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-2079378065330626537?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/2079378065330626537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=2079378065330626537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2079378065330626537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/2079378065330626537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/bakteri-cairnya-pusdakota-dan-molnya_14.html' title='Bakteri Cairnya Pusdakota dan Molnya Pak Sobirin'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKR4z_v-SNI/AAAAAAAAACc/iDo-89DVGjE/s72-c/Bakteri-cairnya-Pusdakota.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6686023735602019394</id><published>2008-08-15T01:16:00.001+07:00</published><updated>2008-08-15T01:16:53.569+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Bayi Padi Naik Pick-up</title><content type='html'>10 Agustus. Dari dalam kantor aku tak sengaja memandang keluar. Aku lihat pick-up-nya arek-arek Pusdakota sepertinya berisi tanaman hijau kecil-kecil. Mungkin bibit tanaman hias, pikirku. Kantor kami memang membibit banyak tanaman, baik toga maupun tanaman hias. Kami memiliki divisi eco-office: sebuah divisi yang menggalang gerakan cinta lingkungan hidup lewat kantor. Staf Eco-office Pusdakota tidak hanya merawat tanaman agar kantor semakin hijau, tapi juga melakukan monitoring pemakaian energi di kantor, mendaur ulang sampah kantor, mengurus makanan sehat, sampai membuat peraturan untuk hemat pemakaian kertas. Kalau ngeprint harus bolak-balik. Amplop bekas harus dipakai. Pokoknya, tugasnya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRyEWX7JNI/AAAAAAAAACE/6IEUgC2P6mk/s1600-h/bayi-padi-naik-pickup.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRyEWX7JNI/AAAAAAAAACE/6IEUgC2P6mk/s320/bayi-padi-naik-pickup.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234434085962327250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku penasaran dan keluar. Ya ampun, bibit padi dalam nampan-nampan segi empat. Baby Rice di atas pickup. Lucu-lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Mbak, mereka ini masih baby sudah keliling-keliling naik pick-up,” kata Devi padaku, cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutanya pada Devi dan Heri yang membibit, usianya masih dua minggu. Mereka membibit padi jenis lokal itu, untuk ditanam di petak-petak sawah di sekitar Rungkut. Sore itu Devi, Heri, dan Anton mau turun ke sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa hasil karya kawan-kawanku ini. Mereka benar-benar prihatin nasib petani. Mereka tak kenal lelah mengajak para petani untuk kembali ke cara-cara alami. Untuk bertanam secara organik. Satu atau dua petani yang mau ikut, itu bagus, daripada tidak ada sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, wow, kawan-kawan yang aneh. Mereka mau turun ke sawah, tapi pakai celana jeans dan baju bagus. Untuk menghormati Dewi Sri, ibu bumi, barangkali, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu hari libur. Anak-anak muda ini akan melewatinya di sawah. Demi saudara-saudaranya yang menderita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6686023735602019394?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6686023735602019394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6686023735602019394' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6686023735602019394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6686023735602019394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/bayi-padi-naik-pick-up_14.html' title='Bayi Padi Naik Pick-up'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRyEWX7JNI/AAAAAAAAACE/6IEUgC2P6mk/s72-c/bayi-padi-naik-pickup.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-4328494488931966402</id><published>2008-08-15T01:14:00.001+07:00</published><updated>2008-08-15T01:14:35.527+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Sudah Dua Minggu Masih Segar</title><content type='html'>Dua minggu lalu aku dikasih Suba sayuran organik dari kebun Rumah Belajar Kearifan Lingkungan, Wana Patria Blitar. Dua kilo. Sawi daging hijau, sawi daging putih, dan Kailan. Orang serumah: Aku, suamiku, dan Budheku paling doyan sayur organik. Rasanya lebih nikmat. Kremes-kremes karena kumasak setengah matang. Nggak sampai ngendon di kulkas selama tiga hari, biasanya langsung habis.&lt;br /&gt;Tapi kali ini aku sibuuuuuuk banget. Nggak sempat masak di rumah. Sayuran baru habis kira-kira sekilo. Yang sekilo masih ngendon di kulkas. Bisa dibayangkan, dua minggu masih disimpan. Seperti apa? Layukah? Ternyata tidak. Masih bugar. Ya, inilah beda antara sayur non organik dan sayur organik. Yang organik lebih awet. Lebih sehat. Ditanam dengan kasih sayang oleh tim Wana Patria Blitar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-4328494488931966402?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/4328494488931966402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=4328494488931966402' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4328494488931966402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/4328494488931966402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/sudah-dua-minggu-masih-segar_14.html' title='Sudah Dua Minggu Masih Segar'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-1643176200128052355</id><published>2008-08-15T01:01:00.000+07:00</published><updated>2008-08-15T21:55:49.152+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Anak-anak Lebih Suka Makan Snack</title><content type='html'>Ini survey kecil-kecilanku bersama Nita, rekan sekantor, tentang kegemaran anak-anak makan snack dalam kemasan. Kami melihat anak-anak yang tinggal di dekat kantor Pusdakota paling suka snack seharga Rp 500-an. Kata mereka, rasanya gurih. Ibu-ibu mereka sering mengeluh satu sama lain, anak-anak nggak suka makan nasi. Setiap hari minta jajan snack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, padahal ibu-ibu setahuku punya banyak kreasi menu. Apalagi negara kita kaya hasil-hasil pertanian. Pastinya makanan pun aneka ragam dan sehat-sehat. Tapi ya itu tadi, tetap saja anak-anak di sekitar kantorku lebih suka ngemil snack dalam kemasan. Ibu-ibunya, kami tanya tentang kandungan gizi dan bahaya snack dalam kemasan mengaku tidak tahu. Mereka tidak tahu, MSG sintetis di dalamnya bisa menyebabkan gangguan kesehatan termasuk bisa memicu kanker. Belum lagi bila ada zat pewarna buatan macam rhodamin B yang warnanya mencolok dan lazim dipakai di industri tekstil. Ini bisa menyebabkan kerusakan hati. Sanck yang beredar di sekitar wilayah Rungkut Lor Surabaya, dari survey kecil-kecilanku bersama Nita, tidak mencantumkan jenis zat pewarna dan pengawet, takarannya, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, pernah ada penyuluhan di pendopo kantorku, untuk para ibu di Rungkut Lor Surabaya. Penyuluhnya, ibu dokter anak (duh, aku lupa namanya). Dia bilang, kalau anak-anak nggak suka makan sayur dan menu-menu yang disajikan ibunya, itu pasti ada sebabnya. Katanya, sejak bayi, mereka sudah diperkenalkan makanan yang manis dan gurih. Jadi, mereka nggak suka makan sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada benarnya. Aku sering lihat, para orangtua kini nggak lagi mau memasak bubur untuk bayinya. Kan ada yang instan. Cepet, mudah, dan murah. Wah, kalau semua orangtua punya sikap seperti itu, perusahaan pemasok pangan instan bisa semakin kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bahan-bahan dari 8 snack yang kami ambil sebagai sampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://smg.photobucket.com/albums/v54/rozack/?action=view&amp;amp;current=tabel.png" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v54/rozack/tabel.png" alt="Photobucket" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKR0OUvQ2SI/AAAAAAAAACU/iwZ4dewITHQ/s1600-h/tabel.png"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-1643176200128052355?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/1643176200128052355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=1643176200128052355' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1643176200128052355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1643176200128052355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/anak-anak-lebih-suka-makan-snack.html' title='Anak-anak Lebih Suka Makan Snack'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-137517037978616441</id><published>2008-08-15T00:58:00.001+07:00</published><updated>2008-08-15T00:59:30.462+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Keranjang Takakuraku Merana</title><content type='html'>8 Agustus 2008. Sudah seminggu aku tidak menengok alat pengomposanku yakni Keranjang Takakura. Alasannya klasik: sibuk. Nggak pernah di rumah. Pagi sudah berangkat, malam baru pulang. Setelah pulang siram-siram tanaman sebentar, nulis-nulis sebenar, makan-makan,  terus tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, nggak bisa dibiarkan begitu. Toleran terhadap diri sendiri itu seringkali menyesatkan. Kini aku sedang toleran terhadap diriku dan aku merasa di ambang kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun pagi-pagi sekali lantas nengok Takakura. Astaga, benar feeling-ku. Takakura merana. Komposnya basah sekali. Waduh, pasti kebanyakan makan jambu. Benar saja. Setelah kutanyakan kenapa Takakura sakit, Budheku bilang, tiga hari lalu memasukkan buah jambu lumayan banyak. Walah, walah…. Ini kali kedua Takakura sakit sejak kupakai tiga tahun lalu. Kalau dulu, aku kebanyakan memasukkan udang ke keranjang itu. Lumayan bau. Lantas aku obati dengan menambahkan bekatul di starternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus kebanyakan makan jambu, aku juga yang salah, nggak ngasih keterangan komplit tentang apa yang bisa dan tidak bisa dimasukkan. Berapa banyak harus dimasukkan. Padahal, aku tahu detail tentang teknologi pengomposan Takakura karena aku kantorku Pusdakota, bersama Pak Takakura, Pak Ishida, dan pihak Pemerintahan Kota Surabaya meriset teknologi pengomposan yang akhirnya dinamakan Keranjang Takakura. Setiap hari aku juga melayani para costumer yang ingin bertanya tentang apa pun yang menyangkut Keranjang Takakura. Ya sudah, diambil hikmahnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu Takakuraku sakit karena kebanyakan makan kepala dan kulit udang mentah, aku lantas mikir bagaimana agar Takakura tidak neg makan sea food. Kali lain, sisa kepala dan kulit udang kubilas dengan air panas sebentar, lantas kubilas dengan air biasa, baru kumasukkan keranjang pengomposan itu. Dan horeeee, berhasil. Tidak berbau. Nah, ketemu rumusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, pun aku harus bisa belajar sesuatu. Kalau dulu aku menambah bekatul di starter, kini aku ingin cara yang lain. Daun jambu, belimbing, dan mangga di halamanku yang sudah coklat karena mengering kukumpulkan, kuremat-remat halus dan kukasukkan dalam starter Takakura dan kuaduk-aduk. Daun-daun  yang sudah mengering, kan banyak mengandung karbon. Takakuraku butuh di-treatment dengan bahan berkarbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Takakuraku berangsur sembuh. Saat aku memberi makan dengan sisa nasi dan daun-daun, Takakura kembali hangat seperti biasanya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-137517037978616441?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/137517037978616441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=137517037978616441' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/137517037978616441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/137517037978616441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/keranjang-takakuraku-merana.html' title='Keranjang Takakuraku Merana'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-1441305150811216947</id><published>2008-08-14T01:12:00.000+07:00</published><updated>2008-08-15T00:48:55.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Persemaian Padiku</title><content type='html'>11 Agustus 2008. Siang hari pukul 13.30 aku mulai memindah 35 benih padi ke tempat persemaian di atas daun-daun yang kuberi tanah basah. Sebanyak 15 butir ada di tempat persemaian A dan 20 butir di persemaian B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRvQPa_esI/AAAAAAAAABs/OOPEXaN5csU/s1600-h/Persemaian-padiku0.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRvQPa_esI/AAAAAAAAABs/OOPEXaN5csU/s320/Persemaian-padiku0.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234430991719692994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nggak pakai bakteri cair karena belum jadi. Lagian, tanahnya sudah mengandung bakteri cair. Dalam berproses aku dibantu Mas Gun kawan sekantorku. Mas Gun.  tanya sedang apa aku dan kujawab, aku lagi praktik menyemai padi. Dia langsung bantu, membawakan gembor dari Graha Kompos di kantor dan ikut menyiram tanah persemaian. Trims Mas.&lt;br /&gt;Aku mulai ragu-ragu dengan persemaianku, benarkah hasilnya akan bagus. Tapi sudahlah, kuserahkan saja pada waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mempersiapkan media tanam untuk padiku. Di gudang kantor aku melihat keranjang bambu agak reot nganggur. Keranjang itu kualasi karung goni. Kedua, ada pot di depan Graha Kompos Pusdakota yang cukup besar dan tak berfungsi. Pada  keranjang goni, aku campur tanah, kompos, blotong (ampas tebu). Pada pot, campuran aku tambahi dengan kotoran kambing yang sudah kering. Beruntung semua bahan tersedia di kantor. Tinggal izin ke Wajib, Bangkit, Ucup, para relawan kantorku yang maniz-maniz. Kedua media tanam itu kusiram sampai lumayan basah. Pakainya masih tujuh hari lagi, sudah disiapkan sekarang. Aku benar-benar bersemangat, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRvc3jQy7I/AAAAAAAAAB0/qrvyMYvIWdQ/s1600-h/persemaian-padiku.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRvc3jQy7I/AAAAAAAAAB0/qrvyMYvIWdQ/s320/persemaian-padiku.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234431208650230706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-1441305150811216947?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/1441305150811216947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=1441305150811216947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1441305150811216947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/1441305150811216947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/persemaian-padiku.html' title='Persemaian Padiku'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3aTCZ2vxUm8/SKRvQPa_esI/AAAAAAAAABs/OOPEXaN5csU/s72-c/Persemaian-padiku0.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7508993909410662408.post-6129533116976772233</id><published>2008-08-14T01:11:00.000+07:00</published><updated>2008-08-14T23:43:49.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah Hijau'/><title type='text'>Anak-Anak Hijau</title><content type='html'>8 Agustus 2008. Di festival kampung hijau, anak-anak kampung di di sekitar kantorku hebat-hebat. Para juri sudah tahu, kampung itu sejak tahun 2000 telah memilah sampah dan mengolahnya. Mungkin mereka ingin tahu juga, apakah “perilaku hijau” benar-benar dibadankan dan dijiwai oleh warga, sampai anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di kantorku menyaksikan adegan yang eksotik. Diam-diam juri dan panitia memberi permen kepada anak-anak. Anak-anak pun berebutan mengambil permen itu. Mereka membuka bungkusnya. Ke mana bungkusnya dibuang? Tidak dijalanan, tapi mereka mencari tempat sampah anorganik di sekitar mereka. Nah, lho, bagaimana dewan juri?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7508993909410662408-6129533116976772233?l=greensavitri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greensavitri.blogspot.com/feeds/6129533116976772233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7508993909410662408&amp;postID=6129533116976772233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6129533116976772233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7508993909410662408/posts/default/6129533116976772233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greensavitri.blogspot.com/2008/08/anak-anak-hijau.html' title='Anak-Anak Hijau'/><author><name>greensavitri</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-qj1lCmGvHnI/TkI1ekR0g_I/AAAAAAAAAK4/YDVEbp7UhyY/s220/vitri%2Balma%2Boke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
